Kisah di negeri Hastina berlanjut kembali, kali ini ada suatu peristiwa yang sebetulnya merupakan rahasia. Diceritakan Prabu Kresna Dwipayana sedang menjamu para tamu dari berbagai mancanegara yang turut merayakan hari berdirinya Hastina.
Waktu itu muncul seorang gadis berkasta Waisya, gadis itu bernama Ken Datri. Dia berprofesi sebagai dayang istana yang biasa membawakan makanan dan mengiring para permaisuri raja sehabis menghadiri pasweakan.
Ken Datri merupakan satu diantara ratusan dayang istana yang menetap di Keputren. Ia merupakan dayang istana yang setia mendampingi permaisuri Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Ia diangkat sebagai dayang istana sejak masih berusia 10 tahun, mengingat ia adalah anak yatim piatu.
Hidup sebatang kara di dunia tidak membuatnya patah arang menjalani kehidupan.
Ia sudah jadi dayang sejak hadirnya Dewi Ambika dan Dewi Ambalika ke Hastina pasca Bhisma Dewabrata memenangkan sayembara di negara Giyantipura.
Dalam pertemuan itu Ken Datri membawakan aneka hidangan untuk disuguhkan kepada tamu-tamu. Prabu Kresna Dwipayana melihat dari kejauhan nampak penasaran dengan Ken Datri. Rupanya sang prabu kepincut dengan gadis berdarah sudra itu lantaran kemampuannya melayani tamu-tamu sepenuh hati.
Seusai pasewakan sepi, Prabu Kresna Dwipayana menemui Ken Datri pada malam hari. Ken Datri saat itu sedang jaga malam mengingat tugas seorang dayang tidak hanya melayani permaisuri raja tetapi juga menjamin keamanan keputren jika sewaktu-waktu ada maling.
Prabu Kresna Dwipayana mengajak Ken Datri bicara empat mata, ternyata ada udang dibalik batu. Sang prabu jatuh cinta dengan Ken Datri, dalam hati apakah pantas seorang raja jatuh cinta pada orang yang derajatnya sekelas Waisya ?
Namun, apa pun bisa terjadi karena memang cinta itu buta. Prabu Kresna Dwipayana mencoba merayu Ken Datri namun tidak berhasil, sebab tidak mungkin seorang dayang menjadi pemuas nafsu raja. Namun, yang namanya orang sakti pasti banyak akal. Ken Datri terkena Aji Sirep yang membuatnya tertidur. Prabu Kresna Dwipayana berhasil membuat dayang itu terkapar tanpa daya.
Hingga pada akhirnya sang prabu berhasil menanamkan benihnya ke tubuh Ken Datri. Tragisnya Ken Datri tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Diceritakan waktu berlalu hingga menjelang pagi, Ken Datri akhirnya terbangun namun dalam keadaan berselimut tanpa busana.
Ia terkejut kaget dan meratapi nasibnya, Ken Datri sudah terenggut keperawanannya oleh seseorang yang tidak lain adalah Prabu Kresna Dwipayana sendiri.
Ia pun kabur dari keputren sambil berjalan cepat, namun saat sedang melangkah tiba-tiba ia terjatuh dan kakinya terkilir. Ken Datri kesakitan saat kakinya terkilir, meski dalam keadaan sakit ia masih bisa kabur dari keputren. Bahkan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ken Datri yang sudah kebobolan tidak lagi menjadi seorang gadis. Melainkan seorang kaum waisya yang cuma jadi korban nafsu kaum ksatria. Ia pun pergi keluar Hastina sebelum semua terbongkar. Hingga pada akhirnya Ken Datri sampai ke Pertapaan Talkanda dimana Begawan Sentanu dan Bhisma Dewabrata berada. Disana Ken Datri mengabdikan diri sebagai biarawati, untungnya kedua pertapa itu mau menerimanya.
Namun, seiring berjalannya waktu Ken Datri sering muntah-muntah diduga merupakan suatu kehamilan. Meski mencoba ditutup-tutupi, sayangnya Ken Datri gagal untuk menyembunyikannya.
Hingga pada akhirnya usia kandungan Ken Datri mencapai 3 bulan, Begawan Sentanu mulai curiga dengan Ken Datri, akhirnya wanita itu pun di-introgasi oleh sang begawan. Ken Datri takut pada Begawan Sentanu, ia menganggap semua rahasia akan terkuak secepat mungkin.
Begawan Sentanu terkenal sakti kalau sedang marah, apalagi kalau menyangkut masalah seperti yang dialami Ken Datri. Pasti bakal jadi aib yang memalukan, dalam sejarah untuk pertama kalinya seorang biarawati mengandung anak tanpa suami.
Ken Datri dengan gugup mengatakan dirinya tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang ia tahu hanya muntah-muntah dan perut membuncit begitu saja.
Begawan Sentanu geram siapa yang sudah melakukan perbuatan nista itu terhadap seorang wanita dari kaum waisya yang kini telah jadi biarawati. Untungnya Bhisma berhasil meredam amarah Begawan Sentanu, Bhisma ganti menanyakan apa yang terjadi selama Ken Datri di Hastina.
Sambil menangis Ken Datri berbisik ke telinga kanan Bhisma, dan alangkah terkejutnya Bhisma mendengar bisikan Ken Datri. Bhisma tidak habis pikir, perbuatan nista tersebut dilakukan oleh seorang raja yang notabene seorang putra Brahmana linuwih.
Bhisma akhirnya mau mengayomi Ken Datri untuk membantunya hingga jabang bayi lahir. Tibalah saatnya jabang bayi ini lahir dan terlahir sebagai laki-laki. Bayi laki-laki yang baru saja lahir dari rahim Ken Datri sejatinya berdarah Waisya namun memiliki kedudukan setara Ksatria. Bayi laki-laki itu kemudian diasuh oleh Bhisma bahkan dianggap keponakan sendiri olehnya.
Sampai suatu ketika waktunya tiba, anak laki-laki dari Ken Datri meminta pengakuan dari ayah kandungnya kini' dialah raja Hastina. Waktunya menuntut keadilan dimulai saat Bhisma datang ke Hastina. Anak laki-laki itu harus diperkenalkan pada ayah kandungnya
Bhisma datang bersama Ken Datri untuk meminta hak atas anak laki-laki tersebut. Namun, Prabu Kresna Dwipayana menolak untuk mengakui anak itu sebagai keturunannya.
Perdebatan sengit pun terjadi antara Bhisma dengan Prabu Kresna Dwipayana dimana dalam perdebatan itu hampir saja ada baku hatam.
Ken Datri akhirnya angkat bicara, bahwa Prabu Kresna Dwipayana dulu pernah mengajaknya berbicara empat mata. Dalam pembicaraan itu sang prabu merayunya namun tidak tergubris, akhirnya sang prabu menggunakan Aji Sirep dan setelah itu tidak tahu apa yang terjadi.
Sontak, Prabu Kresna Dwipayana terkejut mendengar ucapan Ken Datri. Akhirnya raja Hastina itu tertunduk lesu bercampur malu dan mengakui perbuatannya. Memang, godaan kekuasaan kadang membutakan nurani dan merobohkan dinding keimanan.
Tanpa tedeng aling-aling Prabu Kresna Dwipayana mengakui anak laki-laki Ken Datri sebagai putranya. Kemudian anak itu disabda dengan nama Arya Yama Widura dan mendapat kedudukan sebagai pangeran Hastina sejajar dengan Destarastra dan Pandu.
Maka sejak saat itu Arya Yama Widura menjadi pangeran meski terlahir dari ibu berkasta Waisya. Namun, Arya Yama Widura memiliki kemampuan yang hebat dari segi kecerdasan akalnya sehingga mendapat jabatan sebagai Jaksa Kerajaan saat usianya masih muda dan kala ayahnya masih bertahta.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar