Gambar : Dewi Durgandini
Begawan
Sentanu bertekad mencari Ibu Asuh untuk Dewabrata yang masih kecil,
kali ini Begawan Sentanu mengembara ke seluruh tempat yang ada.
Hutan-hutan, gunung-gunung, desa-desa bahkan kawasan pedalaman tidak luput dari injakan kakinya.
Sampai suatu ketika Begawan Sentanu mendatangi sebuah tempat yang cukup sunyi, tempat itu adalah sebuah Goa.
Goa itu sangat gelap dan ditinggali berbagai macam kelelawar.
Sesampainya di dalam Goa, Begawan Sentanu melakukan tapa brata untuk memperoleh petunjuk agar bisa mencari ibu asuh untuk putra semata wayangnya, Dewabrata.
Hutan-hutan, gunung-gunung, desa-desa bahkan kawasan pedalaman tidak luput dari injakan kakinya.
Sampai suatu ketika Begawan Sentanu mendatangi sebuah tempat yang cukup sunyi, tempat itu adalah sebuah Goa.
Goa itu sangat gelap dan ditinggali berbagai macam kelelawar.
Sesampainya di dalam Goa, Begawan Sentanu melakukan tapa brata untuk memperoleh petunjuk agar bisa mencari ibu asuh untuk putra semata wayangnya, Dewabrata.
Bersemedi dan memejamkan mata adalah cara untuk
menenangkan jiwa bagi kaum brahmana. Dimana Begawan Sentanu begitu
mumpuni dalam menjalani ilmu kebathinan.
Lalu, tanpa disadari sukma Begawan Sentanu melayang ke langit dan akhirnya sampai ke Kahyangan. Saat sampai di kahyangan, Begawan Sentanu bertemu dengan Bathara Indra' rupanya Begawan Sentanu beruntung bisa bertemu seorang dewa.
Begawan Sentanu meminta petunjuk untuk mendapatkan ibu asuh untuk Dewabrata. Lalu, Bathara Indra memberi jawaban bahwa di negeri Hastina ada seorang wanita bernama Durgandini yang menjadi istri Begawan Palasara.
Lalu, tanpa disadari sukma Begawan Sentanu melayang ke langit dan akhirnya sampai ke Kahyangan. Saat sampai di kahyangan, Begawan Sentanu bertemu dengan Bathara Indra' rupanya Begawan Sentanu beruntung bisa bertemu seorang dewa.
Begawan Sentanu meminta petunjuk untuk mendapatkan ibu asuh untuk Dewabrata. Lalu, Bathara Indra memberi jawaban bahwa di negeri Hastina ada seorang wanita bernama Durgandini yang menjadi istri Begawan Palasara.
Menurut Bathara Indra, Durgandini diyakini mampu menjadi Ibu Asuh bagi Dewabrata karena istri Prabu Dipakeswara/ Begawan Palasara itu bisa menjadi sosok penting bagi anaknya.
Lalu Begawan Sentanu berterima kasih atas petunjuk Bathara Indra, segera sukma sang Begawan kembali ke mayapada.
Tanpa pikir panjang, Begawan Sentanu menggendong Dewabrata sambil berjalan menuju sebuah negeri yang tadi disebutkan.
Lalu Begawan Sentanu berterima kasih atas petunjuk Bathara Indra, segera sukma sang Begawan kembali ke mayapada.
Tanpa pikir panjang, Begawan Sentanu menggendong Dewabrata sambil berjalan menuju sebuah negeri yang tadi disebutkan.
Selama
melakukan perjalanan, tidak lupa Begawan Sentanu melakukan Tapa Ngrame.
Artinya, Begawan Sentanu harus menolong sesama manusia untuk mendapat
pahala agar kelak apa yang diimpikan bisa jadi kenyataan.
Mengingat ini adalah petunjuk dewata, otomatis harus dijalani dengan tulus tanpa harap pamrih.
Mengingat ini adalah petunjuk dewata, otomatis harus dijalani dengan tulus tanpa harap pamrih.
Satu per satu, orang yang ditemui Begawan Sentanu berhasil ditolongnya.
Bahkan Begawan Sentanu rela menjadi tabib dan tidak dibayar sepeserpun. Semuanya demi menemukan apa yang selama ini ia cari.
Menuju Hastinapura, itulah tujuan utama dibalik aksi Tapa Ngrame yang dilakukan Begawan Sentanu.
Bahkan Begawan Sentanu rela menjadi tabib dan tidak dibayar sepeserpun. Semuanya demi menemukan apa yang selama ini ia cari.
Menuju Hastinapura, itulah tujuan utama dibalik aksi Tapa Ngrame yang dilakukan Begawan Sentanu.
Akhirnya Begawan Sentanu mulai dikenal sebagai tabib yang tidak dibayar dengan emas picis raja brana.
Rupanya kehebatan Begawan Sentanu sebagai tabib mulai terdengar sampai ke telinga raja Hastinapura, Prabu Dipakeswara.
Kebetulan Prabu Dipakeswara membutuhkan seorang tabib istana untuk keperluan pengobatan bagi keluarga kerajaan. Lalu, diutuslah seorang tumenggung untuk mengajak Begawan Sentanu menghadap Prabu Dipakeswara.
Tumenggung tersebut datang ke tempat dimana Begawan Sentanu membuka praktek gratisnya. Dengan penuh suka cita, tumenggung itu meminta sang begawan menghadap ke istana menemui sang prabu.
Mendengar pinta tumenggung, Begawan Sentanu setuju untuk segera menghadap ke Hastinapura. Kemudian, Begawan Sentanu datang menghadap ke Hastinapura menemui Prabu Dipakeswara.
Ternyata ada suasana hening saat Begawan Sentanu menghadap Prabu Dipakeswara. Ada apa gerangan ?
Suasana hening di Hastinapura menjadikan hari itu benar-benar mencengangkan.
Rupanya kehebatan Begawan Sentanu sebagai tabib mulai terdengar sampai ke telinga raja Hastinapura, Prabu Dipakeswara.
Kebetulan Prabu Dipakeswara membutuhkan seorang tabib istana untuk keperluan pengobatan bagi keluarga kerajaan. Lalu, diutuslah seorang tumenggung untuk mengajak Begawan Sentanu menghadap Prabu Dipakeswara.
Tumenggung tersebut datang ke tempat dimana Begawan Sentanu membuka praktek gratisnya. Dengan penuh suka cita, tumenggung itu meminta sang begawan menghadap ke istana menemui sang prabu.
Mendengar pinta tumenggung, Begawan Sentanu setuju untuk segera menghadap ke Hastinapura. Kemudian, Begawan Sentanu datang menghadap ke Hastinapura menemui Prabu Dipakeswara.
Ternyata ada suasana hening saat Begawan Sentanu menghadap Prabu Dipakeswara. Ada apa gerangan ?
Suasana hening di Hastinapura menjadikan hari itu benar-benar mencengangkan.
Diam-diam Prabu Dipakeswara menyimpan rasa rindunya terhadap kondisi pertapaan Saptaarga yang ditinggal sejak lama.
Maksud hati Prabu Dipakeswara memanggil Begawan Sentanu adalah membicarakan hal tentang nasib kerajaan yang sebenarnya baik-baik saja tapi ternyata ada keinginan dari sang Prabu untuk kembali menjadi pendeta seperti dulu.
Pembicaraan empat mata pun terjadi antara kedua figur tersebut, dari pembicaraan itu muncul sebuah pernyataan mengejutkan. Akhirnya Prabu Dipakeswara memutuskan untuk lengser keprabon demi niatnya kembali ke Saptaarga.
Maksud hati Prabu Dipakeswara memanggil Begawan Sentanu adalah membicarakan hal tentang nasib kerajaan yang sebenarnya baik-baik saja tapi ternyata ada keinginan dari sang Prabu untuk kembali menjadi pendeta seperti dulu.
Pembicaraan empat mata pun terjadi antara kedua figur tersebut, dari pembicaraan itu muncul sebuah pernyataan mengejutkan. Akhirnya Prabu Dipakeswara memutuskan untuk lengser keprabon demi niatnya kembali ke Saptaarga.
Prabu
Dipakeswara mengaku rindu kehidupan lamanya sebagai pertapa, untuk
sekian kali sang prabu selalu menatap ke langit sambil berkaca-kaca.
Begawan Sentanu heran dengan ekspresi Prabu Dipakeswara yang terlihat tidak bahagia walaupun kini berkuasa sebagai raja.
Akhirnya, Prabu Dipakeswara memutuskan untuk menunjuk Begawan Sentanu sebagai raja Hastina yang baru.
Sontak, Begawan Sentanu kaget dengan keputusan Prabu Dipakeswara yang cenderung terburu-buru.
Begawan Sentanu heran dengan ekspresi Prabu Dipakeswara yang terlihat tidak bahagia walaupun kini berkuasa sebagai raja.
Akhirnya, Prabu Dipakeswara memutuskan untuk menunjuk Begawan Sentanu sebagai raja Hastina yang baru.
Sontak, Begawan Sentanu kaget dengan keputusan Prabu Dipakeswara yang cenderung terburu-buru.
Begawan
Sentanu menolak, karena ia merasa belum siap menjadi raja di
Hastinapura, bahkan sang begawan meminta agar tetap menjadi raja demi
menyejahterakan rakyat.
Tapi sayangnya, keinginan Prabu Dipakeswara untuk lengser keprabon makin kuat lantaran dorongan bathinnya dan rasa rindunya yang mendalam untuk kembali menjadi brahmana.
Kemudian, Prabu Dipakeswara memanggil Dewi Durgandini beserta putra-putrinya untuk mengadakan musyawarah.
Dalam musyawarah tersebut, Prabu Dipakeswara mengungkapkan bahwa dirinya ingin kembali menjadi brahmana seperti dahulu. Semua orang yang dipanggil termasuk Dewi Durgandini kaget mendengar pernyataan menggemparkan itu.
Dewi Durgandini yang begitu cintanya terhadap suami akhirnya ikut memutuskan untuk berhenti menjadi ratu demi keinginan Prabu Dipakeswara.
Namun, permintaan Dewi Durgandini ditolak oleh Prabu Dipakeswara' sang dewi bertanya mengapa tidak boleh ?
Prabu Dipakeswara mengatakan bahwa istrinya itu harus menjadi liang yang menelurkan raja-raja besar. Itu artinya, Prabu Dipakeswara hendak menceraikan Dewi Durgandini dan menikahkannya dengan Begawan Sentanu yang sudah menduda lama.
Air mata jatuh ke lantai, Dewi Durgandini menangis atas keputusan Prabu Dipakeswara yang hendak lengser keprabon.
Tapi sayangnya, keinginan Prabu Dipakeswara untuk lengser keprabon makin kuat lantaran dorongan bathinnya dan rasa rindunya yang mendalam untuk kembali menjadi brahmana.
Kemudian, Prabu Dipakeswara memanggil Dewi Durgandini beserta putra-putrinya untuk mengadakan musyawarah.
Dalam musyawarah tersebut, Prabu Dipakeswara mengungkapkan bahwa dirinya ingin kembali menjadi brahmana seperti dahulu. Semua orang yang dipanggil termasuk Dewi Durgandini kaget mendengar pernyataan menggemparkan itu.
Dewi Durgandini yang begitu cintanya terhadap suami akhirnya ikut memutuskan untuk berhenti menjadi ratu demi keinginan Prabu Dipakeswara.
Namun, permintaan Dewi Durgandini ditolak oleh Prabu Dipakeswara' sang dewi bertanya mengapa tidak boleh ?
Prabu Dipakeswara mengatakan bahwa istrinya itu harus menjadi liang yang menelurkan raja-raja besar. Itu artinya, Prabu Dipakeswara hendak menceraikan Dewi Durgandini dan menikahkannya dengan Begawan Sentanu yang sudah menduda lama.
Air mata jatuh ke lantai, Dewi Durgandini menangis atas keputusan Prabu Dipakeswara yang hendak lengser keprabon.
Begitupun putra-putra yang lain, mereka turut menyayangkan keputusan Prabu Dipakeswara.
Namun, semua itu sudah bulat lantaran dorongan untuk kembali menjadi brahmana semakin kuat agar kondisi alam fana dan alam rohani berjalan seimbang.
Abiyasa, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Sudesna, Gandawana dan Setatama hanya bisa menerima keputusan ayahanda mereka untuk kembali menjadi brahmana.
Lalu, Prabu Dipakeswara menggandengkan tangan Dewi Durgandini dengan Begawan Sentanu untuk dinikahkan. Suasana haru mulai mengisi ruangan pertemuan, maka resmilah keduanya menikah.
Keesokan harinya, Prabu Dipakeswara mengundang seluruh rakyat Hastina untuk menghadiri penobatan raja baru.
Begawan Sentanu duduk di singgasana dengan busana serba mewah, walaupun tidak tega merasakan keadaan ini' tetapi inilah kenyataan yang harus disandang brahmana itu.
Namun, semua itu sudah bulat lantaran dorongan untuk kembali menjadi brahmana semakin kuat agar kondisi alam fana dan alam rohani berjalan seimbang.
Abiyasa, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Sudesna, Gandawana dan Setatama hanya bisa menerima keputusan ayahanda mereka untuk kembali menjadi brahmana.
Lalu, Prabu Dipakeswara menggandengkan tangan Dewi Durgandini dengan Begawan Sentanu untuk dinikahkan. Suasana haru mulai mengisi ruangan pertemuan, maka resmilah keduanya menikah.
Keesokan harinya, Prabu Dipakeswara mengundang seluruh rakyat Hastina untuk menghadiri penobatan raja baru.
Begawan Sentanu duduk di singgasana dengan busana serba mewah, walaupun tidak tega merasakan keadaan ini' tetapi inilah kenyataan yang harus disandang brahmana itu.
Begawan Sentanu akhirnya dilantik sebagai raja baru negeri Hastinapura menggantikan Prabu Dipakeswara.
Prabu Dipakeswara sendiri kembali menjadi brahmana bergelar Begawan Palasara, turun tahtanya penguasa Hastinapura disusul mundurnya Abiyasa, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Sudesna, Gandawana dan Setatama sebagai pangeran/putri kerajaan.
Begawan Palasara berpesan agar Hastinapura dijaga dengan baik dan jangan sampai ada kekacauan yang menyebabkan ketidakseimbang an.
Dengan wajah yang tegak menghadap sang surya, Begawan Palasara diiringi putra-putrinya kembali ke Pertapaan Saptaarga untuk menjalani hidup sebagai Brahmana.
Begawan Sentanu kini menjadi raja baru Hastinapura, sementara itu Dewabrata yang merupakan anak semata wayangnya diangkat sebagai putra mahkota.
Kehidupan terus berjalan, hari demi hari terus menggerus perubahan di muka bumi. Negeri Hastinapura perlahan menjadi negara yang makmur berkat kebijaksanaan Prabu Sentanu.
Cerita pun berganti, kali ini berpindah ke pertapaan Saptaarga yang kondisinya sunyi tiada berpenghuni.
Prabu Dipakeswara sendiri kembali menjadi brahmana bergelar Begawan Palasara, turun tahtanya penguasa Hastinapura disusul mundurnya Abiyasa, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Sudesna, Gandawana dan Setatama sebagai pangeran/putri kerajaan.
Begawan Palasara berpesan agar Hastinapura dijaga dengan baik dan jangan sampai ada kekacauan yang menyebabkan ketidakseimbang
Dengan wajah yang tegak menghadap sang surya, Begawan Palasara diiringi putra-putrinya kembali ke Pertapaan Saptaarga untuk menjalani hidup sebagai Brahmana.
Begawan Sentanu kini menjadi raja baru Hastinapura, sementara itu Dewabrata yang merupakan anak semata wayangnya diangkat sebagai putra mahkota.
Kehidupan terus berjalan, hari demi hari terus menggerus perubahan di muka bumi. Negeri Hastinapura perlahan menjadi negara yang makmur berkat kebijaksanaan Prabu Sentanu.
Cerita pun berganti, kali ini berpindah ke pertapaan Saptaarga yang kondisinya sunyi tiada berpenghuni.
Begawan Palasara melanjutkan misi sebagai seorang pertapa guna menyeimbangkan kehidupan melalui jalur rohani.
Abiyasa, Gandawana, Setatama, Rupakenca dan Kencakarupa didaulat sebagai murid sekaligus pembimbing bagi para cantrik.
Sedangkan Sudesna didaulat sebagai pembimbing rohani bagi para wanita yang tinggal disekitar pertapaan Saptaarga. Begawan Palasara mulai menjalankan tugasnya sebagai rohaniwan agar kondisi kehidupan manusia terjaga dari sifat-sifat angkara murka.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun' tidak terasa sudah 5 tahun semenjak turun tahta, Begawan Palasara kembali melayani pendidikan ilmu keagamaan bagi penduduk dan para cantrik.
Diceritakan, Sudesna sedang tidur siang setelah melayani bimbingan rohani untuk para gadis-gadis. Kemudian ia bermimpi ditemui seorang lelaki tampan yang usianya cukup dewasa, dalam mimpinya itu Sudesna dikenalkan pada seorang ksatria yang bernama Durgandana.
Abiyasa, Gandawana, Setatama, Rupakenca dan Kencakarupa didaulat sebagai murid sekaligus pembimbing bagi para cantrik.
Sedangkan Sudesna didaulat sebagai pembimbing rohani bagi para wanita yang tinggal disekitar pertapaan Saptaarga. Begawan Palasara mulai menjalankan tugasnya sebagai rohaniwan agar kondisi kehidupan manusia terjaga dari sifat-sifat angkara murka.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun' tidak terasa sudah 5 tahun semenjak turun tahta, Begawan Palasara kembali melayani pendidikan ilmu keagamaan bagi penduduk dan para cantrik.
Diceritakan, Sudesna sedang tidur siang setelah melayani bimbingan rohani untuk para gadis-gadis. Kemudian ia bermimpi ditemui seorang lelaki tampan yang usianya cukup dewasa, dalam mimpinya itu Sudesna dikenalkan pada seorang ksatria yang bernama Durgandana.
Mimpi yang dialami Sudesna benar-benar seakan nyata karena ksatria itu hendak menjadikannya sebagai permaisuri.
Kemudian Sudesna terbangun dari mimpinya dan menceritakan mimpinya itu kepada ayahandanya. Begawan Palasara yang sedang bersantap malam bersama putra-putra yang lain dikagetkan dengan Sudesna karena dirundung kasmaran.
Kemudian Sudesna terbangun dari mimpinya dan menceritakan mimpinya itu kepada ayahandanya. Begawan Palasara yang sedang bersantap malam bersama putra-putra yang lain dikagetkan dengan Sudesna karena dirundung kasmaran.
Semua saudara Sudesna heran, mengapa gadis itu bisa seceria bukan kepalang.
Abiyasa yang memiliki ilmu membaca pikiran dan hati sudah tahu jawabannya. Abiyasa menganggap bahwa Sudesna sedang kasmaran dengan seseorang yang muncul dari dalam mimpinya.
Rajamala pun menggerutu bahwa kakak perempuannya itu habis kesurupan gara-gara mimpi anehnya itu. Suara tawa menghias suasana keharmonisan keluarga penghuni pertapaan Saptaarga.
Rajamala, Rupakenca dan Kencakarupa tidak hanya tertawa tapi juga menyelipkan gurauan khas mereka' bahkan gurauan ketiga anak muda itu makin memperkuat kerukunan.
Siang hari pun datang, Begawan Palasara baru saja melakukan ibadat di dalam sanggar pamujan. Lalu, dari arah belakang muncul Abiyasa yang sepertinya hendak menyampaikan sesuatu.
Abiyasa yang memiliki ilmu membaca pikiran dan hati sudah tahu jawabannya. Abiyasa menganggap bahwa Sudesna sedang kasmaran dengan seseorang yang muncul dari dalam mimpinya.
Rajamala pun menggerutu bahwa kakak perempuannya itu habis kesurupan gara-gara mimpi anehnya itu. Suara tawa menghias suasana keharmonisan keluarga penghuni pertapaan Saptaarga.
Rajamala, Rupakenca dan Kencakarupa tidak hanya tertawa tapi juga menyelipkan gurauan khas mereka' bahkan gurauan ketiga anak muda itu makin memperkuat kerukunan.
Siang hari pun datang, Begawan Palasara baru saja melakukan ibadat di dalam sanggar pamujan. Lalu, dari arah belakang muncul Abiyasa yang sepertinya hendak menyampaikan sesuatu.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar