Senin, 28 September 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Pulangnya Destarastra, Sang Putra Mahkota

Cerita berganti saat masa pemerintahan Prabu Wicitrawirya memasuki puncaknya, sebagai pengganti sang kakak' ia merupakan raja yang berbeda.

Sifat welas asih dan adil menjadikannya sebagai raja yang dicintai rakyat. Ketegangan saat masih dipimpin raja sebelumnya bisa diredakan lewat jalur diplomasi.

Meski harus mengganti rugi atas kerusakan yang terjadi saat perang, Prabu Wicitrawirya hanya ingin kedamaian dan kerukunan antar negara.

Perekonomian negara kembali pulih setelah dilanda krisis keuangan akibat perang yang berkecamuk. 

Destarastra mulai beranjak balita, Wasi Dipayana telah mempersiapkan putra mendiang Prabu Citranggada sebagai penerus tahta. 

Sebab, Prabu Wicitrawirya hanya sementara menggantikan Prabu Citranggada yang gugur sebelum putra semata wayangnya beranjak dewasa.

Wasi Dipayana khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti jika Aji Grayang pemberian Begawan Sentanu dapat membahayakan nyawa Destarastra.

Maka sejak dini Destarastra digembleng untuk menjadi sosok yang penyabar dan tidak mudah uring-uringan.

Kemudian Destarastra dibawa ke Pertapaan Saptaarga untuk dibina sebaik mungkin agar terdidik dengan kompeten.

Walau tunanetra, Destarastra memiliki intuisi yang tajam dan bisa membaca pikiran orang lain.

Sebuah anugrah yang tidak dimiliki oleh siapapun, bahkan orang yang bisa melihat saja tidak mampu membaca pikiran. 

Destarastra menjalani hidup sebagai putra angkat seorang brahmana, dimana Ilmu Kerohanian mulai digetolkan untuk memapankan diri.

Bahkan ilmu tata negara juga diajarkan oleh Wasi Dipayana kepada Destarastra. Meski buta kedua matanya, Destarastra juga diberi ilmu pemerintahan untuk menjalankan negara jika kelak menjadi raja.

Kini Destarastra sudah beranjak remaja dan ia pun siap dipulangkan ke Hastina untuk dilantik sebagai putra mahkota.

Hastina telah menanti kepulangan putra mahkotanya, Destarastra siap dilantik sebagai calon pewaris tahta. Prabu Wicitrawirya selaku pamannya, merelakan tahtanya yang ia sandang untuk sementara waktu. Mengingat Prabu Wicitrawirya hanya sebagai pengganti sementara dan hanya bisa sampai pewaris tahtanya beranjak dewasa. 

                                                                     (Bersambung)


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar