Cerita
berlanjut di pertapaan Talkanda, dimana Bhisma menjalani hidup bersam
Dewi Amba. Begawan Sentanu amat senang melihat putra tunggalnya dari
Dewi Gangga akhirnya bisa berkeluarga. Suatu ketika Dewi Amba
hamil, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Sepertinya Dewi
Amba mendapat sasmita dari dewata bahwa dirinya akan melahirkan anak
kembar. Ternyata sasmita itu bukan pertanda baik namun malah pertanda
buruk. Sebab anak kembar yang dikandungnya merupakan sepasang anak
laki-laki yang berbeda sifat.
Yang dikhawatirkan adalah jika keduanya saling bertikai maka akan menjadi perang saudara di kemudian hari. Hal ini merujuk pada ramalan Begawan Palasara bahwa kelak anak-anak Sentanu akan saling menumpahkan darah. Dewi Amba takut meski dalam keadaan hamil kelak akan melahirkan anak kembar lelaki.
Bhisma sebenarnya sudah mengetahui hal itu, meningat ia seorang pertapa sakti. Dan waktunya pun tiba, Dewi Amba melahirkan anak kembarnya pada saat malam purnama. Begitu lahir ternyata sepasang bayi kembar itu berbeda rupa meski sama-sama manusia.
Bayi sebelah kiri berwajah biasa, sedangkan bayi sebelah kanan malah berwajah setengah denawa. Dewi Amba kaget melihat peristiwa yang menimpa kedua anaknya itu. Dewi Amba takut kalau nanti kedua anak itu akan saling bermusuhan seperti firasatnya. Maka demi kebaikan, kedua bayi itu dilarung ke sungai agar bisa menemukan orang yang mau mengasuhnya.
Sampai suatu ketika, Bhisma mendapati kedua anaknya hilang. Dewi Amba berbohong pada suaminya itu kalau kedua anaknya diculik. Padahal Dewi Amba membuangnya agar tidak menimbulkan malapetaka di kemudian hari. Bhisma murka mendengar alasan itu, justru Bhisma menuduh Dewi Amba telah menelantarkan kedua anaknya yang masih bayi tersebut.
Dewi Amba pun mengakui perbuatannya dan mengatakan bahwa dirinya sengaja melakukan hal itu demi menyelamatkan keluarga dari pertikaian yang telah diramalkan.
Yang dikhawatirkan adalah jika keduanya saling bertikai maka akan menjadi perang saudara di kemudian hari. Hal ini merujuk pada ramalan Begawan Palasara bahwa kelak anak-anak Sentanu akan saling menumpahkan darah. Dewi Amba takut meski dalam keadaan hamil kelak akan melahirkan anak kembar lelaki.
Bhisma sebenarnya sudah mengetahui hal itu, meningat ia seorang pertapa sakti. Dan waktunya pun tiba, Dewi Amba melahirkan anak kembarnya pada saat malam purnama. Begitu lahir ternyata sepasang bayi kembar itu berbeda rupa meski sama-sama manusia.
Bayi sebelah kiri berwajah biasa, sedangkan bayi sebelah kanan malah berwajah setengah denawa. Dewi Amba kaget melihat peristiwa yang menimpa kedua anaknya itu. Dewi Amba takut kalau nanti kedua anak itu akan saling bermusuhan seperti firasatnya. Maka demi kebaikan, kedua bayi itu dilarung ke sungai agar bisa menemukan orang yang mau mengasuhnya.
Sampai suatu ketika, Bhisma mendapati kedua anaknya hilang. Dewi Amba berbohong pada suaminya itu kalau kedua anaknya diculik. Padahal Dewi Amba membuangnya agar tidak menimbulkan malapetaka di kemudian hari. Bhisma murka mendengar alasan itu, justru Bhisma menuduh Dewi Amba telah menelantarkan kedua anaknya yang masih bayi tersebut.
Dewi Amba pun mengakui perbuatannya dan mengatakan bahwa dirinya sengaja melakukan hal itu demi menyelamatkan keluarga dari pertikaian yang telah diramalkan.
Bhisma
gelap mata ia menganggap perbuatan Dewi Amba sudah keterlaluan. Tanpa
rasa iba, Bhisma mengangkat gandewa dan mengarahkannya ke arah Dewi
Amba.
Dewi Amba ketakutan melihat Bhisma mengarahkan gandewa yang sudah dilepas anak panahnya. Bhisma melakukannya agar bisa mengusir Dewi Amba sekaligus mencari keberadaan anak kembarnya yang telah dilarung ke sungai secara rahasia.
Namun, kodrat dewata sudah memutuskan bahwa nasib Dewi Amba harus berakhir di tangan Bhisma. Panah pun lepas lalu menancap di dada Dewi Amba, maka matilah putri kerajaan Giyantipura itu ditangan suaminya sendiri. Bhisma terkejut Dewi Amba mati ditangannya sendiri. Bhisma merasa berdosa karena sudah mengakhiri nyawa istrinya sendiri.
Tidak disangka peristiwa memilukan itu diketahui oleh Begawan Sentanu, sambil melotot kedua matanya' Begawan Sentanu menghampiri Bhisma yang sudah berlumuran darah kedua tangannya.
Begawan Sentanu murka atas perbuatan Bhisma, sekali lagi semua ini bukan salahnya itu yang dikatakan Bhisma pada ayahnya itu.
Bhisma menjelaskan dirinya marah karena bayi kembarnya dibuang karena takut kelak anak-anaknya itu bermusuhan lantaran percaya dengan ramalan Begawan Palasara.
Begawan Sentanu mengerti, tetapi ia mengatakan tidak perlu sampai membuang bayinya segala. Namun, ini sudah menjadi takdir karena termakan oleh ramalan itu.
Maka setelah kejadian itu Bhisma menyendiri ke pinggir sungai sambil melamunkan kematian Dewi Amba. Tidak lama muncullah sukma Dewi Gangga, ibu kandung Bhisma yang datang menghampiri.
Bhisma terkejut melihat ibunya muncul seraya memeluk dan menangis dalam dekapan. Bhisma mengaku rindu dengan ibu kandungnya yang sudah lama meninggalkannya .
Dewi Amba ketakutan melihat Bhisma mengarahkan gandewa yang sudah dilepas anak panahnya. Bhisma melakukannya agar bisa mengusir Dewi Amba sekaligus mencari keberadaan anak kembarnya yang telah dilarung ke sungai secara rahasia.
Namun, kodrat dewata sudah memutuskan bahwa nasib Dewi Amba harus berakhir di tangan Bhisma. Panah pun lepas lalu menancap di dada Dewi Amba, maka matilah putri kerajaan Giyantipura itu ditangan suaminya sendiri. Bhisma terkejut Dewi Amba mati ditangannya sendiri. Bhisma merasa berdosa karena sudah mengakhiri nyawa istrinya sendiri.
Tidak disangka peristiwa memilukan itu diketahui oleh Begawan Sentanu, sambil melotot kedua matanya' Begawan Sentanu menghampiri Bhisma yang sudah berlumuran darah kedua tangannya.
Begawan Sentanu murka atas perbuatan Bhisma, sekali lagi semua ini bukan salahnya itu yang dikatakan Bhisma pada ayahnya itu.
Bhisma menjelaskan dirinya marah karena bayi kembarnya dibuang karena takut kelak anak-anaknya itu bermusuhan lantaran percaya dengan ramalan Begawan Palasara.
Begawan Sentanu mengerti, tetapi ia mengatakan tidak perlu sampai membuang bayinya segala. Namun, ini sudah menjadi takdir karena termakan oleh ramalan itu.
Maka setelah kejadian itu Bhisma menyendiri ke pinggir sungai sambil melamunkan kematian Dewi Amba. Tidak lama muncullah sukma Dewi Gangga, ibu kandung Bhisma yang datang menghampiri.
Bhisma terkejut melihat ibunya muncul seraya memeluk dan menangis dalam dekapan. Bhisma mengaku rindu dengan ibu kandungnya yang sudah lama meninggalkannya
Di
hadapan Dewi Gangga, Bhisma menceritakan semuanya. Mulai dari kegagalan
menjadi raja hingga memenangkan sayembara dan sampai pula pada
peristiwa yang baru saja ia alami.
Dewi Gangga turut prihatin atas nasib yang menimpa Bhisma, Dewi Gangga sangat tahu betul mengapa semua ini terjadi pada anak semata wayangnya.
Dewi Gangga menceritakan masa lalunya dengan Begawan Sentanu, dimana setelah melahirkan Bhisma ia harus kembali ke kahyangan karena kewajibannya sebagai bidadari harus dilakukan kembali seperti biasa. Bhisma pun akhirnya mengerti mengapa dirinya mengalami hal semacam ini. Itu pun karena Dewi Gangga pernah meninggalkan Bhisma saat masih bayi dulu.
Air mata sulit dibendung membasahi pipi Bhisma, Dewi Gangga tentu juga merasakan kesedihan yang sama saat dulu harus kembali ke Kahyangan setelah melahirkan Bhisma.
Setelah puluhan tahun akhirnya ibu dan anak bisa bertemu di tempat yang sunyi. Lalu, Bhisma bertanya dimana keberadaan anak kembarnya itu' apakah sudah mati atau masih hidup.
Dewi Gangga berkata keberadaan anak kembar Bhisma baik-baik saja. Kini kedua anak kembar itu telah dibesarkan oleh orang tua angkat mereka masing-masing.
Bayi berwajah manusia biasa kini telah diangkat sebagai putra mahkota di negeri Mandaraka. Dewi Gangga berpesan kelak dia bisa berjumpa lagi dengan putranya itu pada saat terjadinya perang suci di Kurukasetra sebagai senapati agung. Sedangkan putra kedua yang berwajah setengah denawa kini diasuh oleh seorang pertapa dan menjadi pertapa juga.
Anak pertama Bhisma yang diangkat sebagai putra mahkota Mandaraka itu bernama Narasoma. Sedangkan anak kedua yang berwajah setengah denawa itu bernama Somadenta.
Untuk saat ini Bhisma belum bisa bertemu dengan kedua anaknya itu, tetapi akan ada saatnya Bhisma berjumpa dengan putra-putranya di masa depan. Untuk berjumpa dengan keduanya, Dewi Gangga memberitahu Bhisma bahwa dewata telah memanjangkan umurnya agar kelak bisa berjumpa dan menjadi saksi perang suci di Kurukasetra.
Dewi Gangga turut prihatin atas nasib yang menimpa Bhisma, Dewi Gangga sangat tahu betul mengapa semua ini terjadi pada anak semata wayangnya.
Dewi Gangga menceritakan masa lalunya dengan Begawan Sentanu, dimana setelah melahirkan Bhisma ia harus kembali ke kahyangan karena kewajibannya sebagai bidadari harus dilakukan kembali seperti biasa. Bhisma pun akhirnya mengerti mengapa dirinya mengalami hal semacam ini. Itu pun karena Dewi Gangga pernah meninggalkan Bhisma saat masih bayi dulu.
Air mata sulit dibendung membasahi pipi Bhisma, Dewi Gangga tentu juga merasakan kesedihan yang sama saat dulu harus kembali ke Kahyangan setelah melahirkan Bhisma.
Setelah puluhan tahun akhirnya ibu dan anak bisa bertemu di tempat yang sunyi. Lalu, Bhisma bertanya dimana keberadaan anak kembarnya itu' apakah sudah mati atau masih hidup.
Dewi Gangga berkata keberadaan anak kembar Bhisma baik-baik saja. Kini kedua anak kembar itu telah dibesarkan oleh orang tua angkat mereka masing-masing.
Bayi berwajah manusia biasa kini telah diangkat sebagai putra mahkota di negeri Mandaraka. Dewi Gangga berpesan kelak dia bisa berjumpa lagi dengan putranya itu pada saat terjadinya perang suci di Kurukasetra sebagai senapati agung. Sedangkan putra kedua yang berwajah setengah denawa kini diasuh oleh seorang pertapa dan menjadi pertapa juga.
Anak pertama Bhisma yang diangkat sebagai putra mahkota Mandaraka itu bernama Narasoma. Sedangkan anak kedua yang berwajah setengah denawa itu bernama Somadenta.
Untuk saat ini Bhisma belum bisa bertemu dengan kedua anaknya itu, tetapi akan ada saatnya Bhisma berjumpa dengan putra-putranya di masa depan. Untuk berjumpa dengan keduanya, Dewi Gangga memberitahu Bhisma bahwa dewata telah memanjangkan umurnya agar kelak bisa berjumpa dan menjadi saksi perang suci di Kurukasetra.
Bhisma
bersyukur atas pernyataan sang ibu, apalagi setelah mendengar usianya
dipanjangkan tentu kelak bisa berjumpa dengan anak-anaknya yang kini
berada dalam asuhan orang lain.
Dewi Gangga berpesan kepadanya untuk selalu menjalankan darma sebagai brahmana dan juga darma sebagai penumpas angkara murka. Bhisma teringat ketika ia dulu masih berguru pada Resi Ramaparasu bahwa keadilan harus ditegakkan demi mewujudkan kedamaian bagi seluruh umat manusia.
Dewi Gangga berpesan kepadanya untuk selalu menjalankan darma sebagai brahmana dan juga darma sebagai penumpas angkara murka. Bhisma teringat ketika ia dulu masih berguru pada Resi Ramaparasu bahwa keadilan harus ditegakkan demi mewujudkan kedamaian bagi seluruh umat manusia.
Namun,
pertemuan Bhisma dengan Dewi Gangga tidaklah lama. Dewi Gangga harus
kembali ke Kahyangan, Bhisma pun melepas kepergian ibunda tercinta.
Bagi Bhisma pertemuan ini sangatlah berarti baginya karena ia begitu rindu melihat wajah sang ibu yang dulu sempat meninggalkannya seusai melahirkan.
Setelah itu Bhisma kembali ke pertapaan dan melanjutkan kembali tapa bratanya sekaligus mengajari para cantrik.
Tahun demi tahu berlalu setelah peristiwa memilukan tersebut, cerita berganti ke negeri Hastina dimana masa pemerintahan Prabu Citranggada telah memasuki tahun kelima.
Namun, apa yang terjadi di negeri Hastina berbeda dengan apa yang selama ini dibayangkan. Rupanya, negeri Hastina masih belum puas menaklukan negara-negara luar agar mau dijadikan jajahannya.
Sifat diktator Prabu Citranggada makin menjadi-jadi, peperangan demi peperangan dilancarkan untuk menguras seluruh kekayaan negara-negara jajahan tanpa belas kasihan.
Citra negara Hastina makin buruk, tidak sedikit negeri-negeri tetangga dan negeri-negeri jajahan yang kembali menggugat pemerintahan raja muda tersebut.
Bagi Bhisma pertemuan ini sangatlah berarti baginya karena ia begitu rindu melihat wajah sang ibu yang dulu sempat meninggalkannya
Setelah itu Bhisma kembali ke pertapaan dan melanjutkan kembali tapa bratanya sekaligus mengajari para cantrik.
Tahun demi tahu berlalu setelah peristiwa memilukan tersebut, cerita berganti ke negeri Hastina dimana masa pemerintahan Prabu Citranggada telah memasuki tahun kelima.
Namun, apa yang terjadi di negeri Hastina berbeda dengan apa yang selama ini dibayangkan. Rupanya, negeri Hastina masih belum puas menaklukan negara-negara luar agar mau dijadikan jajahannya.
Sifat diktator Prabu Citranggada makin menjadi-jadi, peperangan demi peperangan dilancarkan untuk menguras seluruh kekayaan negara-negara jajahan tanpa belas kasihan.
Citra negara Hastina makin buruk, tidak sedikit negeri-negeri tetangga dan negeri-negeri jajahan yang kembali menggugat pemerintahan raja muda tersebut.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar