Jumat, 27 September 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Prabu Citranggada Berguru Dengan Resi Seta

Gambar : Seta Putra Matswapati

Prabu Citranggada bersumpah akan membalas kekalahannya dari Wasi Dipayana.
Ia merasa belum ingin mundur, karena sebagai raja terkuat dirinya merasa pantas dipuja rakyat.
Wasi Dipayana menganggap Prabu Citranggada terlalu membangga-banggakan ilmu kanuragannya yang hampir mirip Bhisma.
Wasi Dipayana merasa ini sebuah bagian dari ujian agar mendapat pengakuan dari seluruh penghuni keraton Hastina.

Malam pun telah tiba, di dalam kamar tidurnya sang Prabu masih belum percaya bagaimana mungkin ia bisa kalah dari seorang pertapa bernama Wasi Dipayana. Dalam hati ia memikirkan banyak cara untuk melampaui kesaktian Wasi Dipayana. Ia takut kelak rakyat Hastina lebih memilih Wasi Dipayana sebagai raja.

Rasa kekhawatiran terhadap Wasi Dipayana membuat Prabu Citranggada berpikir lebih jauh untuk mencari solusi.
Keesokan harinya, Prabu Citranggada tidak hadir dalam pasewakan agung. Pertemuan dengan sejumlah menteri tidak dilaksanakan. Rupanya, Prabu Citranggada pergi keluar istana tanpa sepengetahuan orang-orang termasuk prajurit penjaga.

Apa yang sebenarnya terjadi pada raja muda Hastina itu ?
Apakah ini karena faktor kekalahannya kemarin dengan Wasi Dipayana ?

Mungkin saja, Prabu Citranggada pergi dari negerinya untuk melakukan konsultasi dengan pertapa dari Parianom' Resi Seta yang tidak lain adalah saudara seperguruan Bhisma. Prabu Citranggada mengadu kepada Resi Seta atas kekalahannya melawan Wasi Dipayana. Sang prabu meminta agar dirinya digembleng lagi supaya bisa menyaingi Wasi Dipayana.
Resi Seta merespon permintaan Prabu Citranggada, tetapi sayangnya pertapa yang masih keponakan Dewi Durgandini sendiri sekaligus sepupu sang Prabu justru menolaknya. Sebab, Resi Seta tidak mau ikut campur masalah persaingan antar anggota keluarga.

Resi Seta justru menyarankan agar Prabu Citranggada berdamai dengan Wasi Dipayana, terhitung masih satu darah keturunan Wirata. Tetapi putra Prabu Sentanu ini masih keras kepala tidak mau rukun dengan sesama putra Durgandini.
Maka demi memuaskan hatinya,

Resi Seta terpaksa mengajarkan ilmu kanuragan kepada raja Hastina itu.
Berhari-hari Prabu Citranggada mempelajari ilmu kanuragan dari Resi Seta ternyata ada peningkatan kekuatan yang cukup pesat.
Bahkan Prabu Citranggada mampu menguasai elemen-elemen penting seperti Air, Api, Angin dan Tanah. Obsesinya cuma satu, yakni mengalahkan Wasi Dipayana dan mengklaim diri sebagai raja terkuat di dunia.

Setelah pembelajaran selesai, Resi Seta justru meminta agar Prabu Citranggada kembali ke Hastina karena sudah pasti negeri itu lowong ditinggal rajanya.

Namun, Prabu Citranggada menolak kembali sebelum diajarkan jurus terakhir. Resi Seta terkejut, mengapa ada jurus terakhir yang diminta ?

Prabu Citranggada tahu bahwa Resi Seta memiliki jurus ampuh yang bernama Aji Narantaka, warisan Begawan Ramabargawa.
Resi Seta menolak untuk memberikan Aji Narantaka kepada Prabu Citranggada dengan alasan jurus itu sangat berbahaya dan tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Tetapi, Prabu Citranggada bersikeras untuk diajari jurus itu.

Resi Seta menuding bahwa Prabu Citranggada akan menggunakan Aji Narantaka untuk mengalahkan Wasi Dipayana. Prabu Citranggada tertunduk, ia merasa rencana sebenarnya dibalik permintaan itu terbaca dari raut wajah.
Resi Seta dengan tegas tidak akan mengajarkan jurus mematikan itu kalau tujuannya hanya untuk menyingkirkan sesama manusia.

Aji Narantaka sejatinya diciptakan untuk melindungi seluruh umat manusia dan bukan dipakai untuk mengalahkan saingan yang masih saudara sendiri. Akhirnya Prabu Citranggada tidak jadi meminta jurus itu, namun Resi Seta justru memerintahkan adik
Bhisma tersebut mempelajari kitab jurus yang diduga adalah salinan mantra Aji Narantaka.
Resi Seta bilang kalau ingin bisa mempelajari dan menguasai Aji Narantaka, isi dari kitab jurus itu harus dibaca sampai selesai.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar