Sebuah logika yang aneh tentang Sugik Nur Raharja alias Gus Nur mengenai kritiknya terhadap ormas terbesar di RI, Nahdlatul Ulama.
Sugik Nur Raharja secara berapi-api mengatakan bahwa NU adalah ormas yang pro rezim. Lantaran banyaknya kader-kader NU yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan negara dan daerah.
Sugik Nur juga sependapat dengan apa yang dikatakan Haikal Hassan Al Barras, seorang yang juga mengaku ustadz tetapi sejatinya seorang pendiri lembaga bimbingan konseling ini. Dalam memoarnya ia berkata "Ulama Harus Oposisi" karena ulama tidak boleh jadi bagian dari sistem kekuasaan yang buruk.
Boleh jadi ucapan Babe Haikal (sebutan Haikal Hassan Al Barras) merupakan wujud dalihnya lantaran Ulama sudah jadi corong pemerintah.
Sudah bukan rahasia lagi memang, ulama jadi corong pemerintah tetapi nampaknya apa yang diungkapkan Babe Haikal ada kaitannya dengan terlalu dominannya pengaruh NU di pemerintahan pusat dan daerah.
Sugik Nur berpendapat bahwa NU harus direformasi sebelum merayakan Milad-nya yang ke seratus pada tahun 2026 nanti, sebab saat ini Sugik Nur mengatakan lewat uneg-unegnya bahwa NU harus jauh dari pemerintahan agar tidak tertular penyakit politik seperti KKN.
Sebagai seorang ulama amatir, Sugik Nur berhak memperingatkan NU untuk tidak hanyut dalam posisi basah nan nyaman di dalam ruang kekuasaan.
Namun, ucapan Sugik Nur yang kontroversial itu menyebabkan dirinya berurusan dengan pihak berwajib.
Sugik Nur berkata seperti itu karena merasa "Kasihan" lantaran hanya NU yang menikmati kekuasaan. Dia mungkin berpikir bahwa jangan hanya NU yang ikut menikmati kekuasaan, ormas selain NU seperti Muhammadiyah, FPI, HTI dan Jama'ah Tabligh berhak mengatur negara.
Rupanya Sugik Nur berpendapat tanpa melihat situasi yang ada, hal ini membuat dirinya terjebak dalam fanatisme kambuhan yang disebabkan oleh Pemilu.
Sugik Nur menjadi ustadz karena merasa bahwa Agama adalah alat untuk mengeruk keuntungan yang berlipat ganda. Dirinya bisa makan enak dan menumpuk harta agar tidak habis tujuh turunan dengan memperdagangkan agama.
Sungguh miris, orang seperti Sugik Nur ini masih terjerembab dan belum bisa bebas dari penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh ambisi pribadi dan kekuasaan yang tidak langgeng.
Kita berharap semoga Sugik Nur bisa menyadari kesalahannya yang sudah berulang kali menyebabkan dirinya dan seluruh anggota keluarganya masuk ke lubang api penuh ular berbisa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar