Senin, 03 Agustus 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Terbunuhnya Prabu Citranggada


Prabu Citranggada tidak berhenti melakukan aksi kekerasan terhadap negara-negara yang tidak mau mengakui kekuasaan Hastina sebagai kekaisaran terbesar.
Ditambah Prabu Citranggada semakin gila dengan perang dan menumpahkan banyak darah orang-orang tidak berdosa.

Wasi Dipayana yang menjabat sebagai dewan penasehat berkali-kali memperingatkan bahwa akan menjadi masalah besar di kemudian hari kalau peperangan tetap berlangsung.
Prabu Citranggada yang sudah lama membenci Wasi Dipayana tidak mempedulikan nasehat itu, perang tetap berlanjut meski biaya perang sudah menguras kekayaan negara. 


Keangkaramurkaan Prabu Citranggada memuncak saat hendak menjajah negara Mandaraka yang dipimpin oleh Prabu Mandrapati, waktu itu kabar mengenai rencana penyerangan negara Mandaraka diketahui oleh Bhisma.

Bhisma terkejut bahwa negeri Mandaraka akan diserang, sebab tempo hari Bhisma memperoleh kabar dari Dewi Gangga bahwa putra kandungnya yang dulu dilarung oleh Dewi Amba sekarang berada di Mandaraka' itu artinya Prabu Citranggada akan menawan Prabu Mandrapati dan tidak memungkiri bahwa putranya yang masih kecil, Narasoma akan dibunuh karena bisa dianggap penghalang.

Bhisma pun datang ke Hastina menemui Prabu Citranggada, alasannya jelas sudah jadi rahasia bahwa putranya yang bernama Narasoma itu kini diasuh oleh Prabu Mandrapati dan diangkat sebagai putra mahkota.

Bhisma tidak ingin Narasoma dibunuh oleh pamannya sendiri meski rahasia itu hanya dia sendiri yang tahu.
Di dalam ruang tertutup, Bhisma memohon agar Prabu Citranggada berhenti melakukan invasi yang menimbulkan banyak korban.
Prabu Citranggada harus menghentikan peperangan sebelum terlambat karena lama-lama giliran Hastina yang akan diserang oleh negara lain.
Prabu Citranggada ngotot ingin melanjutkan invasi demi memperkuat dan memperbesar jajahannya. Bhisma sudah kehabisan akal dan menipis kesabarannya, maka dari itu Bhisma cuma bisa diam melihat tingkah jahat Prabu Citranggada. 


Prabu Citranggada bersih kukuh tetap melancarkan serangan ke Mandaraka untuk menjadikan wilayah itu sebagai jajahan baru sekaligus sekutu.
Sayangnya semua itu terlanjur dilakukan, negeri Mandaraka akhirnya diserbu oleh pasukan Hastina sehingga menyebabkan Prabu Mandrapati beserta seluruh anggota keluarganya mengungsi.

Prabu Mandrapati saat itu mengungsi ke sebuah pertapaan yang berada di dalam hutan, ternyata pertapaan itu dihuni oleh seorang pertapa denawa bernama Resi Bagaspati. Meski seorang denawa, Resi Bagaspati memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, dia adalah pertapa yang terkenal sakti dan tidak bisa mati begitu saja karena memiliki Aji Candrabirawa. 


Prabu Mandrapati meminta tolong kepada Resi Bagaspati supaya dirinya bisa kembali ke Mandaraka setelah diserbu oleh Prabu Citranggada dari Hastina.
Resi Bagaspati sanggup mengusir Prabu Citranggada, tanpa pikir panjang Resi Bagaspati menemui pasukan Hastina yang sudah mengepung seluruh keraton Mandaraka.

Resi Bagaspati menyerang mereka dan keraton berhasil dinetralkan dari prajurit-prajurit Hastina. Bahkan Prabu Citranggada tidak segan-segan menantang Resi Bagaspati bertarung. Rupanya Prabu Citranggada masih belum puas kalau tidak ada korban dari jurusnya.
Resi Bagaspati melihat dengan mata bathin bahwa Prabu Citranggada adalah lawan yang lumayan tangguh tapi tidak punya perhitungan.

Tanpa lama-lama, Resi Bagaspati mengeluarkan Aji Candra Birawa yang mampu menahan jurus-jurus lawannya. Prabu Citranggada tidak bisa mengelak dari efek jurus itu, akhirnya Prabu Citranggada memilih mundur dari pertarungan dan pulang ke Hastina.
Resi Bagaspati telah menunaikan tugasnya dengan baik, Prabu Mandrapati senang dengan keberhasilan Resi Bagaspati. Sejak saat itu mereka berdua bersahabat dan menjalin mitra yang saling menguntungkan. 


Resi Bagaspati terhitung sudah jadi mitra dengan Prabu Mandrapati, mereka sepakat untuk bersahabat secara kental.
Bahkan Prabu Mandrapati sempat berkata bahwa putranya yang bernama Narasoma akan menjadi muridnya suatu hari nanti apabila sudah dewasa.
Resi Bagaspati pun siap menjadikan Narasoma sebagai muridnya dan ternyata Aji Candra Birawa yang sempat dipakai untuk mengusir pasukan Hastina kelak akan diwariskan kepada Narasoma.

Sejak saat itu hubungan kedua orang ini terjalin cukup kuat. Bahkan Prabu Mandrapati kerap mengirim hasil bumi Mandaraka kepada Resi Bagaspati untuk kebutuhan pertapaan.
Sampai akhirnya kisah pun berlanjut di negeri Hastina dimana Prabu Citranggada gagal menaklukan Mandaraka sebagai jajahannya. Ia murka dengan prajurit-prajuritnya yang selama ini menang perang justru mudah dikalahkan oleh seorang pertapa.

Prabu Citranggada tidak terima atas kekalahan itu bahkan ia berniat lagi untuk menyerang Mandaraka sewaktu-waktu jika kekuatan pasukannya pulih.
Namun, hal ini disayangkan oleh Perbatakusuma yang menganggap bahwa prajurit Hastina berperang setengah hati agar tidak dipecat.
Prabu Citranggada hanya bisa menahan nafas yang hampir pecah sampai ke ubun-ubun. Ia pun tetap pada pendiriannya untuk selalu berperang demi memperluas jajahan.
Keangkaramurkaan Prabu Citranggada membuat kahyangan gonjang-ganjing. Para dewa khawatir Prabu Citranggada menciptakan keonaran lagi yang membuat korban berjatuhan. 


Bathara Guru yang menyaksikan kejadian di alam mayapada sangat terusik dengan ulah raja Hastina itu.
Bathara Guru berniat menghukumnya karena sudah membuat kerusakan dan kekacauan akibat ambisi itu. Tidak lama, Bathara Guru mengutus seorang dewa yang ditugaskan untuk menghukum Prabu Citranggada sekaligus menjebloskannya ke Kawah Candradimuka.
Dewa itu bertama Bathara Citrasena, putra Bathara Indra yang tidak lain adalah cucunya sendiri. Bathara Citrasena ditugaskan untuk menantang Prabu Citranggada bertarung satu lawan satu. Dan ia pun sanggup melaksanakan tugas itu, maka turunlah ke bumi Bathara Citrasena.

Saat turun ke bumi,  Bathara Citrasena beralih wujud menjadi denawa yang memakai nama Citranggada juga.
Tujuannya untuk membedakan mana Citranggada yang asli dan mana yang palsu. Saat itu Citranggada palsu mengirim surat penantang lewat sepucuk tombak yang dilempar jauh.
Siang itu Prabu Citranggada sedang duduk di singgasana dihadap para petinggi kerajaan, entah kenapa menancaplah sepucuk tombak berisi surat.

Prabu Citranggada mengambil surat itu lalu membacanya, alangkah murkanya sang raja bahwa ada orang tidak tahu diri mau menantangnya bertarung satu lawan satu.
Prabu Citranggada terpancing untuk menerima tantangan itu, tetapi Perbatakusuma mencoba untuk menenangkan hati kakaknya itu. Prabu Citranggada berniat untuk meladeni tantangan tersebut namun
Perbatakusuma menganggap itu cuma perbuatan orang iseng.
Prabu Citranggada tidak peduli nasehat adiknya dan segera meninggalkan singgasana saat pertemuan masih berlangsung.

Perbatakusuma khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di-inginkan. Firasat aneh mulai terasa saat Prabu Citranggada pergi menemui pengirim surat itu tanpa membawa wadyabala.
Benar saja, Prabu Citranggada hanya pergi sendiri tanpa dikawal prajurit dan tidak membawa peralatan perang seperti adat yang sudah-sudah.

Sesampainya di suatu padang rumput, Prabu Citranggada yang menaiki seekor kuda melihat sesosok denawa berdiri persis dihadapannya.
Prabu Citranggada bertanya apa maksud denawa itu berdiri di depannya ?
Denawa itulah yang mengaku telah mengirim surat penantang kepada raja Hastina Prabu Citranggada. 


Prabu Citranggada turun dari kudanya dan menanyakan apa maksud denawa itu.
Denawa itu mengaku bernama Citranggada, sebab denawa itu mengaku sejak lahir bernama Citranggada. Raja Hastina naik pitam dan membantah bahwa Citranggada di dunia hanya ada satu bukan dua.

Disinilah sengketa nama terjadi antara Citranggada dari Hastina dengan Citranggada berwujud denawa. Rupanya strategi dewata benar-benar manjur untuk memancing raja muda tersebut keluar dari keraton tanpa wadyabala dengan mengadakan pertarungan satu lawan satu.

Prabu Citranggada akhirnya mau menerima tantangan itu dengan syarat tidak ada 2 orang Citranggada yang hidup dalam satu masa kecuali 1 orang saja dan dialah yang asli.
Maka pertarungan tidak terelakkan antara dua pemilik nama yang sama namun berbeda rupa. Mereka bertarung pagi siang sore malam tanpa henti bahkan sampai beberapa hari bertarung tanpa mengenal waktu.

Hingga pada akhirnya Prabu Citranggada mulai kehabisan tenaga dan giliran Citranggada palsu yang menyerangnya. Rupanya Prabu Citranggada merasa dirinya sudah kalah saat tenaganya menipis.
Kemudian Prabu Citranggada mengakui kekalahannya dan meminta agar segera disudahi hidupnya. Maka Citranggada palsu pun segera melakukan hal yang sudah dipesan oleh Prabu Citranggada, yakni disudahi saja hidupnya.

Tanpa tedeng aling-aling Prabu Citranggada digigit lehernya sampai nyaris putus oleh lawan tandingnya. Maka tewaslah raja muda Hastina itu seketika dan kejadian ini sudah dikehendaki sebagai suratan dewata.

Setelah membunuh Prabu Citranggada, Citranggada palsu kembali ke wujud aslinya sebagai dewa bernama Bathara Citrasena dan membawa roh Prabu Citranggada ke Kahyangan.
Bathara Citrasena membawa roh Prabu Citranggada ke hadapan Bathara Guru untuk diadili atas kekejamannya selama menjadi raja. 


Jasad Prabu Citranggada tergeletak berlumuran darah. Di tengah tempat gersang nan sunyi seorang raja muda tewas dalam pertarungan satu lawan satu.
Akhirnya kisah pun berlanjut di Hastina dimana upacara pembakaran jenazah dilakukan sebagai penghormatan terakhir. Sayangnya tidak ada satu pun rakyat yang ikut prosesi pembakaran jenazah/kremasi jasad raja mereka.
Kematian Prabu Citranggada bagi rakyat bukanlah duka melainkan sebuah suka cita karena mereka tidak lagi dipimpin raja diktator yang kejam.

Dalam prosesi pembakaran jenazah, Bhisma dan mantan raja Hastina yang kini kembali menjadi pertapa' Begawan Sentanu amat berduka cita atas kematian Prabu Citranggada.
Tidak terkecuali Dewi Durgandini selaku ibu suri, Perbatakusuma selaku adik kandung Prabu Citranggada ikut membakar jenazah yang tidak berdaya itu.

Upacara ini dipimpin langsung oleh Wasi Dipayana, semua tertunduk turut merasa kehilangan meski tidak sedikit yang juga bersyukur bahwa dibalik kematian Prabu Citranggada akan muncul secercah harapah untuk kembali berdamai dengan negeri-negeri jajahan.

Tidak lama, Bhisma sebagai kakak Prabu Citranggada melakukan upacara pengangkatan raja baru dimana Perbatakusuma dilantik sebagai raja Hastina baru. Karena sesuai dengan tradisi, jika sang raja wafat tanpa keturunan maka adiknya berhak menjadi raja agar garis keturunan berlanjut.

Perbatakusuma diambil sumpahnya sebagai raja Hastina yang baru bergelar Prabu Wicitrawirya. Dan di saat yang sama, Wasi Dipayana menikahi janda Prabu Citranggada' Dewi Ambika. Hal ini dilakukan untuk mencegah supaya trah Begawan Palasara tetap lestari meski tidak berhak atas kekuasaan. 


Wasi Dipayana kini telah menikahi Dewi Ambika yang dulunya istri mendiang Prabu Citranggada.
Seusai mengadakan pernikahan di Hastina, Wasi Dipayana memutuskan untuk memboyong Dewi Ambika ke Saptaarga.

Sebenarnya Dewi Durgandini tidak ingin Wasi Dipayana pulang ke Saptaarga. Namun, Wasi Dipayana berjanji akan kembali ke Hastina jika diperlukan. Lagi pula, saat dinikahi
Dewi Ambika sudah dalam keadaan hamil kala Prabu Citranggada masih ada.
Wasi Dipayana menganggap bayi yang dikandung istrinya itu anaknya sendiri mengingat sang janin sudah tidak berayah.

Akhirnya tidak lama setelah itu Dewi Ambika merasakan sesuatu yang tidak enak. Rupanya terjadi kontraksi yang membuatnya harus cepat-cepat jalani persalinan.

Dalam persalinan itu ternyata ada keanehan, keanehan itu merupakan bagian dari sesuatu yang disembunyikan oleh takdir.
Para dewa bersabda bahwa anak kandung Prabu Citranggada itu kelak akan menjadi raja yang menurunkan 100 orang anak di masa depan.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar