Rabu, 27 Januari 2021

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Wafatnya Prabu Wicitrawirya

 
Prabu Wicitrawirya merasa sudah tidak sanggup bertahta seiring melemahnya kesehatan.
Ia meminta agar Wasi Dipayana menjadi penerus tahta sekaligus wali negara selagi Destarastra masih belum cukup usia.
 
Akhirnya atas persetujuan Begawan Sentanu, Wasi Dipayana mendapat kepercayaan sebagai pemimpin baru Hastina. Wasi Dipayana pun lantas diwisuda sebagai raja baru Hastina saat keadaan Prabu Wicitrawirya semakin memburuk.
 
Dan Prabu Wicitrawirya yang lama sakit akhirnya meninggal dunia. Seluruh negeri berduka atas mangkatnya sang raja. Banyak surat dari mancanegara yang ikut berbelasungkawa atas mangkatnya Prabu Wicitrawirya.
 
Duka tidak berhenti sampai disitu, Dewi Ambalika sangat sedih dan merasa kehilangan suami tercintanya itu. Wasi Dipayana kini harus memimpin Hastina menggantikan Prabu Wicitrawirya dan memakai gelar baru yaitu "Prabu Kresna Dwipayana".
 
Mangkatnya raja Hastina membuat perubahan dalam tatanan pemerintahan monarki. Dimana dalam beberapa tahun terakhir sudah dua raja wafat di usia muda. Sebelumnya Prabu Citranggada gugur dalam pertarungan melawan gandarwa, kini Prabu Wicitrawirya wafat dalam keadaan sakit dan putranya belum beranjak dewasa.
 
Begawan Sentanu meyakini sudah sepantasnya Hastina kembali ke tangan putra Begawan Palasara. Sebab Hastina dahulu memang didirikan oleh pertapa asal Saptaarga itu.
Maka pantas Wasi Dipayana menjadi penguasa karena merupakan anak Begawan Palasara.
Era baru telah dimulai, Wasi Dipayana kini bergelar Prabu Kresna Dwipayana menjalani pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Terlebih sang raja adalah seorang ahli tata agama membuat Hastina semakin religius dan khidmat dalam menjalankan tata cara keagamaan.
 
Cerita berlanjut saat Prabu Kresna Dwipayana memegang pemerintahan, dalam pertemuan di pasewakan agung' ada Resi Bhisma dan Begawan Sentanu.
 
Saat itu Hastina masih berduka ketika kematian Prabu Wicitrawirya membekas dalam ingatan. Kelebihan mendiang Prabu Wicitrawirya adalah bahasa politiknya yang halus tanpa harus memukul. Bahkan sebelum jadi raja pun mendiang Prabu Wicitrawirya sudah mahir dalam bidang diplomasi.
 
Ketika Hastina baru saja genjatan senjata dengan negara lain, Prabu Wicitrawirya amat hebat membangun kembali hubungan erat antar negara yang putus karena peperangan. 
 
Semua ini tidak terlepas dari keangkaramurkaan kakaknya, Prabu Citranggada yang berambisi menyatukan seluruh kerajaan dalam satu kesatuan. Namun upaya itu gagal setelah rajanya tewas dalam pertarungan satu lawan satu.
 
Giliran adiknya naik tahta, hubungan pun dipulihkan lagi agar tidak ada nyawa melayang karena peperangan. Peperangan yang berkepanjangan sejak era Prabu Citranggada berakhir ditangan Prabu Wicitrawirya. Kini setelah Prabu Wicitrawirya tiada, Prabu Kresna Dwipayana melanjutkan pembangunan dan meneruskan hubungan diplomatik antar negara.
 
(Bersambung)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar