Jumat, 22 November 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Pulang Dari Masa Pembelajaran

Namun, Resi Seta tidak menjamin Prabu Citranggada bisa mempelajari Aji Narantaka sampai selesai.
Sebab, banyak aturan dan pantangan yang harus diperhatikan agar dalam menguasai jurus itu tidak sampai kebablasan.
Resi Seta tidak sungkan-sungkan memberikan ujian berat bagi orang yang berguru padanya. Untuk menjadi sakti mandraguna saja butuh latihan rutin dan keras agar penyempurnaan jurus bisa berhasil.

Maka dengan tekad yang bulat, Prabu Citranggada mulai berlatih keras demi menyempurnakan Aji Narantaka.
Walau pun begitu, ambisi sang Prabu masih terasa berkobar dalam hatinya. Ia sebagai putra Prabu Sentanu merasa tidak boleh kalah dengan anak pertapa dari Saptaarga.
Latihan berat pun dijalani dengan penuh kesiapan mental, cuaca yang silih berganti tidak membuat sang Prabu gentar.
Satu demi satu dilewati, rintangan dan cobaan dilalui untuk menyempurnakan Aji Narantaka. Tidak sampai beberapa hari, semua tuntas tanpa kendala berarti.

Cita-cita Prabu Citranggada tercapai, dirinya kali ini mampu menguasai Aji Narantaka.
Resi Seta puas melihat pencapaian muridnya itu sekaligus pula khawatir, karena Aji Narantaka adalah jurus berbahaya yang tidak boleh sembarangan orang memakainya.
Resi Seta takut kalau nantinya Aji Narantaka dipakai untuk membunuh orang.

Apalagi, Resi Seta merupakan saudara sepupu Wasi Dipayana. Resi Seta mewanti-wanti akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan antara raja Hastina dengan pertapa muda dari Saptaarga itu.

Pasca pembelajaran usai, Prabu Citranggada mohon pamit pulang ke Hastina. Ia merasa sudah terlalu lama meninggalkan negerinya itu karena sibuk berlatih.
Akhirnya sang Prabu kembali pulang ke Hastina, Resi Seta anggap semua baru saja dimulai. Karena menjadi seorang raja memang butuh banyak belajar dari kesalahan raja-raja terdahulu. Resi Seta berharap, Prabu Citranggada bisa seperti raja-raja Hastina terdahulu. Karena mungkin saja ini adalah kesempatan baru untuk lebih baik.

Di negeri Hastina, Dewi Durgandini dan Resi Bhisma sudah menanti cukup lama akan kepulangan Prabu Citranggada. Mereka sampai cemas dan berharap-harap tidak ada sesuatu yang mengganggu.
Tidak lama, datanglah prajurit melapor kepulangan Prabu Citranggada. Lantas keduanya segera bergegas menyambut sang Prabu yang kembali ke istana.

Dengan langkah tegak, Prabu Citranggada turun dari kudanya dan disambut oleh Resi Bhisma. Prabu Citranggada senang bisa kembali dengan selamat tanpa halangan berarti. Namun, sang prabu heran sehingga menanyakan dimana keberadaan Perbatakusuma adiknya.

Resi Bhisma mengatakan bahwa Perbatakusuma sedang berguru di Saptaarga dengan Wasi Dipayana. Mendengar hal itu, Prabu Citranggada langsung terdiam dengan tangan menggenggam. Prabu Citranggada protes kenapa Perbatakusuma berguru pada Wasi Dipayana ?

Resi Bhisma menjawab Perbatakusuma berguru kepada Wasi Dipayana bertujuan untuk meningkatkan ilmu spiritualitasnya agar menjadi pribadi yang luhur.

Tapi, Prabu Citranggada tidak peduli apa yang dilakukan Perbatakusuma.
Baginya kini Aji Narantaka sudah dimiliki sebagai kekuatan baru untuk menjadikan diri sebagai raja terkuat.

Prabu Citranggada kembali duduk di singgasana pada keesokan harinya. Yang hadir pada pertemuan hari itu sangat sedikit dan tidak seperti biasanya. Sang prabu marah karena jumlah menteri-menteri dan punggawa-punggawa yang hadir tidak sebanyak kala pertama kali menjadi raja. Padahal hari ini ada pertemuan penting, imbuh Prabu Citranggada.

Saat pertemuan yang dihadiri sedikit menteri berlangsung, datanglah utusan dari negeri luar membawa sebuah surat.
Surat itu berisi ajakan mengikuti sayembara beladiri untuk memperebutkan putri raja.

Surat ajakan mengikuti sayembara itu berasal dari negeri Giyantipura. Tertera dalam tanda tangan tulisan itu berbunyi "Salam Hormat Dari Prabu Darmamuka".
Rupanya Prabu Darmamuka sedang mencarikan calon suami untuk ketiga orang putrinya yaitu Amba, Ambika dan Ambalika.

Prabu Citranggada diminta untuk memenuhi undangan sayembara ke negeri Giyantipura melawan raja-raja dan pangeran-pangeran dari 1000 negara dalam arena blabar kawat.
Sebenarnya Prabu Citranggada ingin ikut sayembara ini, tetapi karena masih sibuk mengurus negara yang lama ditinggal akhirnya diutuslah Resi Bhisma sebagai perwakilan.

Resi Bhisma menyanggupi karena dia sendiri merupakan kakak sang Prabu. Maka berangkatlah Resi Bhisma ke negeri Giyantipura sendirian. Di tengah perjalanan, Resi Bhisma ingat bahwa dirinya tidak boleh sendiri ke sana. Resi Bhisma berencana mengajak Wasi Dipayana untuk ikut sayembara.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar