Senin, 19 April 2021

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Destarastra, Pandu & Widura

 
Prabu Kresna Dwipayana masih berkuasa sebagai raja Hastina, kurang lebih bertahta selama beberapa tahun setelah wafatnya Prabu Wicitrawirya.
Saat berkuasa Prabu Kresna Dwipayana banyak merombak kabinet menteri dan undang-undang yang sempat jadi masalah kala mendiang Prabu Citranggada memegang kendali kerajaan.
 
Citra kerajaan Hastina berangsur pulih dan membaik, namun masih banyak juga negara-negara yang memusuhi Hastina karena keterlibatan negeri itu dalam pembantaian warga sipil.
Meski sudah meminta maaf, banyak musuh-musuh Hastina yang berniat balas dendam. Namun, pendekatan persuasif membuat niat mereka memerangi Hastina urung terlaksana.
 
Cerita kali ini berlanjut saat usia Begawan Sentanu mulai makin menua. Ia menjadi saksi sejarah kematian anak-anaknya yang semasa hidupnya pernah bertahta.
Begawan Sentanu sadar dirinya sudah bosan hidup setelah beberapa tahun menyaksikan peristiwa mengerikan yang terkenang dalam ingatannya.
 
Cucu-cucunya kini menginjak usia remaja' Destarastra sang cucu tertua, Pandu cucu kedua dan Widura cucu ketiga kini menjadi tiga serangkai penting dalam kehidupan kerajaan Hastina.
Begawan Sentanu berniat untuk moksa ke kahyangan demi bertemu dengan Dewi Gangga, istrinya dahulu.
 
Sang begawan amat rindu dengan cinta pertamanya itu bahkan ia tidak peduli dengan Dewi Durgandini yang kini tinggal di Hastina menemani Prabu Kresna Dwipayana, putra kandung dari hasil pernikahan dengan mendiang Begawan Palasara.
 
Untuk melakukan moksa Begawan Sentanu harus melakukan semedi. Begitu melakukan semedi sukmanya melayang ke langit namun dicegat oleh suka Begawan Palasara.
Menurut perkataan Begawan Palasara, Begawan Sentanu tidak di-izinkan moksa sebelum menyelesaikan tugas terakhirnya.
 
Apa tugas terakhir Begawan Sentanu di alam mayapada ?
Tugas terakhir itu adalah menikahkan cucu-cucunya, tugas ini kelihatan mudah namun amat susah karena pendamping hidup cucu-cucunya itu bukan sembarangan.
Begawan Sentanu harus membantu Destarastra, Pandu dan Widura dalam sayembara di negeri Mandura.
 
Begawan Sentanu kaget, kenapa sayembara itu berada di negeri Mandura ?
Sebab Begawan Palasara mendapat perintah dari dewata untuk memberitahu Begawan Sentanu untuk segera menikahkan cucu-cucunya untuk menyambung sejarah Hastina.
Awalnya bimbang namun demi cucu-cucunya, Begawan Sentanu akan membantu cucu-cucunya itu dengan tulus sebagai bagian dari tugas terakhir.
 
 
Sementara itu di negeri Hastina, Prabu Kresna Dwipayana sedang membicarakan kompetisi sayembara di negeri Mandura. Sang prabu ingin mendapatkan calon menantu, karena kini putra-putranya beranjak dewasa dan harus dikawinkan.
 
Destarastra sebagai putra tertua wajib melakukan hal itu, setelah itu Pandu dan kemudian Widura.
Ketika menyimak apa yang disarankan ayah sambungnya, Destarastra terdiam.
Ia merasa bahwa mana mungkin ada wanita di dunia ini yang mau menjadi istrinya.
 
Namun, nasehat Prabu Kresna Dwipayana membuat hati Destarastra bangkit dan serius ingin ikut menjajal kemampuannya dalam sayembara meski dirinya tuna netra.
Namun, sebelum berangkat ke Mandura mereka bertiga harus sowan ke pertapaan Talkanda menemui Begawan Sentanu, kakek mereka dan Bhisma Dewabrata untuk memohon restu.
 
Destarastra, Pandu dan Widura berangkat menuju pertapaan Talkanda menemui Begawan Sentanu.
Mereka bertiga datang untuk memohon restu sebelum mengikuti sayembara di negeri Mandura.
Begawan Sentanu memandangi cucu-cucunya dengan tatapan sedih karena ini merupakan kesempatan terakhir bagi sang begawan untuk menyelesaikan tugasnya sebelum moksa.
Begawan Sentanu membantu ketiga cucunya dengan memberinya wejangan.
Tidak lupa untuk tetap mempertahankan tradisi yaitu memenangkan sayembara seperti yang sudah-sudah.
 
Begawan Sentanu memberi wejangan agar mereka bertiga bisa menjadi generasi emas yang gemilang dalam tatanan pemerintahan Hastina.
Sang begawan berharap mereka bisa merubah citra Hastina kembali berjaya tanpa pertumpahan darah.
Saat sedang bercengkerama dengan Begawan Sentanu, muncullah Bhisma Dewabrata ikut menyambangi ketiga anak keponakannya itu.
 
Bhisma Dewabrata sudah tahu ketiga anak keponakannya itu akan mengikuti sayembara. Bhisma memperingatkan bahwa disana banyak raja-raja dan ksatria hebat yang turut bersaing dalam sayembara.
Bhisma meminta Destarastra, Pandu dan Widura untuk hati-hati karena dalam persaingan ada saja kecurangan. Mereka bertiga tidak boleh curang jika dicurangi, malah diminta mengalah daripada berbuat curang melanggar aturan.
 
Bhisma percaya pada Destarastra, Pandu dan Widura yang kini beranjak dewasa. Kemudian selepas pertemuan di Talkanda mereka bertiga mohon pamit untuk segera berangkat ke sana.
Hanya doa dan restu yang membuat mereka berhasil, itulah harapan seorang ksatria tanpa harus meminta yang lebih.
 
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar