Kamis, 07 Februari 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Lahirnya Abiyasa Putra Palasara

Gambar : Begawan Palasara berputra Abiyasa

Dalam perjalanan, kereta kencana yang dikendarai Begawan Palasara berhenti di dekat sungai Yamuna, tempat dimana dahulu Begawan Palasara dan Dewi Durgandini bertemu.
Dewi Durgandini turun dari kereta dan melihat jernihnya aliran sungai Yamuna yang tak pernah keruh walaupun sudah lama mengalir.
Lalu, Begawan Palasara mengajak Dewi Durgandini berjalan-jalan menyaksikan indahnya pemandangan di tepi sungai.

Sangking menikmati indahnya suasana, Begawan Palasara melihat sebuah pulau kecil ditengah sungai. Maka timbullah hasrat asmara didalam dada, Begawan Palasara membawa Dewi Durgandini menyeberangi sungai Yamuna yang kebetulan sedang surut airnya.
Begawan Palasara akhirnya mendirikan gubug dari bambu beratapkan rumbia untuk tinggal disana sementara waktu.

Setelah gubung jadi, Begawan Palasara akhirnya mengajak Dewi Durgandini memadu kasih. Rupanya panah asmara telah menancap dihati mereka berdua, ternyata inilah waktunya untuk berhubungan intim.

Lalu, segera mereka berdua telanjang bulat' seperti kehilangan akal Begawan Palasara memeluk Dewi Durgandini dengan erat bagaikan lengket.
Keduanya saling cium, saling cumbu dan saling menikmati indahnya asmara.

Setelah lama memadu kasih, suasana diluar gubug mulai berganti cuaca.
Tadinya cuacanya cerah berubah menjadi agak berawan dan mendung. Angin yang mulanya sepoi-sepoi tiba-tiba meningkat kecepatannya.
Sementara itu Begawan Palasara dan Dewi Durgandini masih berada didalam gubug, mereka sedang menikmati indahnya dunia asmara.

Mereka menjamah satu sama lain, keringat bercucuran seiring gerakan dalam peraduan birahi. Begawan Palasara menyentuh payudara Dewi Durgandini dengan hati-hati sambil mencium bibirnya.
Dewi Durgandini pun melakukan hal serupa, sang Dewi menyentuh Penis sang Begawan yang sedang ereksi penuh.

Dewi Durgandini bermain-main dengan Penis Begawan Palasara dengan cara mengocoknya, dan sang Begawan mulai terangsang dengan pijatan yang manja dari tangan Dewi Durgandini.
Begawan Palasara mendesah sambil tersenyum, ia merasa dibuat tak berdaya dengan sentuhan nakal Dewi Durgandini.
Karena dibuat seperti itu, Begawan Palasara lantas membalas perbuatan Dewi Durgandini dengan meremas sepasang payudaranya.

Sang dewi pun dibuat tak tahan bahkan seperti sudah dipengaruhi oleh bujukan nafsu.
Maka Dewi Durgandini pun mulai seperti Harimau Betina yang lapar akan belaian nafsu, lalu keadaan pun makin tak terkendali saat Begawan Palasara mencengkeram Dewi Durgandini yang dalam posisi terbaring.

Makan Begawan Palasara mulai melancarkan "Tusukan" ke bagian vital Dewi Durgandini, maka sang Dewi turut melenguh sambil meringis.
Terbayang sebuah ekspresi seorang wanita yang sudah menjadi santapan empuk lelaki yang dimabuk asmara.

Mata terpejam, mulut menganga dan rambut terurai sehingga menambah kesan cantik nan menggoda dimata Begawan Palasara.
Cerita semakin lama semakin tak karuan karena dibumbui adegan yang lebih menjurus ke dunia tanpa pikiran.

Seketika para Dewa Kahyangan yang menyaksikan perbuatan tidak seronok itu lantas menyanyikan kidung asmara dengan ditabuhnya Gamelan Lokananta.
Bumi seolah ikut menyanyikan kidung asmara demi menghormati Begawan Palasara dan Dewi Durgandini yang dimabuk asmara.
Maka seketika langit pun mendung, lantas cuaca berubah menjadi dingin. Namun, perubahan cuaca tersebut tidak membuat mereka berdua terganggu.
Justru semakin menjadi-jadi dan menggila suasana didalam gubug, lalu mulailah gerimis turun membasahi hijaunya pertiwi.
Angin makin sepoi-sepoi meniup dedaunan, lalu jatuh diatas aliran sungai yang jernih. Kilaunya bagai permata yang tenggelam didasar samudra berekor.

Kisah ini berlanjut saat Begawan Palasara dan Dewi Durgandini selesai melakukan hubungan asmara yang cukup lama.
Mereka sudah merasakan nikmatnya berbuat seperti itu, seketika muncul cahaya dari langit turun ke bumi diantara derasnya hujan.
Cahaya itu merupakan wahyu kapandhitan yang turun menyertai tergolek lemahnya Dewi Durgandini setelah berhubungan.
Wahyu Kapandhitan itu menjadi pertanda bahwa kelak akan lahir seorang anak yang merupakan hasil dari hubungan badan itu.
Bahkan ternyata para Dewa telah memprediksi kelak anak yang akan lahir dari Dewi Durgandini itu akan menjadi pencatat sejarah kehidupan wangsa Bharata.

Dan berdasarkan apa yang telah diramalkan, 9 bulan kemudian' Dewi Durgandini melahirkan seorang anak laki-laki yang berkulit hitam.
Namun, pamornya sangat menyedot perhatian seluruh jagat raya. Anak laki-laki itu kemudian dinamakan Abiyasa.
Kelahiran Abiyasa disambut dengan cerahnya cuaca pada hari itu, langit membiru penuh pesona dan hawa sejuk yang meluluhkan suasana.

(Selesai)

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Durgandana Memboyong Sudesna

Gambar : Raden Durgandana, Dari Wirata

Keesokan harinya, Durgandana menemui Begawan Palasara untuk membahas permasalahannya.
Durgandana mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik dengan Sudesna, Namun ia tahu bahwa Sudesna terhitung masih keponakannya sendiri. Durgandana juga membeberkan bahwa Sudesna sejatinya bukan anak kandung Begawan Palasara dan hanya sebagai anak angkat yang dipungut setelah lahir didalam sungai.

Begawan Palasara menanyakan maksud Durgandana tentang apa yang dibicarakannya tadi.
Dengan agak kikuk, Durgandana mengakui ketertarikannya dengan Sudesna, Begawan Palasara pun menjawab dengan santai bahwa Sudesna adalah calon istri Durgandana.
Durgandana kaget, mengapa Sudesna akan menjadi calon istrinya ?
Sedangkan Sudesna terhitung keponakan Durgandana, walaupun Sudesna hanya anak angkat Begawan Palasara.

Begawan Palasara meramalkan bahwa jika Durgandana menikahi Sudesna, maka umurnya akan panjang sekali. Dan Begawan Palasara meramalkan bahwa kelak anak-anaknya yang terlahir dari rahim Sudesna akan menjadi saksi sekaligus pelaku dalam pertempuran Bharatayudha di Kurukasetra.

Setelah terungkap jawaban itu, Durgandana bertekad menikahi Sudesna.
Akhirnya Sudesna pun dinikahi oleh Durgandana yang upacaranya berlangsung di Hastina.
Selama beberapa minggu Durgandana di Hastina, akhirnya Durgandana mulai rindu dengan negeri asalnya yakni Kerajaan Wirata. Durgandana pun mohon pamit kepada seluruh keluarga di Hastina untuk memboyong Sudesna ke Wirata. Begawan Palasara pun mengizinkan Durgandana memboyong Sudesna ke Wirata setelah dinikahkan.

Dinikahkannya Durgandana dengan Sudesna membuat Begawan Palasara harus merelakan salah satu anaknya untuk menjadi anggota keluarga lain.
Namun, kepergian Sudesna tidak sendiri' ia didampingi oleh Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Gandawana dan Setatama. Mereka tetap setia mendampingi Sudesna yang merupakan kakak tertua dari anak-anak Begawan Palasara.

Beberapa tahun kemudian, Begawan Palasara mulai rindu dengan anak-anaknya yang kini tinggal di Wirata setelah Durgandana mewarisi tahta.
Dan rasa ingin memiliki momongan mulai terlihat saat hampir setiap hari Begawan Palasara sering menulis prosa dan puisi yang menceritakan rasa rindu mendalam seorang ayah pada anaknya.
Dewi Durgandini begitu mengerti apa yang dirasakan Begawan Palasara. Lalu, Dewi Durgandini menghampiri sang Begawan dengan memeluk tubuhnya dari belakang.

Suasana yang penuh hening berubah menjadi romantis saat Dewi Durgandini mengajak sang Begawan untuk menikmati alam asmara.
Namun, Begawan Palasara tak mau melakukan hal itu di keraton karena kondisi saat ini Hastina masih merupakan negara baru yang belum ada rajanya.

Akhirnya Dewi Durgandini meminta agar apa yang dilakukannya nanti bisa terwujud, yakni memiliki anak yang lahir dari rahim dan bukan hasil kejadian ajaib seperti yang dulu.
Lalu, Begawan Palasara bergegas menyiapkan kereta kencana untuk melakukan perjalanan jauh.

Dewi Durgandini pun mulai mengerti rencana tersebut. Lalu, Begawan Palasara menitipkan Kerajaan Hastina untuk sementara waktu kepada beberapa pejabat kerajaan.
Kereta kencana pun berangkat dan melaju melintasi kotaraja. Begawan Palasara menjadi kusirnya, Dewi Durgandini menjadi penumpangnya.
Mereka mencari suasana sepi dan jauh dari keramaian demi mewujudkan keinginannya itu.

(Selesai)


Kisah Leluhur Pandawa Lima : Durgandana Menemukan Istana

Gambar : Raden Durgandana, Adik Dewi Durgandini

Negeri Hastina yang telah lama hilang kini kembali menemukan kejayaan seperti dahulu. Bahkan sangking moncernya negeri baru tersebut' membuat negeri seberang hendak menilik informasi yang ada mengenai negeri Hastina.
Kehadiran negeri Hastina sebagai kerajaan baru namun makmur membuat telinga Prabu Basuparicara ingin mengunjungi negeri itu.
Sang Prabu segera memerintahkan Durgandana untuk memimpin rombongan menuju Hastina.

Durgandana beserta para prajurit Wirata segera berangkat mencari negeri yang katanya masih baru itu.
Melewati hutan, bukit, sungai dan perkampungan penduduk' Durgandana menanyakan keberadaan kerajaan yang konon merupakan kerajaan yang hilang setelah puluhan ribu tahun.
Namun, para penduduk tidak tahu dimana letak kerajaan yang hilang itu.
Sampai suatu hari Durgandana sampai di perbatasan wilayah Wirata, karena hari sudah agak gelap maka ia beserta para prajurit beristirahat disana.

Ketika sedang istirahat, dari jauh ada cahaya berkilauan terlihat bagaikan aurora di atas langit.
Kontan, Durgandana yang baru saja tertidur seperti merasa silau kedua matanya.
Ia heran, mengapa ada aurora di atas langit malam-malam begini ?
Padahal menurutnya, aurora biasanya hanya muncul setiap musim dingin saja' tapi baru kali ini ia melihat aurora muncul pada malam hari di musim panas.

Namun, karena sudah mengantuk akibat kelelahan' Durgandana beserta prajurit-prajuritnya memutuskan untuk beristirahat sembari melihat indahnya cahaya aurora itu.
Malam semakin pekat, Durgandana terhanyut dalam tidurnya.
Ketika sedang nyenyak tidurnya, ia malah bermimpi bertemu dengan sesosok mahluk suci yang bernama Bhatara Wisnu.
Rupanya dalam mimpi itu Bhatara Wisnu memberitahukan arti dari cahaya aurora yang dilihat Durgandana.
Ternyata cahaya aurora itu merupakan negeri yang baru dibangun tersebut.

Dan ketika mimpi itu berakhir, hari sudah mulai pagi dan udara dingin makin menipis karena terkena sinar matahari.
Durgandana beserta semua prajurit melanjutkan perjalanan mencari dimana kerajaan itu.
Dan ketika memasuki daerah yang agak ramai, Durgandana dikejutkan dengan megahnya sebuah istana didepan matanya.
Ia terkagum-kagum dengan istana itu, rupanya ia baru tahu bahwa aurora yang dilihatnya semalam merupakan pancaran cahaya dari istana tersebut.

Kemegahan istana yang dilihat Durgandana semakin meyakinkannya bahwa ia telah berhasil mencari sesuatu yang diinginkannya.
Lantas ia segera masuk ke dalam sana dan melihat-lihat seisi istana yang terlihat tidak biasa.
Temboknya tinggi dan tebal berlapiskan emas, Guci dan perabotannya mengkilap bagai diasah, langit-langitnya terlihat sangat bagus dari bawah dan arca-arca nya terukir dengan sangat bernilai seni tinggi.
Durgandana mengira ini bukan istana yang ditinggali seorang raja, melainkan seorang dewa yang sengaja membangun istana megah bagaikan kahyangan di bumi.

Durgandana yang sedang memandang keindahan istana tersebut tidak waspada sama sekali.
Tiba-tiba dari belakang ia diteriaki oleh putra-putra Begawan Palasara yang kebetulan sedang memasuki ruangan.
Rupanya yang mempergoki Durgandana adalah Rupakenca, Kencakarupa dan Rajamala.
Mereka bertiga mengira bahwa Durgandana adalah seorang pencuri yang ingin menggondol barang-barang berharga di istana.

Durgandana menyangkal dia hendak mencuri, dia menjelaskan bahwa dirinya tak sengaja menemukan istana yang megah dan berkilauan cahayanya bagaikan aurora di musim dingin.
Namun, karena tak percaya begitu saja dengan alasan yang diucapkan Durgandana' maka terjadilah pertarungan sengit antara dirinya dengan Rupakenca, Kencakarupa dan Rajamala.
Pertarungan tersebut mengundang keributan yang menyebabkan Begawan Palasara segera menuju sumber keributan itu.

Ketika Begawan Palasara sudah di sumber keributan itu, Durgandana kaget melihat satu orang lagi yang datang menghampirinya.
Begawan Palasara segera melerai mereka semua dan meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Rupakenca berkata bahwa orang itu masuk tanpa izin dan diduga hendak mencuri di istana.
Kencakarupa dan Rajamala berkata dengan nada serupa, dan Begawan Palasara pun menanyakan apa maksud dan tujuan orang asing itu masuk ke dalam istana.

Lalu, tiba-tiba Durgandini yang turut di belakang Begawan Palasara begitu kaget melihat sesosok lelaki yang tidak asing baginya.
Lalu Durgandini menjelaskan siapa lelaki tersebut kepada putra-putranya bahwa sejatinya orang itu adalah paman mereka sendiri.
Dan Rupakenca, Kencakarupa juga Rajamala tanpa pikir panjang segera meminta maaf atas ketidaktahuan mereka terhadap Durgandana.

Durgandana menjelaskan bahwa ia beserta prajurit pendampingnya tersesat setelah melakoni perjalanan cukup lama dari Wirata.
Durgandini pun tahu apa tujuan adiknya itu, ia menjelaskan kepada suami dan anak-anaknya bahwa Durgandana ingin mencari dimana sang Durgandini berada.
Akhirnya semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Perbincangan hangat berlanjut saat Durgandana dipersilahkan masuk ke dalam istana sambil dijamu hidangan lezat yang disajikan oleh para pelayan istana.

Seusai makan bersama, Durgandana dipersilahkan duduk di ruang perjamuan tamu untuk memberitahu tujuan sebenarnya.
Durgandana menjelaskan bahwa ia ingin mencari keberadaan Durgandini yang menghilang secara misterius.

Begawan Palasara menjelaskan bahwa dirinyalah yang menemukan Durgandini di tepi sungai.
Durgandana berterima kasih kepada Begawan Palasara yang berhasil menemukan Durgandini.
Durgandana meminta Begawan Palasara dan Durgandini untuk menemui raja Wirata.
Tetapi sang Begawan menolak karena menurut ramalannya, sang raja akan meninggal dunia dalam waktu dekat.

Durgandana kaget, mengapa Begawan Palasara berkata demikian ?
Hal dikarenakan Durgandana telah mendapat suksesi untuk menjadi raja Wirata selanjutnya.
Dan sebagai hadiah untuk Durgandana, Begawan Palasara memberinya sebuah keris pusaka untuk dipakai saat dilantik menjadi raja.

Durgandana berterima kasih atas keris pusaka pemberian Begawan Palasara, kemudian Durgandana diminta untuk istirahat di Hastina selama beberapa hari.
Durgandana pun beristirahat disana, selama beristirahat di sana ia menikmati pemandangan indah yang luar biasa.

Sampai-sampai ia merasakan sebuah hasrat untuk pulang ke Wirata, dari jauh Sudesna melihat Durgandana yang sedang merasakan galau.
Sudesna segera mendekati Durgandana untuk menghibur rasa galaunya, rupanya Durgandana mulai terpikat dengan kecantikan Sudesna.

Tapi, ia tahu bahwa Sudesna adalah keponakannya sendiri.
Lalu Sudesna berkata ia sebenarnya bukan anak kandung Begawan Palasara, namun hanya sebagai anak angkat yang dipungut dari dalam sungai.
Alangkah leganya hati Durgandana, bahwasanya Sudesna bukan anak kandung Begawan Palasara.

Cerita pun berganti di malam hari, Durgandana mulai sulit tidur sejak bertemu dengan Sudesna.
Ia merasa ada sebuah keinginan untuk memboyong Sudesna untuk dijadikan istri. Namun, menurut Durgandana sendiri apakah bisa seorang paman menikahi keponakannya sendiri.

(Selesai)






Kisah Leluhur Pandawa Lima : Palasara Membangun Negara

Gambar : Dewi Durgandini, Istri Begawan Palasara

Cerita berlanjut, Begawan Palasara dan Durgandini berniat melakukan bulan madu setelah beberapa minggu yang lalu telah dikukuhkan sebagai suami istri. 
Begawan Palasara dan Durgandini berpamitan kepada Ki Dasabala, mereka akan pergi menikmati saat-saat bersama dengan aura asmara yang menggelora.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah dan berjalan menelusuri hutan lebat dan jurang yang terjal, hingga pada akhirnya mereka sampai di tepi sungai yang dahulu merupakan tempat pertama kali mereka bertemu'

Sungai itu merupakan sungai suci yang tidak sembarangan orang bisa menyeberanginya' ketika Begawan Palasara hendak menyeberang' dari dasar sungai muncul seekor naga besar yang bermahkotakan raja dan seekor kera berbulu biru.
Naga besar itu turut muncul bersama beberapa orang manusia yang masih telanjang bulat' keadaan ini membuat Durgandini terkejut dan bertanya kepada semua yang muncul dari dasar sungai.

Rupanya mereka adalah jelmaan dari penyakit yang disembuhkan Begawan Palasara tempo hari, tak disangka mereka berubah wujud menjadi manusia seutuhnya.
Akhirnya Begawan Palasara mengangkat mereka sebagai anak, satu-satunya wanita di antara mereka diberi nama Sudesna.
Sepasang laki-laki kembar disamping Sudesna diberi nama Kencakarupa dan Rupakenca, lalu sepasang laki-laki yang berwujud seram seperti raksasa diberi nama Rajamala dan Gandawana'
Sedangkan Seekor Naga bermahkotakan raja itu diberi nama Watangaputung dan seekor kera berbulu biru diberi nama Tunggulwulung.

Sudesna, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Gandawana, Setatama, Tunggul Wulung dan Watangaputung adalah anak-anak Begawan Palasara yang merupakan jelmaan Penyakit Bau Amis yang tercipta atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Walaupun begitu, mereka di takdirkan menjadi manusia seutuhnya. Kecuali Tunggul Wulung yang berwujud Kera dan Watangaputung yang berwujud Naga.
Perjalanan Begawan Palasara dan Durgandini berlanjut ke sebuah tempat yang diyakini sebagai Hutan Gajahoya.
Konon kabarnya, hutan tersebut merupakan bekas istana.

Hutan lebat itu kelihatannya memiliki daya magis yang sangat kuat, ketika Begawan Palasara hendak masuk ke dalam sana' aura gaibnya menimbulkan tembok tanpa wujud yang membuat siapapun tak bisa masuk.
Durgandini bingung, mengapa baru kali ini ada hutan yang tak bisa dimasuki.
Menyadari hal ini' maka agar bisa masuk ke sana, Begawan Palasara melakukan semedi pada saat itu juga.
Pengaruh semedi yang dilakukan Begawan Palasara membuat seisi hutan itu muncul dari sarangnya.
Rupanya yang muncul tidak hanya para binatang penghuni hutan, namun ada para denawa dan para jin atau mahluk halus sejenisnya ikut keluar akibat pengaruh semedi sang Begawan.

Sayangnya kehadiran mereka sangat tidak bersahabat, rupanya mereka terganggu karena ada yang mencoba masuk ke dalam hutan itu.
Akhirnya Begawan Palasara terpaksa bertarung melawan para penghuni hutan yang kebanyakan bangsa hewan dan bangsa denawa haus darah.
Pertarungan pun tak terelakkan antara mereka semua, banyak yang menyerang secara bersama-sama dan ada yang menyerang sendiri-sendiri tergantung jenis mereka.
Begawan Palasara berhadapan dengan para denawa yang jumlahnya puluhan, Mereka mengepungnya dan menyerang secara membabi buta.
Namun, berkat kesigapan sang begawan' semua denawa yang akan menyerangnya berhasil dikalahkan dengan mudah.
Kemudian, Begawan Palasara mengeluarkan gandewa saktinya dan segera melepas anak panah sakti yang mampu berubah menjadi ribuan anak panah.
Hasilnya mereka semua tewas terkena panah.
Sementara sisanya lari tunggang-langgang ketakutan setelah melihat rekan sesama denawa mati terbunuh.
Setelah semua kaum denawa pergi dari tempat kejadian, Begawan Palasara akhirnya berhasil masuk ke dalam hutan itu bersama Durgandini yang diiringi anak-anaknya.
Ketika sampai di depan pohon besar, mereka beristirahat sambil mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas Begawan Palasara melakukan semedi.

Semedi yang dilakukan Begawan Palasara membuat kawah candradimuka mendidih dan hampir luber kemana-mana.
Para Dewa takut akan kejadian mengkhawatirkan tersebut, mereka mulai melakukan pertemuan di Kahyangan Jonggirisaloka.
Mereka sedang membicarakan semedi yang dilakukan Begawan Palasara, dipimpin langsung oleh Bathara Guru sidang diadakan untuk menentukan keputusan mengenai apa yang dilakukan Begawan Palasara.

Bathara Guru dengan keputusan bulat akan mengabulkan keinginan Begawan Palasara dengan suatu keajaiban.
Keajaiban itu pun akhirnya terjadi, hutan dimana sang Begawan berpijak untuk bertapa berubah menjadi sebuah kerajaan yang keratonnya sangat megah.
Dilihat bentuk arca penjaga keratonnya terlihat seperti bentuk kepala gajah yang besar. Keraton itu bernama Keraton Gajahoya yang dulu didiami oleh Prabu Gajendramuka.
Keraton Gajahoya didirikan sejak zaman sebelum era Lokapala dan Mahespati.
Prabu Gajendramuka berkuasa selama 1000 Tahun lamanya, suatu hari Prabu Gajendramuka berniat ingin melamar Dewi Indrandi untuk dijadikan permaisuri.
Sang Prabu datang membawa syarat untuk melamar ke Kahyangan, yaitu berupa gading gajah emas yang merupakan gading gajah milik gajah penghuni hutan pegunungan himalaya.
Sayang, lamaran Prabu Gajendramuka ditolak Para Dewa.

Prabu Gajendramuka marah besar karena lamarannya ditolak, ia beserta wadyabala mengobrak-abrik Kahyangan Jonggirisaloka,
Para Dewa kewalahan menghadapi mereka, ketika Kahyangan Jonggirisaloka diduduki Prabu Gajendramuka beserta Wadyabala, Para Dewa mengungsi ke Bumi untuk mencari perlindungan dan bantuan.
Ketika Para Dewa sedang mencari tempat berlindung, mereka bertemu dengan seorang Ksatria yang sedang bertapa.

Ksatria itu adalah Raden Gotama putra Prabu Heriya raja negara Mahespati.
Raden Gotama diminta oleh Para Dewa untuk mengusir Prabu Gajendramuka yang sedang menduduki Kahyangan.
Raden Gotama menyanggupi permintaan Para Dewa, saat berada di Kahyangan Resi Gotama bertatap muka dengan Prabu Gajendramuka dan terjadilah pertarungan sengit yang memakan waktu hingga 7 Hari 7 Malam.

Raden Gotama yang tidak tahu cara mengalahkan Prabu Gajendramuka segera berfikir mencari kelemahan lawan tandingnya itu.
Rupanya Raden Gotama tahu dimana letak kelemahan Prabu Gajendramuka, ternyata ada pada gadingnya.
Lalu dengan menggunakan Panah Berantai, Raden Gotama berhasil melumpuhkan Prabu Gajendramuka.
Setelah terlilit rantai, gading Prabu Gajendramuka dipatahkan dan tewaslah raja berkepala gajah itu.

Tewasnya Prabu Gajendramuka menyebabkan perubahan pada negeri yang dipimpinnya.
Rupanya takdir telah menggariskan bahwa sampai disinilah keangkaramurkaan raja berkepala gajah tersebut.
Seluruh negeri dan keratonnya berubah menjadi hutan belantara sehingga hutan itu nantinya akan kembali dibuka setelah sekian lama tak terjamah.

Hutan itu nantinya akan kembali menjadi sebuah kerajaan, jika ada yang berani memasukinya dan melakukan semedi disana.
Dan ternyata hutan itu telah kembali menjadi kerajaan setelah ratusan tahun ditutupi pepohonan dan semak belukar.
Kerajaan yang dulunya hutan itu berubah menjadi sebuah kerajaan besar yang bernama Hastinapura, dengan raja barunya yang bernama Prabu Dipakeswara.

Hutan yang lebat dan menyeramkan itu berubah menjadi sebuah kerajaan yang besar dan megah.
Kerajaan itu bernama Hastina, setelah kembali menjadi sebuah kota seusai kutukan selama ribuan tahun' negeri peninggalan zaman kuno itu dipimpin oleh Resi Palasara dengan gelar Prabu Dipakeswara.

Durgandini menjadi permaisuri sekaligus ratu yang menempati Taman Kadilengleng.
Sudesna menjadi putri mahkota pewaris tahta, Rupakenca dan Kencakarupa menjadi sepasang patih, sedangkan Rajamala dan Gandawana beserta Setatama menjadi senopati.
Sisanya Tunggulwulung dan Watangaputung menjadi punggawa kerajaan.

(Selesai)

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Palasara & Durgandini

Gambar : Begawan Palasara dari Pertapaan Saptaarga

Dahulu kala ada seorang pertapa dari Pertapaan Saptaarga, ia adalah Begawan Palasara.
Begawan Palasara adalah anak dari seorang pertapa bernama Begawan Sakri dengan seorang putri bernama Dewi Sati.
Suatu ketika Begawan Palasara sedang bertapa di bawah pohon beringin, karena sangat khusyuk tapa bratanya hingga suatu ketika keteguhannya diuji.
Datanglah sepasang burung kecil hinggap di atas kepala Begawan Palasara. Sepasang burung itu merupakan jelmaan dewa yang sedang mencoba mengganggu jalannya tapa brata.
Sangking sibuknya Begawan Palasara bertapa, sepasang burung kecil itu terbang kesana kemari mencari dedaunan untuk membuat sarang.
Setelah membuat sarang, kedua burung itu berhubungan badan hingga kedua burung tadi berhasil menghasilkan telur.

Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 3 butir, tak lama kemudian telur yang pertama menetas' dilanjut telur yang kedua pun menetas.
Seusai telur pertama dan telur kedua menetas, sepasang burung yang menghasilkan 2 telur tadi mengajak 2 ekor bayi burung yang menetas tadi pergi meninggalkan telur ketiga yang belum menetas.
Kini tinggal telur yang ketiga tertinggal diatas sarang, lalu menetaslah telur ketiga tersebut.
Kemudian terdengar suara bayi burung yang baru menetas tadi, akan tetapi beberapa ekor burung yang tadi diatas sarang itu sudah pergi entah kemana.

Bayi burung yang baru saja menetas memanggil-manggil dengan suara yang keras dan berisik, suara bayi burung itu membuat telinga Begawan Palasara terganggu sehingga kedua matanya pun terbuka.
Tapa brata Begawan Palasara akhirnya mampu di selesaikan oleh suara burung kecil yang meminta tolong karena ditinggal pergi induknya.
Sambil tersenyum Begawan Palasara mencoba menenangkan suara bayi burung yang sedang terlunta-lunta tersebut.
Karena merasa kasihan terhadap bayi burung itu, Begawan Palasara berdiri dari tempat dimana ia bertapa dan pergi mencari dimana induk burung kecil itu.
Dan ketika Begawan Palasara berada di tepi sungai, ia terkejut melihat sebuah perahu yang dikemudikan oleh seorang gadis.
Tanpa berfikir panjang Begawan Palasara menemui gadis itu dan bertanya kepadanya.

Sementara Gadis itu melihat dari jauh ada seorang pertapa yang sedang membawa sarang beserta burungnya mendekat,
Kemudian dari tepi sungai Begawan Palasara berjalan dan menghampiri gadis itu, lantas Begawan Palasara bertanya dimana induk anak burung yang ia bawa diatas tangannya.
Gadis itu hanya tersenyum sambil tertawa dengan suara pelan, kelihatannya gadis tersebut mengira pertapa tadi ingin minta di antar.
Begawan Palasara heran mengapa gadis tersebut menertawainya ?
Rupanya gara-gara menanyakan dimana induk anak burung itu, gadis tadi tertawa kepada Begawan Palasara.
Namun, Begawan Palasara tidak kesal karena memang sebab membawa sarang beserta anak burungnya memang agak lucu.
Senyum dan tawa gadis itu dibalas dengan senyum dan tawa pula oleh Begawan Palasara.
Lalu Begawan Palasara meminta pertolongan agar diantar ke tempat dimana induk anak burung terbangnya kemana, dengan senang hati gadis itu mengajak Begawan Palasara menumpangi perahu getek yang berada di samping gadis itu berada.


Gadis itu segera mengemudikan perahu geteknya dan menarik gayung yang terbuat dari batang bambu, kemudian Begawan Palasara menaiki perahu getek tadi dan berdiri disamping gadis pengendali perahu itu.
Ketika perahu berada ditengah sungai, tercium bau amis dari kulit gadis itu.
Begawan Palasara yang berada di sampingnya jadi heran, dalam hatinya ia bertanya mengapa gadis secantik bidadari ini berbau amis kulitnya ?
Gadis itu tahu bahwa bau amis tadi keluar dari kulitnya lewat keringat yang membasahi tubuhnya, sambil melirik gadis itu menahan malu karena ketahuan bau badannya amis seperti ikan.
Begawan Palasara melihat dari belakang merasa curiga dan ingin tahu apa yang sedang dialami gadis itu.
Dengan terpaksa Begawan Palasara meminta gadis itu berhenti mengayuh batang bambu yang dijadikan kemudi perahu, gadis itu bergetar hatinya setelah mendengar pinta sang wiku.
Dengan raut wajah yang agak malu' gadis itu bertanya mengapa minta pertapa itu minta berhenti di tengah sungai ?


Begawan Palasara lalu bertanya dari manakah bau amis itu keluar ?
Alangkah malunya gadis itu ketika ditanya soal bau amis yang keluar dari kulitnya, akhirnya gadis itu mengaku bahwa bau amis tersebut keluar dari tubuhnya.
Gadis itu berkata terus terang bahwa bau amis itu adalah penyakit yang dideritanya sejak dilahirkan.
Begawan Palasara merasa kasihan setelah mendengar apa yang diungkapkan gadis pengemudi perahu getek, lalu gadis tersebut menceritakan asal usulnya secara lengkap di hadapan Begawan Palasara.
Dan ketika gadis itu mengungkapkan rahasia yang menyebutkan bahwa dirinya terlahir sebagai manusia yang ber-ibukan seekor ikan, Begawan Palasara menarik nafasnya dalam-dalam sambil menyebut nama dewata.
Rupanya cerita yang disampaikan gadis itu membuat hati kecil Begawan Palasara prihatin dan tersentuh.

Lalu dengan inisiatifnya, Begawan Palasara ingin menolong gadis itu dengan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.
Mendengar hal itu, gadis tersebut merasa berterima kasih dan bersyukur karena pertolongan yang telah lama dinanti sudah datang.
Kemudian Begawan Palasara segera mengheningkan cipta sambil mengucapkan mantra suci, seketika itu muncul aura ajaib keluar dari tubuhnya.
Gadis itu hanya bisa terdiam melihat sang wiku mengheningkan cipta, lalu setelah mengheningkan cipta' Begawan Palasara menyuruh gadis itu membuka kedua telapak tangannya.
Dengan khidmat proses pengobatan dilakukan, hanya dalam waktu beberapa saat saja bau amis tersebut hilang dan dalam sekejap bau amis itu berganti menjadi bau harum yang semerbak.
Lantas setelah bau amis itu hilang, gadis itu merasa seperti terlahir kembali dan mengucapkan terima kasih kepada Begawan Palasara.
Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu ingin mengantar Begawan Palasara kepada orang tua gadis tersebut untuk diperkenalkan.
Namun, Begawan Palasara menolak ajakan itu' karena saat itu juga ia harus mencari induk dari bayi burung yang ditinggal pergi.
Tetapi, karena hari sudah menjelang malam' kebetulan juga Begawan Palasara ingin beristirahat setelah beberapa hari melakukan tapa brata.
Akhirnya gadis itu mengajak Begawan Palasara kerumahnya untuk menginap sambil diperkenalkan kepada orangtua si gadis.

Sesampainya disana, Begawan Palasara hendak diajak masuk oleh gadis itu masuk kerumahnya' tetapi sang wiku tidak mau karena agak malu dan grogi.
Tetapi karena dipaksa akhirnya Begawan Palasara disuruh masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian gadis tersebut memanggil orangtuanya untuk menemui tamu.
Ketika orangtua si gadis muncul untuk menemui Begawan Palasara, gadis itu memberitahu kabar yang menggembirakan bahwa penyakit bau amis yang diderita sejak dulu akhirnya bisa disembuhkan.
Mendengar berita itu orangtua si gadis mengucapkan rasa syukur atas kemurahan hati dewata yang telah melepas penderitaan anaknya.
Kemudian orangtua si gadis menemui Begawan Palasara dan berterima kasih atas pengobatan yang berhasil menyembuhkan penyakit bau amis tersebut.
Lalu, ketika sedang bertatap muka dengan Begawan Palasara' orang tua si gadis memperkenalkan dirinya.
Pria tua yang menjadi orangtua gadis itu bernama Ki Dasabala, sedangkan gadis yang merupakan anak satu-satunya itu bernama Durgandini.

Durgandini adalah putri dari pasangan Prabu Basuparicara dengan Dewi Andrika.
Ia memiliki saudara kembar lain jenis kelamin yang namanya Durgandana, Durgandini sebenarnya ingin kembali ke Wirata andaikata penyakit bau amis yang dideritanya sembuh.
Namun gara-gara terpesona dengan ketampanan dan kharisma Begawan Palasara, ia mulai lupa akan rencana kembali ke Wirata.
Maka dengan tekad yang mantap, Durgandini bersedia menjadi istri Begawan Palasara.
Ki Dasabala terkejut setelah mengetahui apa yang dikatakan Durgandini, akhirnya tidak lama kemudian Ki Dasabala menikahkan Durgandini dengan Begawan Palasara.

(Selesai)