Gambar : Prabu Sentanu, Raja Hastina
Dalam semedi, Begawan Sentanu memohon agar dikaruniai seorang anak yang nantinya bisa mewarisi pekerjaannya sebagai pertapa.
Semedi yang dilakukan Begawan Sentanu begitu khidmat sehingga mengguncang Kawah Candradimuka. Para Dewa khawatir dengan semedi yang dilakukan Begawan Sentanu membuat gonjang-ganjing
Batara Guru segera memerintahkan kepada Batara Narada untuk pergi ke Parang Pawidodaren untuk menemui seorang Bidadari.
Batara Narada lantas melaksanakan dawuh yang diberikan, Batara Narada
pergi menuju Parang Pawidodaren untuk menemui beberapa bidadari yang
akan ditugaskan untuk menggoda Begawan Sentanu. Di Parang
Pawidodaren, berkumpullah seluruh bidadari yang sedang asyik bermain dan
bercanda.
Mereka selalu tertawa gembira dan tersenyum dengan lesung pipi yang merona.
Salah seorang bidadari yang sedang bercanda dengan sesamanya, yakni Dewi Gangga sedang sibuk memperhatikan bunga-bunga.
Ia begitu menikmati bunga-bunga yang tumbuh mekar, harumnya mengalahkan bau harum bunga-bunga yang tumbuh di bumi.
Ketika sedang memperhatikan bunga, datanglah 2 orang bidadari mengajak Dewi Gangga bermain. Tetapi, Dewi Gangga menolak ajakan itu karena sedang sibuk memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran.
Akhirnya 2 bidadari yang tidak disebutkan namanya itu mengalah dan pergi begitu saja.
Tentu, di Parang Pawidodaren tidak ada rasa iri, dengki, benci dan sifat-sifat buruk lainnya karena Parang Pawidodaren adalah sebuah Kahyangan yang menjadi tempat pembinaan para Bidadari.
Tak lama, Batara Narada pun datang ke Parang Pawidodaren memberikan dawuh dari Batara Guru sebagai pimpinan para Dewa.
Ketika Batara Narada datang, semua bidadari berbaris menghaturkan sembah.
Batara Narada dengan baik menerima sembah dari seluruh bidadari, lalu Batara Narada memberitahu masalah yang sedang terjadi di Kahyangan.
Mengenai Gonjang-Ganjing yang dibuat oleh seorang manusia berkasta Brahmana, ialah Begawan Sentanu.
Begawan Sentanu bertapa dengan khusyuk dan penuh khidmat sehingga ketekunannya beribadah membuat getaran yang mengkhawatirkan .
Mereka selalu tertawa gembira dan tersenyum dengan lesung pipi yang merona.
Salah seorang bidadari yang sedang bercanda dengan sesamanya, yakni Dewi Gangga sedang sibuk memperhatikan bunga-bunga.
Ia begitu menikmati bunga-bunga yang tumbuh mekar, harumnya mengalahkan bau harum bunga-bunga yang tumbuh di bumi.
Ketika sedang memperhatikan bunga, datanglah 2 orang bidadari mengajak Dewi Gangga bermain. Tetapi, Dewi Gangga menolak ajakan itu karena sedang sibuk memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran.
Akhirnya 2 bidadari yang tidak disebutkan namanya itu mengalah dan pergi begitu saja.
Tentu, di Parang Pawidodaren tidak ada rasa iri, dengki, benci dan sifat-sifat buruk lainnya karena Parang Pawidodaren adalah sebuah Kahyangan yang menjadi tempat pembinaan para Bidadari.
Tak lama, Batara Narada pun datang ke Parang Pawidodaren memberikan dawuh dari Batara Guru sebagai pimpinan para Dewa.
Ketika Batara Narada datang, semua bidadari berbaris menghaturkan sembah.
Batara Narada dengan baik menerima sembah dari seluruh bidadari, lalu Batara Narada memberitahu masalah yang sedang terjadi di Kahyangan.
Mengenai Gonjang-Ganjing
Begawan Sentanu bertapa dengan khusyuk dan penuh khidmat sehingga ketekunannya beribadah membuat getaran yang mengkhawatirkan
Batara Narada segera memerintahkan para Bidadari yang bersedia mengemban tugas untuk mengagalkan tapa brata Begawan Sentanu.
Diantara para Bidadari yang berbaris, hanya ada satu bidadari yang menyatakan diri sanggup menjalani tugas.
Dewi Gangga, ialah bidadari yang tadi sedang memperhatikan bunga-bunga di Parang Pawidodaren. Dewi Gangga bersedia menjalankan tugas, maka Batara Narada setuju dengan keinginannya.
Lalu Batara Narada mengajak Dewi Gangga menghadap Batara Guru untuk membahas cara-cara menggoda kekhusyukan Begawan Sentanu.
Lalu, di Kahyangan Suralaya' Bathara Guru duduk di singgasana menghadap ke arah alam mayapada.
Diantara para Bidadari yang berbaris, hanya ada satu bidadari yang menyatakan diri sanggup menjalani tugas.
Dewi Gangga, ialah bidadari yang tadi sedang memperhatikan bunga-bunga di Parang Pawidodaren. Dewi Gangga bersedia menjalankan tugas, maka Batara Narada setuju dengan keinginannya.
Lalu Batara Narada mengajak Dewi Gangga menghadap Batara Guru untuk membahas cara-cara menggoda kekhusyukan Begawan Sentanu.
Lalu, di Kahyangan Suralaya' Bathara Guru duduk di singgasana menghadap ke arah alam mayapada.
Dari tempat dimana ia duduk, Bathara Guru menyaksikan kehebatan Begawan
Sentanu melakukan tapa brata yang kedahsyatan kesaktian pertapa itu
mengguncang Kahyangan.
Saat sedang mengamati, datanglah Bathara Narada dan Dewi Gangga menghadap penguasa kahyangan. Kemudian, terjadilah perbincangan antara ketiganya' dari hasil perbincangan itu Bathara Guru mengutus Dewi Gangga menggagalkan tapa brata Begawan Sentanu.
Dewi Gangga turun ke bumi untuk menggoda Begawan Sentanu, kali ini ia melakukan sesuatu yang tak lazim. Yakni menggunakan bau wangi untuk mengusik kekhusyukan pertapa itu.
Saat sedang mengamati, datanglah Bathara Narada dan Dewi Gangga menghadap penguasa kahyangan. Kemudian, terjadilah perbincangan antara ketiganya' dari hasil perbincangan itu Bathara Guru mengutus Dewi Gangga menggagalkan tapa brata Begawan Sentanu.
Dewi Gangga turun ke bumi untuk menggoda Begawan Sentanu, kali ini ia melakukan sesuatu yang tak lazim. Yakni menggunakan bau wangi untuk mengusik kekhusyukan pertapa itu.
Bau wangi yang semerbak itu
berhasil membuat seluruh hutan dipenuhi aroma khas. Namanya juga
bidadari, semua strategi untuk menggoda manusia terkadang harus
menggunakan cara itu.
Namun, apa daya...
Begawan Sentanu tidak tertarik sama sekali dengan bau wangi yang dikeluarkan dari tubuh Dewi Gangga. Singkat cerita, Dewi Gangga melakukan strategi kedua yakni mendatangkan angin ribut yang mampu merobohkan pepohonan.
Mungkin dengan cara ini Begawan Sentanu dapat terbangun dari tapa bratanya. Angin pun dikeluarkan dan menghempaskan seluruh pepohonan dihutan.
Tetapi, sayangnya belum berhasil juga berhasil membuatnya terbangun. Meski seluruh hutan dan pertapaan porak-poranda akibat angin ribut itu. Keimanan tinggi dan mantap yang dilakukan Begawan Sentanu benar-benar luar biasa.
Namun, apa daya...
Begawan Sentanu tidak tertarik sama sekali dengan bau wangi yang dikeluarkan dari tubuh Dewi Gangga. Singkat cerita, Dewi Gangga melakukan strategi kedua yakni mendatangkan angin ribut yang mampu merobohkan pepohonan.
Mungkin dengan cara ini Begawan Sentanu dapat terbangun dari tapa bratanya. Angin pun dikeluarkan dan menghempaskan seluruh pepohonan dihutan.
Tetapi, sayangnya belum berhasil juga berhasil membuatnya terbangun. Meski seluruh hutan dan pertapaan porak-poranda akibat angin ribut itu. Keimanan tinggi dan mantap yang dilakukan Begawan Sentanu benar-benar luar biasa.
Dua kali gagal membangunkan Begawan Sentanu, Dewi Gangga mencoba menggunakan cara ketiga yakni pura-pura tenggelam di sungai. Segera Dewi Gangga menceburkan diri ke dalam sungai, sebenarnya sungai
itu cukup dangkal' tetapi kali ini Dewi Gangga bersandiwara demi
menuntaskan misinya.
Setelah menceburkan diri, Dewi Gangga berteriak minta tolong dengan suara menggema.
Bahkan suara teriakan Dewi Gangga sempat terdengar hingga langit ke tujuh. Sangking nyaringnya suara teriakan bidadari itu, Langit mendadak mendung. Petir menyambar-nyamb ar dan kilat menghiasi seisi langit, dan akhirnya Begawan Sentanu terbangun dari tapa bratanya untuk mencari sumber suara.
Dengan ilmu saktinya, Begawan Sentanu mencari dimana sumber suara teriakan itu. Setelah dicari rupanya suara itu berada didalam sungai. Lalu dengan jurus yang bernama Aji Lebur Sakethi, Begawan Sentanu membelah sungai hingga ditemukanlah sesosok wanita yang tubuhnya basah kuyup. Lantas Begawan Sentanu mendekati wanita yang terkapar itu, lalu wanita yang terkapar itu dibopong ke Pertapaan Talkanda untuk diobati.
Dengan kesaktiannya, Begawan Sentanu berhasil membangunkan wanita yang tadi tenggelam itu.
Setelah menceburkan diri, Dewi Gangga berteriak minta tolong dengan suara menggema.
Bahkan suara teriakan Dewi Gangga sempat terdengar hingga langit ke tujuh. Sangking nyaringnya suara teriakan bidadari itu, Langit mendadak mendung. Petir menyambar-nyamb
Dengan ilmu saktinya, Begawan Sentanu mencari dimana sumber suara teriakan itu. Setelah dicari rupanya suara itu berada didalam sungai. Lalu dengan jurus yang bernama Aji Lebur Sakethi, Begawan Sentanu membelah sungai hingga ditemukanlah sesosok wanita yang tubuhnya basah kuyup. Lantas Begawan Sentanu mendekati wanita yang terkapar itu, lalu wanita yang terkapar itu dibopong ke Pertapaan Talkanda untuk diobati.
Dengan kesaktiannya, Begawan Sentanu berhasil membangunkan wanita yang tadi tenggelam itu.
Alhasil wanita itu memperkenalkan diri setelah diselamatkan, wanita itu bernama Dewi Gangga.
Rupanya, Begawan Sentanu mulai jatuh cinta dengan Dewi Gangga yang baru saja diselamatkannya .
Getaran asmara mulai membahana dalam diri mereka, akhirnya tugas Dewi Gangga dinyatakan berhasil oleh Dewata.
Rupanya, Begawan Sentanu mulai jatuh cinta dengan Dewi Gangga yang baru saja diselamatkannya
Getaran asmara mulai membahana dalam diri mereka, akhirnya tugas Dewi Gangga dinyatakan berhasil oleh Dewata.
Dengan
penuh gairah, Begawan Sentanu menggandeng tangan Dewi Gangga. Kidung
Asmara mulai terdengar dari langit yang merupakan nyanyian Kahyangan.
Cinta bersemi seketika pada pandangan pertama, kali ini Dewi Gangga membalas perbuatan baik Begawan Sentanu dengan merelakan seluruh jiwa raganya.
Begawan Sentanu tidak keberatan dengan apa yang diajukan Dewi Gangga. Mereka pun akhirnya terbuai dalam pekatnya kabut birahi yang memaksa mereka melakukan hubungan badan.
Batara Guru yang melihat dari Kahyangan hanya bisa tersenyum karena Dewi Gangga sudah menjalankan tugasnya.
Cerita ini semakin menarik karena Begawan Sentanu dan Dewi Gangga akhirnya saling mencintai sehingga pernikahan cara gandarwa pun menjadi sarana bersatunya kedua insan.
Cinta bersemi seketika pada pandangan pertama, kali ini Dewi Gangga membalas perbuatan baik Begawan Sentanu dengan merelakan seluruh jiwa raganya.
Begawan Sentanu tidak keberatan dengan apa yang diajukan Dewi Gangga. Mereka pun akhirnya terbuai dalam pekatnya kabut birahi yang memaksa mereka melakukan hubungan badan.
Batara Guru yang melihat dari Kahyangan hanya bisa tersenyum karena Dewi Gangga sudah menjalankan tugasnya.
Cerita ini semakin menarik karena Begawan Sentanu dan Dewi Gangga akhirnya saling mencintai sehingga pernikahan cara gandarwa pun menjadi sarana bersatunya kedua insan.
Mereka berdua bercumbu dengan panas,
banyak sekali hal yang perlu disampaikan. Seketika Begawan Sentanu
akhirnya menunaikan tugasnya sebagai pria sejati, yakni membuahi indung
telur Dewi Gangga. Tanpa sehelai kain, kedua manusia yang dimabuk asmara itu akhirnya puas merasakan cinta dalam seteguk birahi.
Mereka berciuman dan mulai menggeliat setelah tenaga yang terkuras terasa hingga ubun-ubun kepala. Begawan Sentanu dan Dewi Gangga pun menjalani hidup sebagai pasangan
suami istri, mereka hidup selama 10 tahun dan akhirnya ketika Dewi
Gangga hamil tua' Langit dan Bumi bergejolak seakan menyambut kelahiran
jabang bayi.
Namun, takdir berkata lain' Dewi Gangga pun meninggal dunia setelah melahirkan anak satu-satunya. Dewi Gangga berpisah dengan Begawan Sentanu untuk kembali ke Kahyangan karena tugasnya sudah selesai. Sebelum kembali ke Kahyangan, Dewi Gangga memberi nama anak yang baru dilahirkannya dengan sebutan Dewabrata.
Namun, takdir berkata lain' Dewi Gangga pun meninggal dunia setelah melahirkan anak satu-satunya. Dewi Gangga berpisah dengan Begawan Sentanu untuk kembali ke Kahyangan karena tugasnya sudah selesai. Sebelum kembali ke Kahyangan, Dewi Gangga memberi nama anak yang baru dilahirkannya dengan sebutan Dewabrata.
Kesedihan Begawan Sentanu ditinggal mati istri tercinta membuatnya sulit melupakan masa-masa indah yang telah dilalui bersama. Dalam kesendirian, Begawan Sentanu mengasuh Dewabrata sebagai putra
satu-satunya dengan penuh kasih sayang.
Tangisan Dewabrata kerap membuat Begawan Sentanu selalu mengingat istrinya yang kini berada di kasedan jati. Air mata kerap menetes setiap memandang wajah Dewabrata yang masih berujud bayi mungil. Namun, apa daya inilah kehendak Dewata atas apa yang harus terjadi.
(Bersambung)
Tangisan Dewabrata kerap membuat Begawan Sentanu selalu mengingat istrinya yang kini berada di kasedan jati. Air mata kerap menetes setiap memandang wajah Dewabrata yang masih berujud bayi mungil. Namun, apa daya inilah kehendak Dewata atas apa yang harus terjadi.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar