Minggu, 28 April 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Pernikahan Sudesna


Gambar : Prabu Matswapati

Abiyasa memberitahukan sesuatu bahwa akan ada seseorang yang hendak mendatangi pertapaan Saptaaarga. Begawan Palasara ingin tahu, siapa seseorang yang datang itu ?
Jawaban Abiyasa sangat sederhana, bangsawan besar dari negeri Wirata hendak melepas rindu ke Saptaarga.

Begawan Palasara menduga bahwa bangsawan dari negeri Wirata itu adalah penguasa besar yang ingin berguru kepadanya. Siang pun menjelang, seluruh penghuni pertapaan Saptaarga sibuk membuat masakan untuk makan siang. Salah seorang cantrik yang sibuk menyapu halaman dikejutkan dengan datangnya sebuah kereta kencana menuju pertapaan, segera cantrik itu menjatuhkan sapu lidinya untuk menuju ke dalam pertapaan.

Begawan Palasara yang sedang duduk membaca kitab sastra bersama Abiyasa akhirnya didatangi seorang cantrik, Abiyasa bertanya kepada cantrik yang baru saja masuk menemui keduanya.
Cantrik itu bilang bahwa ada kereta kencana yang membawa seseorang berhenti di depan pertapaan. Abiyasa tahu, siapa yang datang ke pertapaan Saptaarga.

Abiyasa kemudian keluar pertapaan menemui seseorang yang bertamu, terang saja sosok yang datang ke Saptaarga adalah raja negeri Wirata yang baru' ialah Prabu Matswapati.
Abiyasa menyambut Prabu Matswapati dengan penuh hormat, mengingat raja negeri Wirata itu adalah pamannya sendiri. Segeralah dijamu raja agung binatara itu menuju ke dalam pertapaan.

Begawan Palasara yang melihat dari kejauhan lantas menemui adik iparnya itu. Senyum penuh kehangatan terlihat dari raut wajah kedua figur penting tersebut.
Kemudian di dalam pertapaan, Prabu Matswapati mengatakan maksud kedatangannya ke Saptaarga. Sang prabu terus terang ingin mendapat petunjuk dari Begawan Palasara agar memperoleh calon permaisuri.

Begawan Palasara tertawa mendengar apa yang dikatakan adik iparnya itu, sang begawan baru tahu bahwa Prabu Matswapati masih belum beristri.
Dari dalam kamar, Sudesna yang baru saja berganti pakaian mendengar suara orang berbincang-bincang. Ia ingin tahu siapa yang sedang berbincang di pertapaan.

Lantas, keluarlah Sudesna dari dalam kamar dan terkejut melihat sosok yang ia kenali.
Jantung Sudesna berdegup kencang melihat orang yang sedang berbincang dengan ayahandanya. Sudesna tahu, siapa orang itu...

Kemudian, dari ruang tamu' Begawan Palasara menyuruh Sudesna untuk dibuatkan suguhan berupa minuman teh. Sudesna pun menjawab sehabis ia mengintip dari balik pintu kamar.
Tidak lama, Sudesna datang membawa suguhan untuk tamu berupa teh hangat yang airnya baru saja matang dari dalam teko tanah liat.

Prabu Matswapati segera meminum teh itu, sehabis meminumnya... Sang prabu merasa damai dan tenang karena rasa yang timbul dari teh tersebut begitu luar biasa. Sudesna terpaku melihat Prabu Matswapati, sepertinya ia teringat mimpi saat ia tertidur. Kemudian Sudesna mohon diri kembali ke dapur sambil membawa penampan. Sudesna ternyata mulai tidak karuan hatinya, sepertinya ada hal yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Prabu Matswapati mulai membicarakan hal yang serius, kali ini sang Prabu ingin sekali meminta petunjuk agar bisa bertemu jodohnya. Begawan Palasara tahu masalah itu, malah sang Begawan siap mencari jodoh untuk sang Prabu.

Tanpa pikir panjang, Sudesna yang baru saja kembali ke dapur malah dipanggil lagi. Begawan Palasara begitu sayang kepada Sudesna yang notabene anak perempuan satu-satunya.
Prabu Matswapati tersenyum melihat Sudesna kembali ke ruang tamu, dengan wajah agak malu Sudesna mencuri-curi pandang.

Kontan, Begawan Palasara bisa membaca isi hati anak perempuannya itu. Lantas, Begawan Palasara meminta Sudesna duduk disamping Prabu Matswapati' secara langsung kedua orang yang duduk berdampingan itu dipersatukan kedua tangan kanannya.

Begawan Palasara menjawab dengan santai bahwa jodoh Prabu Matswapati adalah Sudesna, sontak gempar seluruh penjuru bumi bahwa raja Wirata itu yang tidak lain adalah adik ipar sang Begawan Palasara justru dijadikan menantu. Sudesna makin tertunduk, rupanya ayahandanya tahu bahwa Prabu Matswapati adalah orang yang akan menjadi suaminya. Mimpi Sudesna menjadi kenyataan, mereka pun dinikahkan secara sederhana.

Karena sudah menjadi pasangan suami istri, Prabu Matswapati berhak memboyong Sudesna ke Wirata. Tidak hanya itu, seluruh putra Begawan Palasara turut diboyong ke Wirata.
Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Setatama, Gandawana, Tunggulwulung dan Watangaputung ikut ke Wirata sehingga diangkat sebagai bagian dari angkatan perang kerajaan Wirata.

Hampir semua putra-putri Begawan Palasara diboyong ke Wirata, kini tinggal Abiyasa seorang. Begawan Palasara hanya hidup berdua dengan Abiyasa, hari-hari menjadi sepi karena tidak ada keramaian dan canda tawa dari anak-anaknya. Suasana pertapaan Saptaarga mulai agak senyap, bahkan para Cantrik yang biasa membantu kini sudah sedikit karena sibuk mengurus keluarganya.

Begawan Palasara menduga bahwa ini sudah jadi suratan dewata, mengingat nasib anak-anaknya sudah terjamin. Prabu Matswapati yang terhitung adik iparnya sendiri malah menikahi Dewi Sudesna, sedangkan Rupakenca-Kencakarupa, Rajamala, Tunggulwulung, Watangaputung dan Gandawana diangkat sebagai senapati di Wirata. Kini semua keceriaan itu mulai luntur akibat berlalunya peristiwa, bahkan Begawan Palasara mulai bosan menjalani hidup sebagai pertapa. Siang dan malam sang begawan tidak bisa memejamkan mata lantaran sudah hampir kehilangan segalanya.

Dulu Begawan Palasara harus rela kehilangan kerajaan dan istrinya, kini anak-anaknya juga pergi mencari hidup baru di negeri orang. Abiyasa tentu sebagai putra satu-satunya yang masih tersisa berusaha menenangkan hati ayahandanya itu. Akan tetapi karena sudah terlanjur bosan, maka dipilihlah jalan lain yakni meminta kesempurnaan hidup sebelum mati.

Begawan Palasara memohon kepada dewata agar dirinya meminta kesempurnaan hidup.
Dalam hal ini, Begawan Palasara melakukan semedi untuk mencapai moksa. Dilaluilah sebuah semedi yang berlarut-larut hingga wibawanya mengguncang kahyangan.
Para dewa disana mengapresiasi keinginan sang begawan untuk hidup sempurna. Lalu, datanglah Batara Narada menyampaikan pesan bahwa sudah saatnya Begawan Palasara diangkat sebagai dewa untuk menggenapi jumlah seluruh petinggi kahyangan.

Melihat kedatangan Batara Narada, Abiyasa kaget bahwa ayahnya hendak dibawa ke kahyangan untuk moksa bersama raganya. Abiyasa memohon kepada Batara Narada agar tidak buru-buru mengajak Begawan Palasara. Mengingat seisi pertapaan Saptaarga masih membutuhkan wejangan, kemudian Begawan Palasara berpesan kepada putranya untuk memimpin pertapaan dan membimbing para cantrik.

Abiyasa tidak mau ditinggal oleh ayahnya itu, tetapi inilah kenyataan yang harus diterima Abiyasa bahwa sudah saatnya Begawan Palasara undur diri dari kehidupan duniawi.
Abiyasa hanya bisa merelakan orang tuanya pergi demi menggenapi keinginan para dewa. Batara Narada justru memberi sabda kepada Abiyasa bahwa putra Begawan Palasara tersebut akan dikaruniai umur panjang dan kesaktian luar biasa.

Begitulah yang diucapkan Batara Narada kepada Abiyasa, dan berakhirlah perjumpaan Begawan Palasara dengan Abiyasa. Kini sang begawan telah moksa ke kahyangan bersama Batara Narada.
Di kahyangan Suralaya, Batara Narada bersama Begawan Palasara menemui Batara Guru. Kali ini Batara Guru menunjuk Begawan Palasara sebagai salah satu anggota dewan jawata.
Lantas, Begawan Palasara diberi gelar baru yakni Batara Kanwa yang bertugas sebagai pendamping Batara Janaka. Kelak dalam kisah selanjutnya Batara Kanwa dan Batara Janaka ikut mendampingi ksatria penitisan Batara Wisnu yang akan menjadi duta perdamaian.

Sepeninggal Begawan Palasara, pertapaan Saptaarga kini dipimpin oleh Abiyasa. Putra yang terlahir ditengah pulau berkabut ini mulai mengabdikan diri sebagai pertapa muda.
Kini Abiyasa memakai gelar baru, gelar ini berupa gelar khusus bagi pertapa yang masih berusia muda yakni Wasi Dipayana.

Sejak saat itu, Abiyasa mulai rajin bertapa dan mengajar ilmu kebathinan dengan segenap kemampuannya. Abiyasa lantas menjadi pertapa yang terkenal ke seluruh penjuru negeri bahkan ketenaran putra Begawan Palasara telah menembus batas.

Sampai-sampai raja dari negara tetangga ikut berguru dengan Abiyasa. Kisah ini belum terhenti, kelak akan berlanjut menuju alur yang lebih menegangkan lagi dimana kali ini akan dibahas mengenai kehidupan Dewi Durgandini setelah dinikahi Prabu Sentanu.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar