Membangun peradaban bangsa bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi di sebuah negara dengan jumlah suku, bahasa dan pulau terbanyak seperti Indonesia.
Untuk urusan ideologi politik, nampaknya antara golongan borjuis dengan golongan proletar berbeda selera. Kaum Borjuis tetap berpengaruh kuat dalam kekuasaan lewat ideologi kapitalisnya. Sedangkan Kaum Proletar masih berpegang teguh pada ideologi kerakyatannya.
Namun, di era kini berkembangnya politik gaya baru yang disebut politik identitas telah merasuk di dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Politik identitas menjadi warna tersendiri sekaligus sisi gelap kehidupan berpolitik suatu bangsa. Mereka yang merasa mewakili suku bangsa tertentu, mewakili agama tertentu dan mewakili golongan tertentu maka menonjolkan identitas mereka masing-masing ditengah kemajemukan.
Orang Jawa ingin menonjolkan "Kejawaan" nya sebagai identitas asal usulnya. Orang Islam ingin menonjolkan "Keislaman" nya sebagai identitas keyakinannya. Orang Kaya ingin menonjolkan "Kemewahan" nya sebagai kaum borjuis dan tentu Orang Miskin ingin menonjolkan "Kesederhanaan" nya sebagai kaum proletar.
Efek buruknya jelas mengarah kepada perpecahan antara kaum-kaum tersebut. Mereka yang merasa paling Islami, ingin memperkenalkan sistem politik yang sesuai dengan syariah islam.
Tapi, sayangnya sulit diterapkan karena bertentangan dengan kemajemukan suku bangsa. Sebab, tidak semua umat yang seagama menerima hal itu.
Jelas tidak laku, ibarat barang dagangan yang sudah kadaluwarsa dan tidak lagi cocok dengan semangat persatuan di tengah perbedaan.
Sulit menasehati orang-orang bebal yang ngotot ingin mengubah ideologi negara agar sesuai dengan keyakinan mereka.
Mereka punya alibi sendiri mengapa sangat getol mempromosikan ideologi politiknya yang hanya sekedar omong kosong belaka.
Di balik semua ini ada titik cerah bahwa sesuatu yang dianggap haram, sesuatu yang dikatakan Bid'ah ternyata tidak berpengaruh dalam kemajemukan itu karena Haram dan Bid'ah hanyalah manipulasi semu untuk memperoleh dukungan semata-mata.
Golongan mayoritas harus tahu diri, golongan minoritas jangan berkecil hati. Mayoritas tidak bisa memaksa Minoritas supaya bisa seragam dan sekeyakinan dengan mayoritas.
Minoritas tidak mau dipaksa mengikuti kehendak mayoritas yang mereka anggap benar, padahal itu bertentangan dengan kemajemukan berbangsa dan bernegara.
Lebih baik urus saja caramu mengatur kehidupan pribadi sebelum mengatur kehidupan orang lain. Alangkah arogan jika suatu kelompok penganut ideologi paling agamis, memaksa kelompok yang tidak agamis mengikuti selera dan kehendak kaum agamis hanya karena ingin mendapat pengakuan mutlak.
Semutlak-mutlaknya pengakuan, pengakuan terbaik adalah mengakui perbedaan diantara kamu, dia dan mereka itu.
Terserah mereka, belum tentu caramu cocok dengan cara mereka. Belum tentu gayamu cocok dengan gaya mereka.
Mereka itu sudah terlanjur nyaman, biarkan saja kalau itu baik untuk mereka.
Kita yang sudah terlalu lama nyaman dengan pemandangan hari ini, sebaiknya tinggalkan saja kalau itu tidak baik untuk diri sendiri.
Perbedaan adalah kenikmatan yang tidak dapat didustakan dengan ketatnya tatanan kolot, sebab Perbedaan merupakan sebuah cara untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar