Selasa, 27 Oktober 2020

Profil Tokoh Nasional : Cak Malik (Pemain Kendang OM Lagista)

 

Foto : Cak Malik, Circa 2010

Nama Lengkap : Muhammad Maliki 
Nama Panggung : Cak Malik/Cak Maliq/Mas Malik
TTL : 8 Juni 1989 di Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia
Agama : Islam NU
Zodiak : Gemini
Pekerjaan : Seniman
Instrumen : Kendang & Drum 
Tokoh Idola : H. Chovif (OM Soneta Group)
Makanan Favorit : Perkedel Sayap
Minuman Favorit : Susu Jahe
Status : Kawin
Pasangan Hidup :  Nella Kharisma (2014-2017)
                                 Yuliana Saputri (2020-Sekarang)
Afiliasi :  OM Sagita & OM Scorpio (2009-2014)
                OM Lagista (2014-Sekarang)


Minggu, 18 Oktober 2020

Profil Tokoh Nasional : Safira Inema

 

Nama : Safira Nilam Ariani 
Nama Panggung : Safira Inema  
Nama Panggilan : Nilam
Tahun Aktif : 2017-Sekarang 
Debut Rekaman : 2019-Sekarang
TTL : Tulungagung, Jawa Timur, 8 Januari 2001
Riwayat Pendidikan : SMKN 1 Rejotangan, Tulungagung 
Jurusan : Akuntansi
Pekerjaan : Penyanyi 
Cita-Cita : Menjadi PNS 
Status : Jomblo 
Penyanyi Idola : Nella Kharisma
Musik Kesukaan : RnB
Makanan Favorit : Ote-Ote
Minuman Favorit : Es Legen


 

Sabtu, 10 Oktober 2020

Bangsawan Jawa Masih Memiliki Garis Keturunan Dengan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib

 

Alangkah agungnya gelar seorang manusia yang bernama "Habib" itu.
Habib adalah gelar kebangsawanan untuk sekelompok orang yang masih memiliki garis keturunan Rasulullah Muhammad SAW. Namun, pada kenyataannya banyak orang yang mengaku Habib tetapi perilakunya tidak mencerminkan seorang Habib. 

Habib adalah gelar keningratan untuk orang arab yang berasal dari Yaman, tepatnya berasal dari Kota Hadramaut. Kota Hadramaut merupakan kota kecil yang tidak begitu populer selain ibukota Sana'a yang kini dilanda perang saudara. 

Perlu diketahui Habib merupakan gelar yang dikhususkan untuk lelaki, sedangkan untuk wanita disebut sebaai Syarifah. Namun, garis patriaki lebih kuat sehingga gelar Habib lebih banyak disemat oleh keturunan-keturunan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib. 

Sayyidina Ali Bin Abu Thalib adalah leluhur para Ulama diseluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Banyak keturunan Sayyidina Ali yang sukses menjadi penguasa di Indonesia, khususnya trah keturunan raja-raja Majapahit. 

Bahkan Sultan Demak, Raden Fatah juga memiliki garis keturunan yang tersambung dengan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib. Anak cucunya banyak yang menjadi penguasa dan tidak ayal mereka saling memusuhi demi garis suksesi kekuasaan di tanah jawa, garis keturunan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib merambah ke tanah air lewat raja-raja dan pangeran-pangeran di pulau jawa. 

Otomatis para bangsawan lokal tersebut juga layak di beri gelar Habib, Raden Patah/Sultan Bintoro sang raja Demak adalah seorang Habib meski berdarah Tionghoa dengan nama lahir Tan Eng Hwa dari garis ibundanya yakni Syarifah Tan Eng Kian. Bahkan Raja Kesultanan Pajang, Jaka Tingkir alias Mas Karebet juga merupakan keturunan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib yang segaris dengan Sayyidina Ali Zainal Abidin (Leluhur Kaum Alawiyyin). 

Jaka Tingkir yang terkenal bisa mengalahka kerbau mengamuk itu juga pantas disebut sebagai Habib, bahkan meski kekuasaan Jaka Tingkir sebagai raja di Kesultanan Pajang tidak langgeng tetapi anak cucunya mewarisi ilmu kapandhitan (Ilmu Agama) yang mengalir deras dari trah Jaka Sengara (Adipati Handayaningrat), menantu Prabu Brawijaya.

Tidak ketinggalan juga raja-raja Mataram yang silsilahnya dimulai dari seorang anak selir Prabu Brawijaya bernama Bondan Kejawan. Bondan Kejawan adalah anak termuda yang masa kecilnya disia-siakan oleh bapak kandungnya. 

Bondan Kejawan diasuh oleh seorang petani miskin yang kebetulan tidak punya anak, Bondan Kejawan tumbuh menjadi pemuda yang hebat dalam olah pertanian sehingga membuat ayah angkatnya menjadi kaya raya. Hal ini dikarenakan adanya karomah atas dipungutnya Bondan Kejawan sebagai anak yang notabene masih keturunan Prabu Brawijaya sendiri. 

Bondan Kejawan melahirkan salah satu tokoh terkenal yakni Ki Ageng Getaspendawa yang kemudian menurunkan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo dikenal sebagai pendekar sakti yang mampu menangkap petir. Ki Ageng Selo kemudian memiliki anak lelaki yang bernama Ki Ageng Pemanahan yang menjadi senopati agung Kesultanan Pajang di era kepemimpinan Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir. 

Saat Arya Penangsang memberontak terhadap Kesultanan Pajang, Ki Ageng Pemanahan tampil sebagai aktor dibalik kemenangan putranya' Danang Sutawijaya dalam pertempuran melawan pasukan Kadipaten Jipang Panolan. Keberhasilan Ki Ageng Pemanahan dalam memimpin operasi pemberantasan kudeta Arya Penangsang membuat Jaka Tingkir menganugrahkan tanah perdikan atau tanah hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan. 

Tanah perdikan itu berada disebuah hutan belantara yang masih dihuni hewan buas yang berada di sebelah barat Klaten, yaitu Hutan Mentaok. Kemudian didirikanlah sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Mataram. Awalnya padepokan ini hanya sebagai tempat latihan prajurit Pajang dan menimba ilmu keagamaan mengingat Ki Ageng Pemanahan juga seorang ulama cakap dan berilmu tinggi.

Sayangnya, lama-lama padepokan milik Ki Ageng Pemanahan semakin ramai bahkan menjadi sebuah kota kecil yang lebih permai dibanding alun-alun Kesultanan Pajang. Hal ini membuat Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) resah karena situasi di Kesultanan Pajang tidak seramai biasanya bahkan banyak penduduk yang pindah ke sana. 

Ketika Ki Ageng Pemanahan wafat, Danang Sutawijaya didaulat sebagai pemimpin Padepokan dan juga sebagai Imam Sholat. Di era kepemimpinan Danang Sutawijaya, Padepokan Mataram berubah status menjadi Wilayah Bebas, dalam arti bebas dari kekuasaan apa pun termasuk kekuasaan Kesultanan Pajang. 

Kadipaten Mataram pun saut-saut terdengar hingga ke mancanegara, bahkan Kesultanan Cirebon pun ikut menjadi mitra dagang Kadipaten Mataram dan memutuskan hubungan dengan Kesultanan Pajang. 

Riwayat Kesultanan Pajang semakin meredup saat terjadi perang suksesi antara Mataram dengan Pajang di akhir era pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Sejak saat itu Mataram menjadi pemenang atas pertempuran suksesi yang melibatkan seluruh keturunan raja-raja Majapahit dan keturunan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib. 

Dengan demikian, Mataram menjadi satu-satunya nama yang terdengar sebagai kekuatan terbaik dalam sejarah penguasaan pulau jawa. Mataram menjadi kerajaan yang besar hingga datangnya bangsa Belanda sampai memeranginya.





Kamis, 08 Oktober 2020

Alasan Totok Santoso Keluar Dari Sunda Empire Terjawab, Gara-Gara Rangga Sasana

 

 Foto : Totok Santoso, Dulunya Pengikut Sunda Empire

Sunda Empire mengajarkan saya banyak hal tentang sesuatu yang berhubungan dengan kegilaan.

Alasan saya hengkang dari Sunda Empire, karena saya kerap berdebat dengan Edi Raharjo (Rangga Sasana). Dia berhasil merebut pengaruh Nasri Banks dari saya, makanya saya sering dikecewakan lantaran dia punya wewenang melebihi wewenang saya sendiri.

Rangga Sasana sudah merebut kebahagiaan saya bersama Sunda Empire, dia pandai bermain kata dan memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni. Mengingat dia pernah mendirikan partai politik pada tahun 1998. Kehebatannya menipu seolah tidak ada tandingannya hingga saat ini.

Rangga Sasana bergabung dengan Sunda Empire sejak awal tahun 2018 lalu dan menggeser posisi saya sebagai Perdana Menteri. Saya sering dibuat jengkel dengan omongannya yang kasar, mengingat dia itu orang Brebes yang bahasanya ngapak kental dan jago dalam urusan ilmu agama.

Saya sendiri yang masih mempercayai klenik tidak sependapat dengan Rangga Sasana, saya memutuskan untuk berhenti dari keanggotaan Sunda Empire dan mendirikan Keraton Agung Sejagad sebagai tandingannya. Namun, ditengah jalan malah belum sempat berkibar justru digrebek warga. 

Warga Pogungjurutengah marah kepada saya lantaran Keraton Agung Sejagad belum melunasi gaji-gaji prajurit sehingga dilaporkan ke pihak berwajib dan beginilah nasib saya sekarang. Kehilangan tahta, harta dan juga wanita' saya terpisah kamar dengan istri saya dan sendirian.

Runtuhnya Keraton Agung Sejagad akhirnya merembet ke Sunda Empire yang kabarnya sudah dalam pengawasan Kesbangpol Jawa Barat karena tidak berizin. Sunda Empire merupakan sempalan dari UN Swissindo yang pengikutnya sampai ke Eropa dan Amerika.

UN Swissindo, Sunda Empire & Keraton Agung Sejagad sama-sama ingin bersaing di dunia investasi berbalut keningratan. Tetapi, sebagian masyarakat tidak percaya apa yang saya lakukan untuk merubah nasib mereka jadi lebih baik dari sebelumnya.

Tapi, Illahi Robbi sudah menakdirkan saya untuk gagal jadi penguasa dunia karena memang wahyu keprabon sudah oncat (Pergi) dari diri saya sebelum pengangkatan sebagai Raja Keraton. Saya pasrah jika ini memang jalan hidup saya, saya relakan semuanya demi masa depan nanti.

Rabu, 07 Oktober 2020

Profil Tokoh Nasional : Maaher Atthuwailibi alias Soni Eranata


Nama Panjang : Abdul Aziz Al Bruek/Abu Husein At Thuwailibi
Nama Asli : Soni Eranata 
Nama Panggung : Maaher Atthuwailibi
Nama Samaran : AHAT
Nama Julukan : Al Kadzab/Soni Bunglon
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 14 Juli 1992
Alamat : Ds. Muliorejo, Kec. Sunggal, Kab. Deliserdang, Sumatra Utara
Agama : Islam
Aliran : Salafi/Wahabi
Ideologi Aliran : Talafy
Pekerjaan : Ulama
Status : Kawin
Riwayat Pendidikan : Ponpes Ma'had Jamilurrahman, Yogyakarta
Partai Politik : Hizbut Tahrir 
Tokoh Idola : Muhammad Bin Abdul Wahab