Jumat, 02 Agustus 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Kembali Ke Hastina

Dewi Durgandini terlanjur percaya dengan mimpi yang ia alami, lalu Wasi Dipayana mengambil sesuatu yang tersimpan di kamar tidurnya. Lalu, diserahkanlah suatu benda yang berupa buku tebal yang diduga adalah Jitabsara. Dewi Durgandini merasa bahwa sudah saatnya ia ingin membaca isi dari Jitabsara. Namun, Wasi Dipayana melarangnya karena buku tersebut sangat keramat dan tidak bisa dibaca semua orang.

Sayangnya Dewi Durgandini tetap memaksa untuk membuka buku itu, begitu dibuka cahaya menyilaukan terpancar dari lembar pertama. Dewi Durgandini tidak bisa melihat isinya sama sekali karena betapa menyilaukannya isi Jitabsara itu. Dewi Durgandini menutup buku itu, ia merasa tidak di-izinkan untuk membaca isinya. Wasi Dipayana hanya mengingatkan agar tidak berani-berani membaca buku itu karena akan menyilaukan mata.

Wasi Dipayana sempat diberi tahu oleh pengarang Jitabsara ini bahwa buku yang dikarang Begawan Palasara tersebut hanya bisa dibaca oleh Pengarang, Pewaris dan Manusia Titisan Dewa.
Itu artinya hanya Begawan Palasara dan Wasi Dipayana yang boleh membacanya, lalu siapa yang dimaksud manusia titisan dewa itu ?

Menurut pengarangnya, manusia titisan dewa yang berhak membacanya adalah ksatria titisan Wisnu. Hanya saja harus menunggu puluhan tahun lagi untuk menanti ksatria titisan Wisnu tersebut.
Dewi Durgandini bertanya kepada Wasi Dipayana tentang ciri-ciri ksatria titisan Wisnu tersebut. Lalu, Wasi Dipayana menjelaskan beberapa ciri-ciri ksatria titisan Wisnu yang akan muncul sebagai pemilik terakhir dari Jitabsara itu.

Pertama, ia berkulit hitam
Kedua, ia merupakan keturunan Sri Rama dari garis Rama Batlawa
Ketiga, ia beristri tiga
Keempat, ia memiliki saudara tua

Itulah ciri-ciri dari ksatria titisan Wisnu yang akan muncul puluhan tahun kemudian.
Wasi Dipayana juga meramalkan bahwa dirinya akan bertemu ksatria titisan Wisnu itu. Kelak dikemudian hati ksatria titisan Wisnu itu akan menjadi jimat hidup yang akan menyelamatkan keturunan Sentanu dari kehancuran. Namun, diprediksi hanya ada satu keturunan Sentanu yang akan selamat dari peristiwa perang besar menurut isi ramalan.

Akhirnya, Dewi Durgandini memahami apa yang telah diramalkan oleh Begawan Palasara setelah semuanya dijelaskan oleh Wasi Dipayana. Lantas, Dewi Durgandini mencoba untuk mengajak Wasi Dipayana kembali ke Hastina. Mendengar ajakan itu, Wasi Dipayana agak keberatan karena harus meninggalkan pertapaan Saptaarga.

Sang dewi menginginkan agar Wasi Dipayana datang kembali ke Hastina sebagai pamomong seluruh rakyat Hastina sekaligus membantu Bhisma Dewabrata yang sudah didaulat sebagai penasehat.
Akhirnya Wasi Dipayana menyetujui, tetapi sebelum pergi meninggalkan Saptaarga' pertapa muda keturunan Begawan Palasara itu menitipkan seluruh isi pertapaan kepada seluruh cantrik-cantriknya agar semua berjalan seperti biasa.

Syahdan, pergilah Wasi Dipayana bersama Dewi Durgandini ke Hastina. Mereka menaiki kereta kuda yang mewah dan gemerlapan. Perjalanan kereta kuda itu akhirnya sampai di negeri Hastina, begitu turun dari dalam kereta kuda' Wasi Dipayana disambut oleh banyak prajurit dan pengawal.
Dari jauh terlihat Bhisma Dewabrata menyaksikan Dewi Durgandini bersama Wasi Dipayana. Segera, Bhisma Dewabrata menjemput dan memeluk Wasi Dipayana.

Alangkah indahnya pelukan itu, sebab Wasi Dipayana adalah orang yang selama ini dicari untuk menentramkan Hastina. Mengingat sifat angkara mura Prabu Citranggada telah mencapai puncaknya, dalam hal ini Wasi Dipayana mendapat tugas untuk mengingatkan sang raja agar tidak berbuat lebih jauh lagi.

Sebetulnya, Wasi Dipayana tidak menjamin apa yang ia lakukan mampu meluluhkan Prabu Citranggada. Setidaknya, sebisa mungkin Wasi Dipayana mencoba untuk meyakinkan raja agar menghentikan invasi-invasi yang berbuah korban jiwa.

Tanpa menunggu lama, Bhisma Dewabrata meminta agar Wasi Dipayana bertemu dengan Prabu Citranggada. Akhirnya bertemulah kedua orang yang masih saudara seibu itu.
Waktu itu Prabu Citranggada sedang mengasah pedang dan ujung tombaknya, diduga sang prabu sedang mempersiapkan invasi ke negeri-negeri lain. Wasi Dipayana dengan bijak menasehati Prabu Citranggada untuk membatalkan usaha invasi itu karena dianggap melanggar hak azasi manusia.

Namun, Prabu Citranggada menolak untuk berhenti karena demi ambisinya untuk menyatukan seluruh negeri-negeri taklukan dibawah naungan Hastina. Wasi Dipayana mencoba untuk mengingatkan kepada sang prabu agar tidak merusak kedamaian, bahkan sang pendeta muda itu menyarankan raja Hastina agar segera berdamai dengan negeri-negeri jajahan.

Mendengar ucapan Wasi Dipayana, Prabu Citranggada murka seolah-olah ingin menantang bertarung. Maka dengan suara lantang, Prabu Citranggada yang merasa tangguh dan perkasa itu meminta Wasi Dipayana adu kekuatan.
Sontak Bhisma Dewabrata memotong perkataan Prabu Citranggada, semua berubah menjadi tegang.

Bhisma Dewabrata mencoba untuk mencairkan suasana dengan melerainya, namun watak keras Prabu Citranggada tidak bisa dihancurkan dengan segala macam nasehat-nasehat bijak.
Kemudian, Wasi Dipayana setuju menerima tantangan Prabu Citranggada. Bhisma kaget, mengapa sang wasi menerima tantangan itu ?

Wasi Dipayana tentu mempunyai rencana lain, dan sudah pasti dengan adu kesaktianlah urusan akan menjadi lebih jelas. Bhisma mungkin ingin tahu seberapa kuatnya kesaktian Wasi Dipayana yang merupakan pertapa muda nan berbakat dalam olah kanuragan.
Waktu dan tempat sudah ditentukan, kali ini adu kesaktian berlangsung di pelataran alun-alun Hastinapura. Bhisma ditunjuk sebagai wasit dalam adu kesaktian ini.

Pertarungan antara Prabu Citranggada melawan Wasi Dipayana segera dimulai.
Mula-mula Prabu Citranggada menyerang dulu dengan menggunakan pedang.
Tebasan pedang sang Prabu sangat cepat bagaikan tanpa bayangan.

Wasi Dipayana dengan santai menghadapinya, bahkan ketika pedang yang menari-nari ke arah wajahnya hendak menebas leher' sontak pedang itu ditangkap ujungnya.
Dengan kekuatan tenaga dalam, Wasi Dipayana berhasil mematahkan pedang itu dengan menggunakan sepasang jarinya. Prabu Citranggada terkejut, serangan pedang bisa dipatahkan begitu saja hanya dengan sepasang jari.

Serangan pedang gagal, Prabu Citranggada menggunakan tombak untuk menyerang.
Lagi-lagi Wasi Dipayana menunjukkan kebolehannya dalam adu kesaktian. Pertapa muda itu tidak merasa kacau saat harus menghadapi tusukan-tusukan ujung tombak.
Sekali lagi Wasi Dipayana unggul dalam adu kesaktian, serangan tombak Prabu Citranggada berhasil dipatahkan hanya dengan ilmu dua jari.

Hilang sabar, Prabu Citranggada berniat menyerangnya lagi dengan memakai senjata pusaka berupa keris. Untuk yang satu ini, Wasi Dipayana memiliki senjata pusaka juga yaitu keris pulanggeni yang merupakan warisan leluhurnya. Terlalu sering menahan serangan, Wasi Dipayana akhirnya melawan dengan keris pulanggeni menggenggam di tangan kanannya.

Bhisma Dewabrata yang menyaksikan adu kesaktian itu sudah memprediksi bahwa Prabu Citranggada akan kalah dalam pertarungan.
Sudah banyak serangan dilancarkan, tetapi dengan mudah dipatahkan oleh lawan tandingnya. Dewi Durgandini meminta Bhisma untuk menghentikan pertarungan ini, ia takut salah satu diantara mereka akan ada yang tewas.

Bhisma pun menuruti titah Dewi Durgandini, pertarungan dihentikan untuk menghidari korban diantara dua pihak. Prabu Citranggada kesal karena ia masih merasa mampu untuk bertarung melawan Wasi Dipayana. Akan tetapi ini adalah suatu titah yang tidak bisa diganggu gugat.

Dengan wajah kesal, Prabu Citranggada pergi dari arena sambil menggenggam tangan. Dalam hati, ia bertekad ingin menghadapi Wasi Dipayana lagi. Keputusan untuk menghentikan pertarungan ini dipicu kekhawatiran yang akan memancing kecurigaan rakyat.

Bhisma mengevaluasi hasil pertarungan tadi, ia mengatakan bahwa Wasi Dipayana cukup unggul dalam menguasai pertarungan tanpa mengeluarkan secuil tenaga pun.
Sedangkan Prabu Citranggada sudah terpancing amarahnya sehingga banyak tenaga yang dihabiskan hanya untuk menyerang Wasi Dipayana.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar