Senin, 20 Mei 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Lahirnya Astabrata

Gambar : Prabu Sentanu 

Prabu Sentanu dan Dewi Durgandini menikmati masa-masa berdua penuh cinta. Mereka saling memadu kasih dan mencurahkan rasa satu sama lain. Kali ini mereka berdua berada di dalam kamar, keduanya saling bertatap muka hingga tersenyum.

Alangkah romantis pemandangan terbayang dalam angan' Konon sudah lama Prabu Sentanu tidak menjamah wanita semenjak ditinggal istrinya yang terdahulu. Otomatis Prabu Sentanu bangkit gairahnya melihat kecantikan istri mudanya itu meski dulunya seorang janda.

Maka, pucuk dicinta ulam pun tiba...
Mereka berhubungan intim dengan penuh nafsu dan gairah' ibarat petani mencangkul sawah, Prabu Sentanu mengeluarkan seluruh tenaganya demi memuaskan Dewi Durgandini.
Suara desah nafas dan aroma peluh mewarnai peraduan asmara diantara kedua insan yang bergulat tanpa busana. Prabu Sentanu dengan gagahnya menggenjot bagian belakang Dewi Durgandini, alangkah nikmatnya sensasi yang terasa dalam jiwa.

Keintiman yang terjadi antara Prabu Sentanu dan Dewi Durgandini semakin menggelora.
Kedua insan berbeda usia ini saling mencurahkan seluruh rasa cintanya hingga tetesan keringat membasahi selimut penutup. Kemudian permainan asmara itu berakhir dengan rasa lelah yang luar biasa, tentunya Prabu Sentanu teramat puas dengan apa yang dilakukannya terhadap Dewi Durgandini.

Sambil berbalut selimut, Prabu Sentanu mencium mesra pipi kiri dan kanan istrinya itu yang terlihat aduhai tanpa selembar kain. Berkali-kali, Prabu Sentanu memuji kecantikan bekas janda Begawan Palasara itu sambil mengelus rambut panjangnya.

Dewi Durgandini tersenyum dengan lesung pipi yang manis, rambut panjang dan kulit putihnya begitu menggairahkan. Prabu Sentanu berkali-kali membisikkan suara pelan yang berisi kata-kata cinta, Dewi Durgandini begitu tersipu hingga berbalik membisikkan suara pelan kepada suaminya itu.
Prabu Sentanu meminta istrinya kembali membuka selimut, tujuannya sudah pasti... Yakni menanam benih cinta. Mereka melakukan hal itu hingga tengah malam dengan mesra tanpa rasa jenuh sekali pun.

Kisah pun berlanjut, dimana Dewi Durgandini positif hamil setelah mengalami muntah-muntah berselang 2 minggu. Prabu Sentanu hanya tersenyum melihat istri mudanya itu mual-mual' terkesan mengejek tapi inilah suasana hati sang Prabu karena akan segera dikaruniai momongan sekaligus putra mahkota baru pengganti Dewabrata yang kini menjadi brahmana.

Siang dan malam, Dewi Durgandini hanya merasakan beban berat yang mulai membuncit di dalam perutnya. Tidak disangka, Prabu Sentanu kerap menciumi perut istrinya dengan mesra meski kumis sang prabu selalu membuat Dewi Durgandini geli. Tetapi yang namanya cinta sudah pasti membuat siapa pun lupa diri. Bahkan Prabu Sentanu kerap bermesraan seiring berkembangnya sang janin, alangkah mesranya kedua pasangan itu.

Lama Dewi Durgandini mengandung anaknya, kisah pun berpindah ke tempat dimana Bhisma berguru dengan Resi Bargawa. 
Sampai suatu hari, Bhisma kedatangan seorang pangeran dari negeri Wirata yang ternyata adalah keponakan Dewi Durgandini, ialah Seta.
Seta datang ke sana untuk berguru dengan Resi Bargawa dan menyempurnakan ilmu kanuragan yang dimilikinya.

Kehadiran Seta awalnya membuat Bhisma senang lantaran hanya ia sendiri yang menjadi murid.
Namun, seiring berjalannya waktu rupa-rupanya Seta bertranformasi menjadi saingan karena pangeran dari Wirata itu memiliki kekuatan fisik yang mumpuni dibanding Bhisma.
Seta mengaku dirinya keponakan Ibu Tiri Bhisma, tapi Bhisma menganggap bahwa Seta terlalu kuat dan sudah dianggap sakti' jadi tanpa perlu berguru saja sudah dianggap sakti.
Seta amat tersinggung dengan ucapan Bhisma yang dianggap merendahkannya, hingga pada akhirnya terjadi pertengkaran akibat saling sindir.

Resi Bargawa melerai keduanya dan menilai bahwa Bhisma maupun Seta adalah murid yang dicintai.
Dari tatapan matanya, Seta benar-benar ingin menghabisi Bhisma' namun karena masih saudara seperguruan' maka niat itu tidak terlaksana.

Tibalah saatnya Bhisma dan Seta lulus dari perguruan dengan pemberian wasiat yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bhisma diberi wasiat berupa pusaka sakti bernama panah Kyai Jungkat Penatas dan Seta diberi wasiat berupa sebuah jurus bernama Aji Narantaka.
Meski keduanya berjabat tangan, tetap saja aroma dendam masih tercium. Seta berharap kelak bisa berjumpa lagi dengan Bhisma namun bukan sebagai saudara seperguruan tetapi sebagai lawan tanding.

Bhisma pun kembali pulang ke Hastina setelah mendapatkan ilmu dari Resi Bargawa.
Namun, begitu pulang dia sempat tersesat dan berjalan melewati sebuah tempat yang wingit. Rupanya Bhisma sudah dijebak oleh bangsa denawa untuk menjadi santapan makan malam.
Bhisma dihadapkan melawan banyaknya denawa-denawa yang sengaja menjebaknya. Tapi, bukan Bhisma namanya kalau tidak bisa menghadapi mereka semua.

Satu per satu semua lawan dikalahkan hingga ada yang tewas tanpa sisa, sedangkan denawa lainnya kabur karena takut jadi korban kedigdayaan Bhisma. Begitu sudah selesai menghadapi serbuan musuh, Bhisma kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Saat sedang menuju perjalanan pulang, datanglah utusan dari negeri Hastina menghampirinya guna menyampaikan kabar bahwa Dewi Durgandini sudah melahirkan anak.
Bhisma cepat bergegas kembali ke Hastina menemui keluarga yang ditinggalkannya.

Bhisma kembali menemui keluarganya yang lama ditinggal, kali ini ia berbahagia sekali karena dikaruniai adik. Prabu Sentanu tertolong dengan lahirnya anak yang dikandung Dewi Durgandini itu, Prabu Sentanu sudah bersiap menganugerahkan gelar putra mahkota untuk anak barunya itu.
Kemudian disaksikan semuanya, anak yang lahir dari Dewi Durgandini tadi dinamakan Astabrata. Bhisma menyetujui pemberian nama itu untuk adiknya, nama itu sangat cocok untuk adik lain ibu.

Astabrata merupakan nama yang indah untuk adik Bhisma, sebab dirinya meyakini bahwa anak itu akan jadi raja Hastina suatu hari nanti. Prabu Sentanu sudah bertekad untuk memenuhi janji Dewi Durgandini yang waktu itu telah disepakati.

Dewi Durgandini sangat bahagia dengan lahirnya Astabrata, namun dirinya masih merasa hampa lantaran putra sulungnya yang lain kini berada di pertapaan Saptaarga. Siapa lagi kalau bukan Bambang Dipayana, anak hasil pernikahan terdahulu dengan Resi Palasara.

Namun, Dewi Durgandini harus mulai melupakan suami dan anaknya yang kini pergi dari hadapannya. Jelas, kini kelahiran Astabrata menjadi obat yang manjur akan kerinduan terhadap seorang anak. Selama ini Dewi Durgandini tidak pernah berjumpa dengan anaknya yang kini pasti sudah beranjak dewasa seperti Dewabrata.

(Bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar