Rabu, 30 Desember 2020

Hal Yang Harus Kamu Ketahui Dari Seorang " Ustadz Haikal Hassan Al Barras"

Foto : Haikal Hassan Al Barras

01. Bekerja Sebagai Seorang Konsultan Keuangan

Haikal Hassan dikenal sebagai seorang konsultan keuangan sejak usianya masih muda, ia memulai karir sebagai seorang konsultan sejak tahun 1986. Ia bekerja dengan kemampuan akademiknya yang diperoleh dari ITB Bandung. 

02. Lulusan Fakultas Tehnik Sipil

Pernah kuliah di Malaysia, tepatnya di UTM' Haikal Hassan ternyata mengambil jurusan Tehnik Sipil di ITB sebelum hijrah ke Jeddah, Arab Saudi. Sayangnya ia drop out dari ITB karena harus sibuk mengurus pekerjaannya sebagai dosen fakultas Matematika.

03. Pendiri Lembaga Bimbingan Konseling & Kursus Matematika

Pada tahun 1986 ia mendirikan lembaga pendidikan konseling yang diberi nama PT Anugrah Aljabar Selaras, perusahaan ini tidak hanya bergerak di bidang pendidikan konseling tapi juga bergerak di bidang kursus matematika dengan jumlah murid sekitar 800 orang.

04. Cucu Ulama Nahdlatul Ulama, Syekh Ali Al Barras

Suka tidak suka, Haikal Hassan ternyata merupakan cucu seorang cucu ulama terkenal yakni Syeikh Ali Al Barras yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama. Anehnya, Haikal Hassan tidak mengikuti jejak kakeknya sebagai warga Nahdlatul Ulama. Melainkan, Haikal Hassan ikut menjadi anggota Syiah selama 2 tahun sebelum keluar akibat tidak kuat melakukan kawin kontrak/mut'ah.

05. Bukan Lulusan Pondok Pesantren

Meski mengklaim diri sebagai seorang ustadz, Haikal Hassan ternyata bukan lulusan pesantren mana pun. Ia belajar Al Qur'an secara privat dengan seorang ulama bernama Ustadz H, Muchtar dan melakoni tehnik membaca secara otodidak tanpa teori qiroati. Sehingga tidak heran bacaan ayatnya terlihat belepotan bahkan anak TPQ saja masih lebih hebat dibanding Haikal Hassan sendiri.

*****

Minggu, 20 Desember 2020

Profil Tokoh Nasional : H. Edy Mulyadi (Wartawan FNN & Politisi PKS)


Nama : Hermanus Edward Moeljadi 

Nama Samaran : Haji Edy Mulyadi 

TTL : Jakarta, 8 Agustus 1966 

Pekerjaan : Wartawan 

Pekerjaan Sebelumnya : Ustadz/Mubaligh 

Almamater : LIPIA 

Agama : Katholik Roma (Sekarang Islam) 

Aliran : Salafy

Status : Kawin

Makanan Favorit : Sup Kadal Mesir

Minuman Favorit : Royal Platinum Gin Free Mixer & Snack

Buku Favorit : Jokowi Undercover

Sabtu, 19 Desember 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Sakitnya Prabu Wicitrawirya

 

 
Sepulang dari kahyangan, Pandu dan Destarastra dijemput oleh Bhisma Dewabrata.
Mereka berdua diminta untuk pulang karena keluarga sudah lama menanti.
Mereka pun pulang dengan gembira setelah tugas menumpas musuh kahyangan selesai dilakukan.
 
Cerita berganti saat Pandu dan Destarastra sudah berada di Hastina.
Prabu Wicitrawirya sangat rindu dengan Destarastra, mengingat sebagai putra mahkota ia harus berada disamping raja.
 
Destarastra terhitung seorang putra mahkota yang diharapkan akan menjadi raja.
Pengukuhan Destarastra sebagai calon raja sepertinya ada yang keberatan.
Para menteri yang menilai Destarastra menganggap putra Prabu Wicitrawirya itu tidak memenuhi syarat sebagai raja. Namun, Prabu Wicitrawirya tidak bisa mencabut keputusannya yang terlanjur mengangkat Destarastra sebagai putra mahkota.
 
Dalam suatu pertemuan, para menteri melakukan diskusi mengenai sabda raja atas status Destarastra yang dianggap tidak layak menjadi putra mahkota.
Kerajaan Hastina merupakan kerajaan yang besar, kuat dan berdaulat. Menurut mereka, mana mungkin orang cacat netra bisa menjadi raja dan sepertinya perlu dipertimbangkan lagi.
 
Prabu Wicitrawirya sadar putranya dinilai tidak pantas memenuhi kriteria sebagai calon raja.
Pengumuman diangkatnya Destarastra sebagai putra mahkota membuat rakyat terheran-heran. Sebab, Prabu Wicitrawirya telah menunjuk putra semata wayangnya menjadi penerus tahta meski tunanetra.
 
Rakyat seakan tidak mengindahkan keputusan Prabu Wicitrawirya. Rakyat malah lebih ingin adanya perubahan karena Hastina adalah negara yang kekuatan militernya paling ditakuti seantero Tanah Hindustan.
 
Prabu Wicitrawirya diambang kebimbangan, ia sampai-sampai bertemu Bhisma Dewabrata untuk mencari cara agar Destarastra bisa menjadi putra mahkota walau cacat netra.
Bhisma mengusulkan sebaiknya Destarastra ditangguhkan dulu statusnya sebagai atmajendra.
 
Mengingat rakyat merasa tidak setuju dengan keputusan Prabu Wicitrawirya mengangkat putra satu-satunya itu sebagai calon raja selanjutnya.
 
Lantas Bhisma Dewabrata segera mendatangi Saptaarga guna menemui Wasi Dipayana untuk dimintai sesuatu. Sesuatu itu adalah keputusan yang tepat, karena meski Bhisma lebih tua dibanding Wasi Dipayana tetapi secara keilmuan justru lebih baik dibanding Bhisma itu sendiri.
 
Dalam pertemuan itu Wasi Dipayana dan Pandu diajak berbicara mengenai bagaimana agar para menteri setuju atas sabda raja tentang status Destarastra.
 
Pandu terhitung sebagai calon senapati agung berpendapat bahwa Destarastra berhak memimpin negara karena sebagai saudara tertua.
Namun, bagi Wasi Dipayana' usia yang lebih tua tidak menjamin bisa meneruskan tahta kerajaan.
 
Banyak putra mahkota yang gagal menjadi raja dan justru yang menjadi raja selanjutnya adalah putra menantu. Bahkan ada juga adik kandung raja yang mampu memperoleh tahta meski tidak dianggap cocok sebagai raja. Wasi Dipayana memastikan keputusan Prabu Wicitrawirya sudah matang untuk dikukuhkan secara resmi di depan rakyat.
 
Wasi Dipayana menyarankan Bhisma untuk tetap mengawasi perkembangan di Hastina.
Walau begitu, Wasi Dipayana mewanti-wanti kalau nanti terjadi apa-apa di Hastina.
Bhisma pun siap melakukan segalanya demi menjaga tahta Hastina. 
 
Wasi Dipayana memohon agar selalu menjaga Destarastra dan Pandu karena kedua pangeran itu merupakan masa depan bagi bangsa.
 
Bhisma akan sekuat tenaga menjadi pelindung Hastina sebab ia dulunya merupakan putra mahkota Hastina namun mengalah demi membahagiakan adik-adiknya.
 
Cerita kembali ke Hastina, dimana suasana di dalam istana mulai berubah.
Suasana yang semula damai tentram kini menjadi penuh tanda tanya. Prabu Wicitrawirya yang setiap hari memikirkan nasib anak semata wayangnya, Destarastra mulai kehilangan rasa nikmatnya sebagai raja.
 
Gundah gulana makin menjerat jiwanya, ia merasa tidak mungkin mewarisi tahta kepada putranya yang terlahir tunanetra. Belum lagi Prabu Wicitrawirya harus melakukan banyak pekerjaan yang belum selesai. Dan akhirnya rasa takut pun muncul ketika ia hendak membulatkan tekadnya. Memberikan tahta kepada Destarastra sama saja menghilangkan kepercayaan terhadap rakyat.
 
Dan tidak lama Prabu Wicitrawirya pun jatuh sakit, keadaan tubuhnya ringkih dan tidak mampu lagi berbuat banyak guna menunaikan tugasnya sebagai raja. Sakitnya Prabu 
Wicitrawirya nampaknya dirahasiakan oleh dirinya sendiri, karena ia tidak mau terlihat lemah sebagai raja yang memimpin suatu negara. Meski begitu, raut wajah Prabu Wicitrawirya berubah menjadi pucat dan cara bicaranya mulai tidak selugas dahulu.
 
Jatuh sakitnya raja Hastina diketahui oleh Dewi Ambalika, saat itu memang sang permaisuri baru saja pulang dari berkunjung ke Giyantipura. Dewi Ambalika semakin sedih melihat suaminya terpuruk dalam penyakit yang makin bermunculan seiring meningkatnya stres.
 
Tidak tinggal diam, Dewi Ambalika memanggil para tabib untuk mengobati sakit sang prabu. Namun, tidak menunjukkan hasil sama sekali. Semakin lama kabar sakitnya Prabu Wicitrawirya menyeruak ke luar istana. Bhisma Dewabrata dan Wasi Dipayana menjenguk Prabu Wicitrawirya yang tergolek lemah.
 
Sakitnya Prabu Wicitrawirya nampaknya mempengaruhi pemerintahan negara, banyak pertemuan penting yang dibatalkan seiring parahnya sakit sang Prabu.
Tidak ada cara yang ampuh mengobati sakitnya raja Hastina, akhirnya Wasi Dipayana dan 
Bhisma Dewabrata turun tangan ikut mengobati Prabu Wicitrawirya.
 
Sudah banyak tenaga yang dikeluarkan namun tidak sebanding hasilnya. Keprihatinan makin mempertebal suasana, bahkan Begawan Sentanu yang pernah menjadi raja pun ikut mengobati sakitnya putra kandungnya itu.
Namun apalah daya, sia-sia usaha dan upaya mereka dalam menyembuhkan sakitnya sang Prabu tidak membuahkan hasil.
 
Tiba waktunya, Prabu Wicitrawirya mengucapkan sesuatu yang merupakan pertanda bahwa ajalnya sudah menjemput. Prabu Wicitrawirya akhirnya meminta kepada Bhisma Dewabrata untuk segera melantik Destarastra sebagai putra mahkota.
 
Namun, pemerintahannya harus diwakili oleh seseorang yang berhak menjadi raja. Mengingat banyak sekali tugas kenegaraan yang tertunda dan belum dituntaskan.
Begawan Sentanu lantas menanyakan siapa yang akan mewakili Prabu Wicitrawirya ?
 
Prabu Wicitrawirya secara lugas menjawab bahwa Wasi Dipayana lah yang berhak menjadi raja sembari menunggu dewasanya Destarastra. Keputusan yang berat namun tepat, mengingat tidak ada orang lain yang hebat selain Wasi Dipayana.
 
Begawan Sentanu sendiri sudah lanjut usia meski masih sanggup menyatakan diri kembali ke singgasana. Tetapi, Begawan Sentanu memang bukan raja yang de facto namun hanya pengganti saat Prabu Dipakeswara' ayah Wasi Dipayana mengundurkan diri.
Itu artinya tahta kerajaan harus kembali ke tangan putra Prabu Dipakeswara yang selama ini dipinjamkan.
 
(Bersambung)

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Lahirnya Pandu

 
 
Destarastra akhirnya kembali ke Hastina setelah menjalani pembinaan sebagai siswa dari Wasi Dipayana. Maka hari penobatan putra mahkota pun dimulai, maka secara resmi Destarastra menjadi pewaris tahta. 
 
Prabu Wicitrawirya merasa diangkatnya Destarastra sebagai putra mahkota merupakan sebuah keharusan. Sebab, Prabu Wicitrawirya hanya selaku pejabat sementara cuma bisa menggantikan tanpa mewariskan tahta kepada keturunannya.
 
Meski keadaan Destarastra memprihatinkan, keharusan sebagai putra mahkota adalah selalu mendampingi raja dalam setiap pertemuan walau pun yang menjadi raja adalah pamannya sendiri.
 
Tidak lama setelah penobatan Destarastra sebagai putra mahkota, Dewi Ambika dikabarkan mengandung anak dari perkawinannya dengan Wasi Dipayana.
 
Destarastra merasa dirinya kelak akan menjadi seorang kakak, karena ini merupakan suatu keuntungan karena jika putra mahkota memiliki seorang adik maka sang adik harus menemani kakaknya yang menjadi raja kelak.
 
Kehamilan Dewi Ambika santer terdengar hingga ke pertapaan Talkanda, Begawan Sentanu dan Bhisma Dewabrata ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi.
 
Begawan Sentanu mengatakan bahwa kelak putra Wasi Dipayana itu akan menjadi ksatria yang kuat dan gagah berani. 
 
Ditambah nantinya ia akan menjadi panglima perang lantaran kakak sulungnya adalah putra mahkota. Itu artinya semakin lengkap anggota keluarga kerajaan Hastina dengan kehamilan Dewi Ambika.
 
Saat yang dinantikan pun tiba, Dewi Ambika kini mulai merasakan kontraksi dan siap menjalani persalinan. Akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang berwajah cerah namun agak pucat pasi, bayi itu merupakan putra kandung Wasi Dipayana sekaligus adik tiri Destarastra.
 
Wasi Dipayana menamai anaknya itu Pandu Dewanata. Rupanya kelahiran Pandu Dewanata menjadi pertanda yang baik karena ditakdirkan menjadi ksatria hebat pilih tanding.
Acara perayaan pun digelar, hadir pula Begawan Sentanu dan Bhisma Dewabrata yang memimpin prosesi perayaan.
 
Perayaan kelahiran Pandu Dewanata merupakan bagian dari tradisi yang mengharuskan orang tua memperkenalkan dunia kepada buah hatinya.
Begawan Sentanu yang bukan kakek kandung Pandu Dewanata ikut mendoakan putra Wasi Dipayana itu.
 
Bhisma Dewabrata sendiri juga ikut berdoa karena kelak nantinya Pandu akan jadi siswa yang notabene keponakannya sendiri. Kisah berlanjut beberapa tahun kemudian saat Destarastra dan Pandu Dewanata beranjak remaja, kemana pun Destarastra pergi Pandu selalu menuntunnya berjalan.
 
Sudah bukan rahasia lagi bahwa adik harus berbakti pada kakaknya yang tunanetra.
Waktu itu Pandu dan Destarastra sedang menjalani masa pendidikan, ini bukan pertama kalinya Destarastra menjalani hal ini.
 
Karena pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan mental dengan bertahan hidup di tengah hutan. Sudah jelas karena jauh dari istana yang mewah, kedua pangeran ini beradaptasi dengan suasana hutan yang rimba.
 
Destarastra juga saat itu sedang menyempurnakan Aji Lebur Sakethi/Aji Grayang pemberian kakeknya, Begawan Sentanu. Begawan Sentanu memerintahkan Pandu untuk mengawasi Destarastra agar tidak sampai menggunakan jurus berbahaya itu lantaran belum mahir mengendalikan daya serap kekuatannya yang menguras tenaga.
 
Pandu meski sebagai adik, ilmu kanuragannya cukup tinggi dan mumpuni. Ia adalah orang yang mampu menjadi mentor bagi Destarastra. Suatu hari Pandu dan Destarastra kedatangan sosok berwujud dewa, ialah Bathara Narada.
 
Bathara Narada datang menemui keduanya untuk dimintai bantuan karena kahyangan sedang diserbu Prabu Nagapaya. Bathara Narada menjelaskan maksud Prabu Nagapaya ke kahyangan adalah melamar bidadari namun ditolak, maka terjadilah huru-hara di kahyangan. Digambarkan, Prabu Nagapaya sangat sakti dan pilih tanding karena dulunya merupakan siluman ular naga.
 
Bathara Narada mengajak Pandu dan Destarastra untuk mengalahkan Prabu Nagapaya yang lamarannya ditolak. Akhirnya mereka berdua berangkat ke Kahyangan Suralaya untuk menghadapi Prabu Nagapaya.
 
Saat itu Kahyangan sudah dikuasai oleh pasukan ular naga yang jumlahnya tidak sedikit.
Prabu Nagapaya mengalahkan para dewa dan semua prajurit kahyangan hanya dengan semburan apinya.
 
Kesaktian Prabu Nagapaya tidak bisa ditandingi, saat itu Pandu muncul sebagai jagoan para dewa lantas menantang raja berwujud raksasa namun bersisik seperti ular itu.
Prabu Nagapaya luar biasa saktinya, Pandu berkali-kali melepaskan anak panah dengan busurnya tetap saja gagal melukai lawannya.
 
Bahkan Prabu Nagapaya berhasil menghardik Pandu hingga terjungkal jauh. Pandu tidak berdaya menghadapi Prabu Nagapaya yang kebal senjata.
Bathara Narada hanya bisa menyaksikan betapa lelahnya Pandu bertarung melawan Prabu Nagapaya.
 
Sampai akhirnya Bathara Narada meminta Destarastra maju bertarung melawan Prabu Nagapaya. Ternyata dengan mudahnya raja berwujud kepala ular naga itu melilit Destarastra sampai tidak berdaya.
 
Pandu tidak habis pikir kakaknya maju bertarung meski ia seorang tunanetra. Pandu mencoba membantu, tetapi ia sudah kelelahan dan kehabisan akal untuk mencari titik lemah Prabu Nagapaya.
 
Destarastra yang sendari tadi berada dalam cengkraman Prabu Nagapaya segera mengeluarkan Aji Lebur Sakethi untuk meloloskan diri.
Begitu jurus itu dikeluarkan, Destarastra mampu membuat sisik Prabu Nagapaya melepuh akibat daya Aji Lebur Sakethi.
 
Prabu Nagapaya kepanasan karena sisiknya melepuh tiba-tiba saat Destarastra memamerkan jurus itu. Destarastra bebas dari cengkeraman Prabu Nagapaya dan mendekati Pandu. Setelah raja berkepala ular naga itu merasa kepanasan akibat daya Aji Lebur Sakethi.
Seketika Pandu melepas Ardhadedali dan berhasil memenggal kepala Prabu Nagapaya. Raja raksasa berkepala ular naga itu tewas terbelah antara tubuh dan kepalanya.
 
Pandu berhasil membunuh Prabu Nagapaya setelah tubuh raja ular naga itu terbelah jadi dua. Kahyangan Suralaya berhasil diselamatkan, para dewa bahagia turut merayakan kemenangan Pandu dalam pertempuran.
 
Sedangkan sisa-sisa pasukan musuh yang semula mengepung kahyangan segera tinggal gelanggang colong keplayu. Bathara Guru dan Bathara Narada berterima kasih atas keberhasilan Pandu yang sudah membereskan kelilip para dewa.
 
Sebagai hadiah atas keberhasilannya, Pandu diberi pusaka kadewatan berupa minyak oles yang bernama Minyak Tala. Pusaka kadewatan berwujud Minyak Tala berkhasiat menyembuhkan luka dari yang biasa sampai yang parah.
 
Bahkan barang siapa yang mengoles minyak bertuah itu akan kebal terhadap senjata apa pun. Pandu berterima kasih atas pemberian Bathara Guru dan Bathara Narada.
Kemudian Pandu dan Destarastra kembali ke bumi melanjutkan kewajibannya sebagai ksatria. 

(Bersambung)
 

Jumat, 04 Desember 2020

Maria Vania Punya Body Aduhai Karena Tidak Pernah Makan Nasi Sejak Tahun 2012

 

Maria Vania dikenal sebagai artis yang memiliki tubuh indah berkelas layaknya peragawati papan atas dunia. Namun, untuk mendapat tubuh indah dibutuhkan usaha yang benar-benar menguras tenaga' ia diharuskan melakoni olahraga 2 jam per hati dan menbatasi asupan lemak yang membuat perutnya membuncit.

 

 

Untuk menjaga bentuk tubuhnya karena faktor profesi, ia ternyata disarankan untuk tidak makan nasi seumur hidup sejak tahun 2012. Sebuah keputusan yang sulit diterima akal sehat, mengingat orang Indonesia sangat menyukai nasi dan mengonsumsinya setiap hari. Pepatah mengatakan belum dikatakan kenyang kalau belum makan nasi walau setengah piring pun. 

Bagi Maria Vania, ia tidak keberatan untuk berhenti makan nasi seumur hidupnya demi mendapatkan bentuk tubuh yang menjadi idaman semua wanita. Cara diet tanpa makan nasi ini memang memberikan hasil yang cukup mencolok. Karena sejatinya tubuh manusia sangat mudah menyerap lemak namun tertimbun diantara gumpalan daging. 

Lemak yang tertimbun didalam gumpalan daging itu harus dibakar dengan gerakan-gerakan berulang-ulang. Maria Vania sering melakukan kegiatan olahraga setiap harinya di saat waktu luang atau sehabis bekerja di stasiun televisi. 

Maria Vania mengatakan tidak ada waktu terlambat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan, dan olahraga merupakan cara yang bagus untuk memberikan kesempatan bagi sendi-sendi supaya lebih banyak bergerak. 

*****