Gambar : Wasi Dipayana
Tidak ada cara lain, Dewi Durgandini segera mencari seseorang yang mampu meredam keburukan perilaku Prabu Citranggada. Tanpa berpikir panjang, Dewi Durgandini mulai terpikir untuk kembali ke pertapaan Saptaarga dimana suami dan anaknya berada.
Lalu, bersama Resi Bhisma ia pergi ke Saptaarga guna menemui suaminya dan anak semata wayangnya yang dahulu pergi. Sesampainya di Saptaarga, terlihat banyaknya cantrik yang sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu dan membersihkan sampah.
Begitu melihat kedatangan Dewi Durgandini, sontak para cantrik menghaturkan sembah karena mereka tahu siapa sosok yang datang kemari. Mereka tentu sudah lama tidak menyapa Dewi Durgandini yang kala itu masih bersuamikan Begawan Palasara. Kemudian dipersilahkanla h sang dewi masuk ke dalam sambil menunggu kehadiran tuan rumah.
Dari ruang belakang muncul sesosok pertapa muda yang diduga adalah Wasi Dipayana, anak kandungnya yang lama pergi meninggalkannya . Dewi Durgandini kaget, dirinya mengira bahwa yang datang menemuinya
adalah Begawan Palasara. Sang dewi bingung, sebab sudah lama ia tidak
menemui anak satu-satunya dari pernikahan sebelumnya.
Maka pembicaraan pun dimulai antara ibu dan anak yang sudah lama tidak berjumpa sejak puluhan tahun silam.. Wasi Dipayana menghaturkan bakti kepada Dewi Durgandini, sang dewi menerimanya dengan senang hati. Dewi Durgandini menanyakan keberadaan Begawan Palasara kepada Wasi Dipayana.
Namun, Wasi Dipayana tidak bisa menjawabnya karena ada hal yang sulit diceritakan dengan logika.
Intinya Wasi Dipayana merasa bahwa ada cerita tersembunyi dibalik pertanyaan yang diuraikan oleh Dewi Durgandini.
Lalu, bersama Resi Bhisma ia pergi ke Saptaarga guna menemui suaminya dan anak semata wayangnya yang dahulu pergi. Sesampainya di Saptaarga, terlihat banyaknya cantrik yang sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu dan membersihkan sampah.
Begitu melihat kedatangan Dewi Durgandini, sontak para cantrik menghaturkan sembah karena mereka tahu siapa sosok yang datang kemari. Mereka tentu sudah lama tidak menyapa Dewi Durgandini yang kala itu masih bersuamikan Begawan Palasara. Kemudian dipersilahkanla
Dari ruang belakang muncul sesosok pertapa muda yang diduga adalah Wasi Dipayana, anak kandungnya yang lama pergi meninggalkannya
Maka pembicaraan pun dimulai antara ibu dan anak yang sudah lama tidak berjumpa sejak puluhan tahun silam.. Wasi Dipayana menghaturkan bakti kepada Dewi Durgandini, sang dewi menerimanya dengan senang hati. Dewi Durgandini menanyakan keberadaan Begawan Palasara kepada Wasi Dipayana.
Namun, Wasi Dipayana tidak bisa menjawabnya karena ada hal yang sulit diceritakan dengan logika.
Intinya Wasi Dipayana merasa bahwa ada cerita tersembunyi dibalik pertanyaan yang diuraikan oleh Dewi Durgandini.
Berat hati, Wasi Dipayana menceritakan kisah ketidakberadaan Begawan Palasara.
Menurut cerita yang tidak tersirat selama ini, Begawan Palasara sudah muksa ke Kahyangan setelah menyelesaikan sebuah kitab berisi ramalan masa depan yang bernama Jitabsara.
Konon, sebelum muksa ke Kahyangan terlebih dahulu Bathara Guru datang ke Saptaarga untuk memerintahkan Begawan Palasara menulis sebuah buku kitab yang berisi ramalan masa depan tentang keturunan Prabu Santanu dan keturunan Begawan Palasara sendiri untuk menggenapi jangka kehidupan.
Dewi Durgandini terkejut, mengapa Bathara Guru memerintahkan Begawan Palasara menulis ramalan masa depan tentang dirinya sendiri dan Prabu Santanu ?
Mengenai hal itu, Wasi Dipayana tidak tahu maksud Bathara Guru' yang jelas buku kitab yang pernah digubah oleh Begawan Palasara nantinya akan diminta kembali oleh salah satu manusia titisan dewa puluhan tahun yang akan datang.
Menurut cerita yang tidak tersirat selama ini, Begawan Palasara sudah muksa ke Kahyangan setelah menyelesaikan sebuah kitab berisi ramalan masa depan yang bernama Jitabsara.
Konon, sebelum muksa ke Kahyangan terlebih dahulu Bathara Guru datang ke Saptaarga untuk memerintahkan Begawan Palasara menulis sebuah buku kitab yang berisi ramalan masa depan tentang keturunan Prabu Santanu dan keturunan Begawan Palasara sendiri untuk menggenapi jangka kehidupan.
Dewi Durgandini terkejut, mengapa Bathara Guru memerintahkan Begawan Palasara menulis ramalan masa depan tentang dirinya sendiri dan Prabu Santanu ?
Mengenai hal itu, Wasi Dipayana tidak tahu maksud Bathara Guru' yang jelas buku kitab yang pernah digubah oleh Begawan Palasara nantinya akan diminta kembali oleh salah satu manusia titisan dewa puluhan tahun yang akan datang.
Setelah
mendengar penjelasan Wasi Dipayana, Dewi Durgandini was-was sekali
mengingat dulu ia pernah bermimpi buruk mengenai keturunannya yang kelak
akan saling bermusuhan hingga berujung perang saudara. Wasi
Dipayana mencoba tenangkan hati Dewi Durgandini bahwa itu hanyalah bunga
tidur belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan ramalan masa depan
yang terdapat dalam Jitapsara.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar