Gambar : Resi Bhisma
Dewabrata
yang sudah berganti nama menjadi Bhisma bertekad untuk melindungi tahta
Hastina agar tidak direbut musuh atau orang yang bukan keturunan Dewi
Durgandini.
Perjalanan kehidupan di negeri Hastina berlangsung hingga beberapa tahun lamanya. Ketika sudah beranjak besar, Astabrata mulai diajarkan ilmu kenegaraan dan kanuragan sebagai modal kuat memimpin masa depan Hastina.
Bhisma melatih Astabrata dengan sangat disiplin, sebagai calon raja baru tentu perlu banyak ilmu.
Ilmu tata negara dan ilmu keagamaan jadi bagian terpenting untuk membentuk karakter pemimpin.
Bhisma setiap waktu melaporkan perkembangan Astabrata saat digembleng sebagai muridnya, kabar tersebut membuat Prabu Sentanu bangga. Bahkan sang prabu mulai berharap penuh pada Astabrata yang kelak menjadi penguasa Hastina.
Perjalanan kehidupan di negeri Hastina berlangsung hingga beberapa tahun lamanya. Ketika sudah beranjak besar, Astabrata mulai diajarkan ilmu kenegaraan dan kanuragan sebagai modal kuat memimpin masa depan Hastina.
Bhisma melatih Astabrata dengan sangat disiplin, sebagai calon raja baru tentu perlu banyak ilmu.
Ilmu tata negara dan ilmu keagamaan jadi bagian terpenting untuk membentuk karakter pemimpin.
Bhisma setiap waktu melaporkan perkembangan Astabrata saat digembleng sebagai muridnya, kabar tersebut membuat Prabu Sentanu bangga. Bahkan sang prabu mulai berharap penuh pada Astabrata yang kelak menjadi penguasa Hastina.
Saat
Astabrata semakin berkembang dalam karirnya, Dewi Durgandini kembali
dikaruniai anak laki-laki yang jarak kelahirannya cukup jauh terpaut,
yakni 12 Tahun.
Prabu Sentanu bahagia dengan kehadiran anaknya, kali ini anak tersebut diberi nama Perbatakusuma. Kelahiran Perbatakusuma disambut baik oleh Bhisma dan Astabrata, itu artinya lengkap sudah seluruh anggota keluarga Prabu Sentanu.
Waktu berjalan semakin cepat, tibalah waktunya Prabu Sentanu turun tahta dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada Astabrata. Sedangkan Perbatakusuma diangkat sebagai penasehat, Prabu Sentanu mengumumkan pengunduran diri sebagai raja dan menyusul Bhisma ke Talkanda untuk kembali menjalani profesi lamanya sebagai pendeta.
Prabu Sentanu bahagia dengan kehadiran anaknya, kali ini anak tersebut diberi nama Perbatakusuma. Kelahiran Perbatakusuma disambut baik oleh Bhisma dan Astabrata, itu artinya lengkap sudah seluruh anggota keluarga Prabu Sentanu.
Waktu berjalan semakin cepat, tibalah waktunya Prabu Sentanu turun tahta dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada Astabrata. Sedangkan Perbatakusuma diangkat sebagai penasehat, Prabu Sentanu mengumumkan pengunduran diri sebagai raja dan menyusul Bhisma ke Talkanda untuk kembali menjalani profesi lamanya sebagai pendeta.
Pengunduran
diri Prabu Sentanu disambut baik oleh Bhisma, sebab sudah sangat lama
sang prabu bertahta setelah belasan tahun menggantikan Prabu Dipakeswara
yang merupakan raja Hastina pertama.
Bhisma kini tidak sendiri lagi, rasanya seperti ajang reuni keluarga. Dimana ayah dan anak kembali satu atap menjalani kehidupan seperti masa-masa yang dulu.
Bhisma kini tidak sendiri lagi, rasanya seperti ajang reuni keluarga. Dimana ayah dan anak kembali satu atap menjalani kehidupan seperti masa-masa yang dulu.
Dengan senyum gembira, Prabu Sentanu menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Astabrata.
Maka secara de facto bahwa Astabrata telah diangkat sebagai raja baru Hastina bergelar Prabu Citranggada. Seluruh rakyat turut menggemakan nama raja baru mereka seakan mengguncang dunia dan jagat raya. Namun, para dewa di kahyangan agar khawatir dengan pengangkatan raja baru Hastina.
Bagaimana tidak ?
Prabu Citranggada dikenal sebagai pemimpin muda yang jiwanya masih membara bagaikan api disiram minyak. Meski sakti mandraguna dan pilih tanding karena didikan Bhisma, Prabu Citranggada dikenal sangat tempramental dan ambisius. Ia dikenal sebagai diktator muda yang paling ditakuti oleh banyak manusia.
Prabu Citranggada memiliki cita-cita yang amat mustahil diwujudkan, yakni menyatukan seluruh kerajaan-keraja an menjadi satu dibawah panji kebesaran Hastina. Semua orang tiada yang berani membantah dan menentang perintahnya,
kecuali Bhisma yang setiap kali berkunjung ke Hastina selalu
memperingatkan Prabu Citranggada agar berhenti menyebar ketakutan
terhadap semua orang.
Yang ditakutkan Bhisma adalah tercorengnya nama baik Hastina dimata rakyat dan negeri-negeri lain. Namun, Prabu Citranggada tetap kukuh dengan idealisme gilanya untuk menjadi yang terkuat diantara yang berkuasa.
Maka secara de facto bahwa Astabrata telah diangkat sebagai raja baru Hastina bergelar Prabu Citranggada. Seluruh rakyat turut menggemakan nama raja baru mereka seakan mengguncang dunia dan jagat raya. Namun, para dewa di kahyangan agar khawatir dengan pengangkatan raja baru Hastina.
Bagaimana tidak ?
Prabu Citranggada dikenal sebagai pemimpin muda yang jiwanya masih membara bagaikan api disiram minyak. Meski sakti mandraguna dan pilih tanding karena didikan Bhisma, Prabu Citranggada dikenal sangat tempramental dan ambisius. Ia dikenal sebagai diktator muda yang paling ditakuti oleh banyak manusia.
Prabu Citranggada memiliki cita-cita yang amat mustahil diwujudkan, yakni menyatukan seluruh kerajaan-keraja
Yang ditakutkan Bhisma adalah tercorengnya nama baik Hastina dimata rakyat dan negeri-negeri lain. Namun, Prabu Citranggada tetap kukuh dengan idealisme gilanya untuk menjadi yang terkuat diantara yang berkuasa.
Bhisma
pulang ke Talkanda dengan hati yang teramat kecewa, ia melaporkan
tingkah laku adik tirinya itu kepada Prabu Sentanu yang sudah kembali
bergelar brahmana.
Ayahnya meyakini bahwa Prabu Citranggada masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan barunya. Bhisma juga harus sering memantaunya agar tindakan Prabu Citranggada tidak melampaui batas.
Ironi berkata lain, Prabu Citranggada dengan lantang menyuarakan pendudukan terhadap seluruh negeri yang tidak mau mengakui Hastina sebagai kerajaan adidaya. Maka pertempuran tidak dapat dihindari akibat buasnya perilaku Prabu Citranggada yang membuat kengerian dimana-mana. Orang-orang tidak berdosa dibantai tanpa sisa, harta dan hewan-hewan ternak dijarah oleh pasukan Hastina yang kebetulan menyerbu wilayah terdampak.
Ayahnya meyakini bahwa Prabu Citranggada masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan barunya. Bhisma juga harus sering memantaunya agar tindakan Prabu Citranggada tidak melampaui batas.
Ironi berkata lain, Prabu Citranggada dengan lantang menyuarakan pendudukan terhadap seluruh negeri yang tidak mau mengakui Hastina sebagai kerajaan adidaya. Maka pertempuran tidak dapat dihindari akibat buasnya perilaku Prabu Citranggada yang membuat kengerian dimana-mana. Orang-orang tidak berdosa dibantai tanpa sisa, harta dan hewan-hewan ternak dijarah oleh pasukan Hastina yang kebetulan menyerbu wilayah terdampak.
Prabu
Citranggada menunjukkan sisi gelapnya sebagai penguasa, dia banyak
melakukan tindakan yang tidak mencerminkan seorang pengayom rakyat.
Selama ia memerintah, seluruh rakyat Hastina dipaksa membayar upeti untuk kepentingan militer guna memperbanyak armada tempur yang dipakai demi menyerbu negeri-negeri lain. Bagi rakyat yang tidak mau membayar upeti, maka akan dikenai sanksi penjara dan bagi yang melawan maka akan dihukum cambuk.
Selama ia memerintah, seluruh rakyat Hastina dipaksa membayar upeti untuk kepentingan militer guna memperbanyak armada tempur yang dipakai demi menyerbu negeri-negeri lain. Bagi rakyat yang tidak mau membayar upeti, maka akan dikenai sanksi penjara dan bagi yang melawan maka akan dihukum cambuk.
Celakanya lagi, banyak negeri-negeri tetangga yang menentang pemerintahan Prabu Citranggada.
Mereka selaku mitra Hastina menyatakan rasa kecewanya terhadap pemerintahan yang baru karena dianggap terlalu berlebihan memanfaatkan kekuatan rakyat.
Mereka selaku mitra Hastina menyatakan rasa kecewanya terhadap pemerintahan yang baru karena dianggap terlalu berlebihan memanfaatkan kekuatan rakyat.
Tidak sedikit mitra-mitra Hastina yang membatalkan janji kerjasama dalam segala bidang.
Otomatis pembangunan kian terbengkalai akibat krisis pendanaan. Dana yang seharusnya dipakai untuk kemakmuran rakyat malah diselewengkan untuk membiayai peperangan.
Hastina kini mulai memiliki banyak musuh dan banyak rakyat yang tidak percaya lagi dengan kepemimpinan Prabu Citranggada.
Suatu ketika Resi Bhisma menerima banyak keluhan dari Dewi Durgandini selaku ibu suri. Dewi Durgandini merasa khawatir dengan pola kekuasaan yang diterapkan raja muda Hastina itu.
Dewi Durgandini mencoba meyakinkan Resi Bhisma agar Prabu Citranggada menghentikan semua tindakan kekerasan yang menyebabkan krisis dimana-mana. Dengan wajah pesimis, Resi Bhisma sulit mencari solusi tepat bagi keadaan Hastina yang kini dilanda pageblug akibat pemerintahan tangan besi Prabu Citranggada.
(Bersambung)
Otomatis pembangunan kian terbengkalai akibat krisis pendanaan. Dana yang seharusnya dipakai untuk kemakmuran rakyat malah diselewengkan untuk membiayai peperangan.
Hastina kini mulai memiliki banyak musuh dan banyak rakyat yang tidak percaya lagi dengan kepemimpinan Prabu Citranggada.
Suatu ketika Resi Bhisma menerima banyak keluhan dari Dewi Durgandini selaku ibu suri. Dewi Durgandini merasa khawatir dengan pola kekuasaan yang diterapkan raja muda Hastina itu.
Dewi Durgandini mencoba meyakinkan Resi Bhisma agar Prabu Citranggada menghentikan semua tindakan kekerasan yang menyebabkan krisis dimana-mana. Dengan wajah pesimis, Resi Bhisma sulit mencari solusi tepat bagi keadaan Hastina yang kini dilanda pageblug akibat pemerintahan tangan besi Prabu Citranggada.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar