Sabtu, 25 April 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Memboyong Putri Raja Giyantipura

Tanpa pengawalan, Resi Bhisma berangkat menuju Giyantipura sambil mengendarai kereta kuda. Tidak ketinggalan, Wasi Dipayana juga ikut diajak menemani Resi Bhisma ke sayembara. Sesampainya di Giyantipura, semua orang sudah beramai-ramai melihat jalannya sayembara itu. Banyak raja dan pangeran berkumpul menunggu giliran untuk beradu kesaktian.

Resi Bhisma dan Wasi Dipayana ikut menonton jalannya sayembara yang jumlah penontonnya cukup ramai. Di sebuah balkon, terlihat Prabu Darmamuka dan permaisuri. Di samping ada tiga orang putri raja yakni Amba, Ambika dan Ambalika.

Negeri Giyanti pura benar-benar ramai pada hari itu, semua orang berkumpul bahkan sampai berdesak-desakan untuk menyaksikan pertarungan sengit antar para ksatria di atas arena blabar kawat.

Sayembara ini berbentuk kejuaraan beladiri, sebab hanya orang terkuat saja yang bisa menuntaskan pertarungan dan berhak menjadi pendamping hidup ketiga putri raja tersebut.
Amba, Ambika dan Ambalika adalah ketiga putri yang diperebutkan oleh seluruh peserta.

Resi Bhisma dan Wasi Dipayana sendiri mewakili negeri Hastina, meski pun cuma jadi wakil mereka tetap ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut. Sampai suatu ketika, Resi Bhisma maju ke dalam arena. Dia berhadapan dengan seorang raja dari negeri seberang bernama Prabu Sasrahambara.

Resi Bhisma berhadapan dengan Prabu Sasrahambara, pertarungan pun dimulai.
Mereka berdua adu kesaktian dan saling menjual serangan. Tetapi, jelas dari sisi mental lebih kuat Resi Bhisma. Tanpa banyak kata, Resi Bhisma mengalahkan Prabu Sasrahambara hanya dengan sekali pukul.

Wasit yang melihat jatuhnya Prabu Sasrahambara segera menetapkan Resi Bhisma sebagai pemenang. Kemudian pertandingan dilanjut dengan munculnya peserta berikutnya.
Kali ini giliran Wasi Dipayana yang maju menunjukkan kebolehan. Sedangkan lawan tandingnya adalah seorang raja bernama Prabu Lokayanti.

Wasi Dipayana bertarung melawan Prabu Lokayanti dengan menggunakan tengan kosong.
Wasi Dipayana dengan santai melawan Prabu Lokayanti hanya dengan menahan serangan-serangannya saja.

Prabu Lokayanti heran, kenapa Wasi Dipayana tidak menyerangnya ?
Tapi, beberapa saat kemudian Prabu Lokayanti kehabisan tenaga dan mulai kelelahan karena banyak menyerang. Disitulah Wasi Dipayana mulai menyerang, cukup dengan menghardik saja malah Prabu Lokayanti tumbang. Wasit menetapkan Wasi Dipayana sebagai pemenang dan melaju ke babak selanjutnya mengikuti Resi Bhisma.

Pertarungan dilanjutkan kembali, kali ini muncul seorang raja muda bernama Prabu Salwa.
Raja yang satu ini tergolong sebaya dengan Prabu Citranggada, namun memiliki perangai yang cukup tenang dan dewasa. Tidak seperti anak muda pada umumnya, Prabu Salwa terhitung sangat hati-hati menghadapi lawannya.

Prabu Salwa mengikuti sayembara ini dengan harapan bisa memboyong Dewi Amba.
Kenapa hanya Dewi Amba ?

Karena Dewi Amba adalah satu-satunya putri Prabu Darmamuka yang ia cintai.
Sejatinya Dewi Amba juga mencintai Prabu Salwa, mengingat kedua figur ini sudah berjanji untuk hidup bersama. Namun, Prabu Darmamuka mengajukan syarat berat.
Prabu Salwa harus menunjukkan kesaktiannya dulu sebelum mempersunting Dewi Amba.
Prabu Salwa awalnya menolak, tetapi karena demi cinta' maka tidak ada pilihan lain.

Prabu Salwa dikenal sebagai raja berusia muda yang berbakat dalam olah kanuragan.
Mengingat dia adalah petarung yang pilih tanding dan paling ditakuti lawan-lawannya.
Kali ini ia maju untuk memenangkan sayembara dan memboyong Dewi Amba, padahal sejatinya saat Prabu Salwa mulai menyukai Dewi Amba karena saat itu mereka terlibat kisah asmara sembunyi-sembunyi. Namun, hubungan antara Prabu Salwa dan Dewi Amba tidak direstui oleh Prabu Darmamuka.

Prabu Darmamuka tidak senang putri sulungnya itu dicintai oleh seorang ksatria yang tidak mau memamerkan kesaktiannya. Bagi Prabu Darmamuka, kesaktian adalah syarat mutlak untuk menjadi menantunya. Sebab, Kerajaan Giyantipura dikenal sebagai negeri yang melahirkan jago-jago tanding.

Prabu Salwa naik ke atas arena dan siap-siap bertarung. Rupanya lawan tandingnya adalah seorang denawa kembar bernama Wahmuka dan Arimuka.
Prabu Salwa tidak gentar menghadapi keduanya. Pertarungan dimulai dari serangan Wahmuka secara membabi buta.

Wahmuka yang sudah lama tidak makan daging manusia ingin segera mengalahkan lawannya itu. Arimuka disampingnya juga berhasrat serupa untuk memakan lawan tandingnya. Prabu Salwa merasa risih dengan keberadaan kedua denawa itu, akhirnya Prabu Salwa melakukan serangan. Pertarungan satu lawan dua menjadi tontonan menarik.

Sebab, Wahmuka dan Arimuka tidak boleh berpisah jika sedang bertarung. Giliran Prabu Salwa menyerang dengan jurus mematikan, Wahmuka terkena jurus itu dan mati.
Arimuka melihat saudaranya mati segera melompati Wahmuka dan hidup kembali. Prabu Salwa tercengang, ia mencoba melawan Arimuka yang tadi menghidupkan Wahmuka.
Arimuka pun tewas terkena jurus serupa, akan tetapi sekali lagi' Begitu dilompati tubuh yang mati bisa hidup lagi.

Prabu Salwa tidak percaya, dua kali ia serang dengan jurus yang sama tetapi masih bisa hidup kembali. Dan disaat Prabu Salwa lengkah, Wahmuka dan Arima menyerangnya. Prabu Salwa dibanting-banting sampai babak belur, penonton di sekitar tribun terbelalak melihat pemandangan itu.

Kemudian, Arimuka melemparnya ke luar arena dan terjatuh penuh memar. Akhirnya Prabu Salwa dinyatakan kalah oleh Prabu Darmamuka karena gagal menyelesaikan pertarungan.
Kini giliran Bhisma dan Wasi Dipayana yang ikut bertarung melawan kedua denawa itu.
Bhisma dan Wasi Dipayana kompak maju bersama melawan Wahmuka serta Arimuka diatas arena.

Pertarungan pun kembali dimulai, Arimuka menyerang Wasi Dipayana terlebih dahulu. Sedangkan Wahmuka menyerang Bhisma, pertarungan dua lawan dua tersaji begitu sengit. Sampai-sampai penonton berteriak mendukung perwakilan dari Hastina itu guna menandingi Arimuka dan Wahmuka.

Wasi Dipayana dengan santai berhadapan dengan Arimuka, berkali-kali Arimuka menyerangnya bahkan berusaha menangkap untuk dibanting.
Tetapi kecepatan Wasi Dipayana sangat bagus, sehingga serangan Arimuka selalu bisa ditangkis. Begitu pun Bhisma yang juga hanya membiarkan Wahmuka menyerangnya secara brutal.

Bhisma tahu bagaimana cara mengalahkan Wahmuka dan Arimuka, kemudian Bhisma memberi perintah kepada Wasi Dipayana untuk menyerang kedua denawa itu bersama-sama. Tujuannya agar Wahmuka tidak melompati Arimuka yang sudah diserang. Lalu, Wasi Dipayana melepas senjata panah ke arah Arimuka dan tewaslah dia.

Begitu juga Bhisma yang menyerang Wahmuka dengan senjata panah, Maka tewaslah juga Wahmuka sehingga tidak hidup lagi dan melompati Arimuka.
Keajaiban pun terjadi, Wahmuka dan Arimuka yang tewas terkena panah lantas berubah wujud menjadi dua pemuda tampan.

Sejatinya dua pemuda jelmaan denawa Wahmuka dan Arimuka itu adalah putra Prabu Darmamuka selain Dewi Amba, Ambika dan Ambalika.
Setelah kembali ke wujud manusia, dua pemuda itu berterima kasih karena sudah meruwatnya. Maka dengan ini dinyatakan Bhisma dan Wasi Dipayana sebagai pemenang sayembara itu.

Keduanya berhak memboyong ketiga putri Prabu Darmamuka untuk dinikahi. Setelah ini Bhisma dan Abiyasa pulang ke Hastina' namun di tengah jalan mereka berdua dihadang oleh prajurit-prajurit bersenjata lengkap, diduga mereka adalah suruhan Prabu Salwa.

Bhisma mengira gerombolan orang bersenjata itu adalah perampok, tetapi dia agak curiga dengan piranti yang dipakai. Bhisma tahu bahwa mereka bukan perampok tapi prajurit suruhan Prabu Salwa yang tidak rela pujaan hatinya, Dewi Amba diboyong. Prabu Salwa muncul lalu menantang Bhisma bertarung, Wasi Dipayana ingin menghardik raja muda itu karena dianggap lancang karena sudah menghalang-halangi.

Bhisma mencoba tenangkan Wasi Dipayana yang hampir turun dari kereta kuda. Bhisma pun meladeni kemauan Prabu Salwa untuk berduel di tengah perjalanan.
Namun, Dewi Amba melerai mereka berdua dan menasehati Prabu Salwa untuk merelakan dirinya jadi permaisuri pangeran Hastina.

Prabu Salwa tidak peduli dengan nasehat Dewi Amba dan nekat menyerang Bhisma. Maka tidak ada pilihan lain, sang putra Gangga beradu kesaktian dengan Bhisma. Namun, karena Prabu Salwa kalah sakti maka dengan mudah dikalahkan.
Para prajurit ketakutan melihat kesaktian Bhisma, mereka pun kabur sambil membawa pergi Prabu Salwa yang sudah terluka.

Seusai kejadian tadi, Bhisma dan Wasi Dipayana kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Hastina. Di Hastina sendiri semua orang sudah menunggu kepulangan Bhisma. Tidak lama putra Sentanu muncul dari kejauhan sambil membawa putri boyongan yakni Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Sesampainya di depan istana, Bhisma turun dari kereta beserta Wasi Dipayana dan ketiga putri boyongan. Di dalam istana terlihat Prabu Citranggada dan Perbatakusuma sedang duduk menanti kepulangan Bhisma, kakak mereka berdua.

Lalu, Bhisma memperkenalkan ketiga putri itu ke hadapan Dewi Durgandini sebagai calon menantu. Dewi Amba akan dinikahkan dengan Bhisma, Dewi Ambika akan dinikahkan dengan Prabu Citranggada dan Dewi Ambalika akan dinikahkan dengan Perbatakusuma.

Maka seminggu kemudian dilangsungkanlah pernikahan ketiganya, Bhisma dinikahkan dengan Dewi Amba. Selanjutnya raja muda Hastina Prabu Citranggada dinikahkan dengan Dewi Ambika dan Perbatakusuma dinikahkan dengan Dewi Ambalika.
Wasi Dipayana didaulat sebagai saksi atas pernikahan ketiganya, maka lengkap sudah apa yang selama ini diharapkan oleh Dewi Durgandini.

Dewi Durgandini turut bahagia atas pernikahan ketiga putranya itu, Bhisma menikahi Dewi Amba. Sedangkan Prabu Anom Citranggada menikahi Dewi Ambika dan Perbatakusuma menikahi Dewi Ambalika.

Seusai hari pernikahan, Bhisma dan Dewi Ambika menetap di pertapaan Talkanda sembari menemani Begawan Sentanu. Prabu Anom Citranggada mengangkat Dewi Ambika menjadi permaisuri/ratu tunggal kerajaan dan Perbatakusuma bertahta sebagai penasehat raja disamping menjadi suami Dewi Ambalika.
Yang belum menikah tinggal Wasi Dipayana, meski Dewi Durgandini bahagia tetapi rasanya ada yang kurang.

Dewi Durgandini prihatin dengan Wasi Dipayana yang belum beristri, bahkan sang ibu suri menawarkan putri kerajaan lain untuk dinikahkan kepada putranya itu.
Tetapi, Wasi Dipayana belum ingin menikah dan tetap fokus menjalani hidup sebagai pertapa yang ingin mendamaikan alam mayapada.
Dewi Durgandini menerima keputusan itu, tetapi Wasi Dipayana tidak pedulinya dirinya belum memiliki pasangan atau punya.

(Bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar