Kamis, 07 Februari 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Lahirnya Abiyasa Putra Palasara

Gambar : Begawan Palasara berputra Abiyasa

Dalam perjalanan, kereta kencana yang dikendarai Begawan Palasara berhenti di dekat sungai Yamuna, tempat dimana dahulu Begawan Palasara dan Dewi Durgandini bertemu.
Dewi Durgandini turun dari kereta dan melihat jernihnya aliran sungai Yamuna yang tak pernah keruh walaupun sudah lama mengalir.
Lalu, Begawan Palasara mengajak Dewi Durgandini berjalan-jalan menyaksikan indahnya pemandangan di tepi sungai.

Sangking menikmati indahnya suasana, Begawan Palasara melihat sebuah pulau kecil ditengah sungai. Maka timbullah hasrat asmara didalam dada, Begawan Palasara membawa Dewi Durgandini menyeberangi sungai Yamuna yang kebetulan sedang surut airnya.
Begawan Palasara akhirnya mendirikan gubug dari bambu beratapkan rumbia untuk tinggal disana sementara waktu.

Setelah gubung jadi, Begawan Palasara akhirnya mengajak Dewi Durgandini memadu kasih. Rupanya panah asmara telah menancap dihati mereka berdua, ternyata inilah waktunya untuk berhubungan intim.

Lalu, segera mereka berdua telanjang bulat' seperti kehilangan akal Begawan Palasara memeluk Dewi Durgandini dengan erat bagaikan lengket.
Keduanya saling cium, saling cumbu dan saling menikmati indahnya asmara.

Setelah lama memadu kasih, suasana diluar gubug mulai berganti cuaca.
Tadinya cuacanya cerah berubah menjadi agak berawan dan mendung. Angin yang mulanya sepoi-sepoi tiba-tiba meningkat kecepatannya.
Sementara itu Begawan Palasara dan Dewi Durgandini masih berada didalam gubug, mereka sedang menikmati indahnya dunia asmara.

Mereka menjamah satu sama lain, keringat bercucuran seiring gerakan dalam peraduan birahi. Begawan Palasara menyentuh payudara Dewi Durgandini dengan hati-hati sambil mencium bibirnya.
Dewi Durgandini pun melakukan hal serupa, sang Dewi menyentuh Penis sang Begawan yang sedang ereksi penuh.

Dewi Durgandini bermain-main dengan Penis Begawan Palasara dengan cara mengocoknya, dan sang Begawan mulai terangsang dengan pijatan yang manja dari tangan Dewi Durgandini.
Begawan Palasara mendesah sambil tersenyum, ia merasa dibuat tak berdaya dengan sentuhan nakal Dewi Durgandini.
Karena dibuat seperti itu, Begawan Palasara lantas membalas perbuatan Dewi Durgandini dengan meremas sepasang payudaranya.

Sang dewi pun dibuat tak tahan bahkan seperti sudah dipengaruhi oleh bujukan nafsu.
Maka Dewi Durgandini pun mulai seperti Harimau Betina yang lapar akan belaian nafsu, lalu keadaan pun makin tak terkendali saat Begawan Palasara mencengkeram Dewi Durgandini yang dalam posisi terbaring.

Makan Begawan Palasara mulai melancarkan "Tusukan" ke bagian vital Dewi Durgandini, maka sang Dewi turut melenguh sambil meringis.
Terbayang sebuah ekspresi seorang wanita yang sudah menjadi santapan empuk lelaki yang dimabuk asmara.

Mata terpejam, mulut menganga dan rambut terurai sehingga menambah kesan cantik nan menggoda dimata Begawan Palasara.
Cerita semakin lama semakin tak karuan karena dibumbui adegan yang lebih menjurus ke dunia tanpa pikiran.

Seketika para Dewa Kahyangan yang menyaksikan perbuatan tidak seronok itu lantas menyanyikan kidung asmara dengan ditabuhnya Gamelan Lokananta.
Bumi seolah ikut menyanyikan kidung asmara demi menghormati Begawan Palasara dan Dewi Durgandini yang dimabuk asmara.
Maka seketika langit pun mendung, lantas cuaca berubah menjadi dingin. Namun, perubahan cuaca tersebut tidak membuat mereka berdua terganggu.
Justru semakin menjadi-jadi dan menggila suasana didalam gubug, lalu mulailah gerimis turun membasahi hijaunya pertiwi.
Angin makin sepoi-sepoi meniup dedaunan, lalu jatuh diatas aliran sungai yang jernih. Kilaunya bagai permata yang tenggelam didasar samudra berekor.

Kisah ini berlanjut saat Begawan Palasara dan Dewi Durgandini selesai melakukan hubungan asmara yang cukup lama.
Mereka sudah merasakan nikmatnya berbuat seperti itu, seketika muncul cahaya dari langit turun ke bumi diantara derasnya hujan.
Cahaya itu merupakan wahyu kapandhitan yang turun menyertai tergolek lemahnya Dewi Durgandini setelah berhubungan.
Wahyu Kapandhitan itu menjadi pertanda bahwa kelak akan lahir seorang anak yang merupakan hasil dari hubungan badan itu.
Bahkan ternyata para Dewa telah memprediksi kelak anak yang akan lahir dari Dewi Durgandini itu akan menjadi pencatat sejarah kehidupan wangsa Bharata.

Dan berdasarkan apa yang telah diramalkan, 9 bulan kemudian' Dewi Durgandini melahirkan seorang anak laki-laki yang berkulit hitam.
Namun, pamornya sangat menyedot perhatian seluruh jagat raya. Anak laki-laki itu kemudian dinamakan Abiyasa.
Kelahiran Abiyasa disambut dengan cerahnya cuaca pada hari itu, langit membiru penuh pesona dan hawa sejuk yang meluluhkan suasana.

(Selesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar