Senin, 20 Mei 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Sumpah Bhisma

 
Gambar : Raden Dewabrata


Kisah lanjutan terjadi di zaman baru, kali ini memasuki zaman pada saat negeri Hastina dipimpin oleh Prabu Sentanu. Sedangkan Dewabrata diangkat sebagai putra mahkota demi menjadi penerus tahta. Pada waktu itu negeri Hastina makmur dan tentram tanpa peperangan.

Sampai suatu hari ada sebuah peristiwa unik yang akan mengubah segalanya, dimana pada malam hari Dewabrata bermimpi melihat terjadinya sebuah peperangan yang akan memusnahkan seluruh keturunan Sentanu.

Terbangun dari mimpi, Dewabrata ketakutan dan melakukan persembahyangan untuk memperoleh petunjuk dewata. Seusai bersembahyang, Dewabrata kembali terlelap hingga fajar menyingsing. Mentari bersinar terang dan burung-burung berkicau dengan riangnya.

Meski suasana pagi terlihat damai, namun tidak dengan suasana hati Dewabrata yang semalam habis bermimpi aneh. Pagi itu Dewabrata menemui Dewi Durgandini, ia menceritakan mimpi semalam secara detail tanpa terlewat sepatah kata pun. Dewi Durgandini terkejut dengan isi mimpi yang diceritakan Dewabrata, sang dewi menduga bahwa di masa depan akan terjadi peristiwa kelam yang menimpa negeri Hastina.

Dewi Durgandini takut jika peperangan yang tersirat dalam mimpi itu akan menjadi kenyataan.
Dewabrata berjanji tidak akan menceritakan hal buruk ini kepada ayahnya agar tidak menimbulkan persoalan baru. Lalu, setelah bertemu dengan Dewi Durgandini' Dewabrata menemui para ksatria guna mempersiapkan latihan rutin. Di pasewakan, Prabu Sentanu duduk termenung berpangku tangan. Suasana hening terlihat saat Dewabrata menghampiri ayahnya itu.

Dewabrata bertanya apakah gerangan ?

Prabu Sentanu bilang bahwa dirinya frustasi lantaran harus memilih antara kepentingan Dewabrata sendiri atau Dewi Durgandini. Prabu Sentanu bercerita ia sudah terlanjur berjanji agar kelak jika Dewi Durgandini dikaruniai keturunan' maka tahta Hastina harus diserahkan kepada anak-anak Durgandini. Sementara, Dewabrata sebagai putra mahkota tentu tidak berhak menduduki tahta jika sudah begitu.

Dewabrata ikut prihatin, bahwa sang ayah kini dalam kebimbangan dimana ia harus memilih antara janji dan keharusan sebagai raja mewariskan tahtanya kepada putra mahkota.
Kemudian, Dewabrata mulai berikrar di depan ayahnya bahwa ia tidak akan menjadi raja dan berketurunan demi membahagiakan Dewi Durgandini. Sontak, gemuruh petir terdengar mengguncang langit. Semua orang di dunia turut mendengar kengerian pada hari itu.

Dewabrata telah bersumpah agar apa yang telah dikehendaki Dewi Durgandini bisa tercapai. Perlu diketahui bahwa Dewabrata mengatakan hal itu agar apa yang ia rasakan dalam mimpi tidak menjadi kenyataan. Sumpah Dewabrata merasa bahwa inilah cara untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah antara keturunan Sentanu dengan dirinya.

Dewabrata sudah mengatakan hal yang menggemparkan, bahkan ini menjadi sejarah baru dalam riwayat keturunan Sentanu. Prabu Sentanu sebagai raja Hastina telah mengamini keinginan Dewabrata untuk tidak mewarisi tahta dan tidak berketurunan demi mencegah terjadinya perselisihan antara dirinya dengan anak-anak Durgandini.

Lalu, beberapa tahun kemudian' Dewabrata memutuskan untuk menjadi brahmana dengan gelar Maharesi Bhisma. Ia mendirikan sebuah pertapaan yang masih berada di wilayah Hastina dengan nama Pertapaan Talkanda. Sembari menjadi brahmana, Dewabrata mengajari ilmu kepada semua orang demi mendapatkan ganjaran/pahala atas kebaikannya.

Maharesi Bhisma kini menjadi pertapa terkenal diseluruh penjuru tanah hindustan, banyak orang ingin meminta wejangan ilmu demi melewati jalan hidup.
Sampai suatu ketika, Maharesi Bhisma memutuskan untuk berguru pada sesama brahmana' namun ia berguru pada Brahmana yang lebih senior. Demi memperkaya ilmu dan kemantapan jiwa raga, Bhisma Dewabrata pergi meninggalkan pertapaan Talkanda untuk meraih banyak pengalaman sebagai pertapa.

Maharesi Bhisma akhirnya memulai perjalanan baru sebagai pengayom masyarakat, namun karena ilmu yang didapat merupakan ilmu otodidak' maka putra Prabu Sentanu tersebut memilih menimba ilmu dengan seorang Brahmana yang juga seorang dewa.

Brahmana itu bernama Maharesi Bargawa, seorang pertapa berkulit hitam dan kekar bagaikan Bathara Bayu. Konon, Maharesi Bargawa dulunya berniat ingin mencari orang yang bisa membunuhnya.

Namun, Maharesi Bargawa tidak ditakdirkan mati sebelum mendidik tiga orang manusia yang dikasihi dewata. Dan salah satu diantara ketiga manusia yang dikasihi dewata itu adalah Maharesi
Bhisma.

Resi Bhisma berguru dengan Maharesi Bargawa sambil mempelajari ilmu kanuragan yang lebih banyak. Bahkan Resi Bhisma ikut melakoni ritual-ritual keagamaan dan banyak bersedekah untuk orang miskin. Itulah yang dilakukan putra Prabu Sentanu itu sepanjang hari dan setiap waktu.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar