Sabtu, 19 Desember 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Sakitnya Prabu Wicitrawirya

 

 
Sepulang dari kahyangan, Pandu dan Destarastra dijemput oleh Bhisma Dewabrata.
Mereka berdua diminta untuk pulang karena keluarga sudah lama menanti.
Mereka pun pulang dengan gembira setelah tugas menumpas musuh kahyangan selesai dilakukan.
 
Cerita berganti saat Pandu dan Destarastra sudah berada di Hastina.
Prabu Wicitrawirya sangat rindu dengan Destarastra, mengingat sebagai putra mahkota ia harus berada disamping raja.
 
Destarastra terhitung seorang putra mahkota yang diharapkan akan menjadi raja.
Pengukuhan Destarastra sebagai calon raja sepertinya ada yang keberatan.
Para menteri yang menilai Destarastra menganggap putra Prabu Wicitrawirya itu tidak memenuhi syarat sebagai raja. Namun, Prabu Wicitrawirya tidak bisa mencabut keputusannya yang terlanjur mengangkat Destarastra sebagai putra mahkota.
 
Dalam suatu pertemuan, para menteri melakukan diskusi mengenai sabda raja atas status Destarastra yang dianggap tidak layak menjadi putra mahkota.
Kerajaan Hastina merupakan kerajaan yang besar, kuat dan berdaulat. Menurut mereka, mana mungkin orang cacat netra bisa menjadi raja dan sepertinya perlu dipertimbangkan lagi.
 
Prabu Wicitrawirya sadar putranya dinilai tidak pantas memenuhi kriteria sebagai calon raja.
Pengumuman diangkatnya Destarastra sebagai putra mahkota membuat rakyat terheran-heran. Sebab, Prabu Wicitrawirya telah menunjuk putra semata wayangnya menjadi penerus tahta meski tunanetra.
 
Rakyat seakan tidak mengindahkan keputusan Prabu Wicitrawirya. Rakyat malah lebih ingin adanya perubahan karena Hastina adalah negara yang kekuatan militernya paling ditakuti seantero Tanah Hindustan.
 
Prabu Wicitrawirya diambang kebimbangan, ia sampai-sampai bertemu Bhisma Dewabrata untuk mencari cara agar Destarastra bisa menjadi putra mahkota walau cacat netra.
Bhisma mengusulkan sebaiknya Destarastra ditangguhkan dulu statusnya sebagai atmajendra.
 
Mengingat rakyat merasa tidak setuju dengan keputusan Prabu Wicitrawirya mengangkat putra satu-satunya itu sebagai calon raja selanjutnya.
 
Lantas Bhisma Dewabrata segera mendatangi Saptaarga guna menemui Wasi Dipayana untuk dimintai sesuatu. Sesuatu itu adalah keputusan yang tepat, karena meski Bhisma lebih tua dibanding Wasi Dipayana tetapi secara keilmuan justru lebih baik dibanding Bhisma itu sendiri.
 
Dalam pertemuan itu Wasi Dipayana dan Pandu diajak berbicara mengenai bagaimana agar para menteri setuju atas sabda raja tentang status Destarastra.
 
Pandu terhitung sebagai calon senapati agung berpendapat bahwa Destarastra berhak memimpin negara karena sebagai saudara tertua.
Namun, bagi Wasi Dipayana' usia yang lebih tua tidak menjamin bisa meneruskan tahta kerajaan.
 
Banyak putra mahkota yang gagal menjadi raja dan justru yang menjadi raja selanjutnya adalah putra menantu. Bahkan ada juga adik kandung raja yang mampu memperoleh tahta meski tidak dianggap cocok sebagai raja. Wasi Dipayana memastikan keputusan Prabu Wicitrawirya sudah matang untuk dikukuhkan secara resmi di depan rakyat.
 
Wasi Dipayana menyarankan Bhisma untuk tetap mengawasi perkembangan di Hastina.
Walau begitu, Wasi Dipayana mewanti-wanti kalau nanti terjadi apa-apa di Hastina.
Bhisma pun siap melakukan segalanya demi menjaga tahta Hastina. 
 
Wasi Dipayana memohon agar selalu menjaga Destarastra dan Pandu karena kedua pangeran itu merupakan masa depan bagi bangsa.
 
Bhisma akan sekuat tenaga menjadi pelindung Hastina sebab ia dulunya merupakan putra mahkota Hastina namun mengalah demi membahagiakan adik-adiknya.
 
Cerita kembali ke Hastina, dimana suasana di dalam istana mulai berubah.
Suasana yang semula damai tentram kini menjadi penuh tanda tanya. Prabu Wicitrawirya yang setiap hari memikirkan nasib anak semata wayangnya, Destarastra mulai kehilangan rasa nikmatnya sebagai raja.
 
Gundah gulana makin menjerat jiwanya, ia merasa tidak mungkin mewarisi tahta kepada putranya yang terlahir tunanetra. Belum lagi Prabu Wicitrawirya harus melakukan banyak pekerjaan yang belum selesai. Dan akhirnya rasa takut pun muncul ketika ia hendak membulatkan tekadnya. Memberikan tahta kepada Destarastra sama saja menghilangkan kepercayaan terhadap rakyat.
 
Dan tidak lama Prabu Wicitrawirya pun jatuh sakit, keadaan tubuhnya ringkih dan tidak mampu lagi berbuat banyak guna menunaikan tugasnya sebagai raja. Sakitnya Prabu 
Wicitrawirya nampaknya dirahasiakan oleh dirinya sendiri, karena ia tidak mau terlihat lemah sebagai raja yang memimpin suatu negara. Meski begitu, raut wajah Prabu Wicitrawirya berubah menjadi pucat dan cara bicaranya mulai tidak selugas dahulu.
 
Jatuh sakitnya raja Hastina diketahui oleh Dewi Ambalika, saat itu memang sang permaisuri baru saja pulang dari berkunjung ke Giyantipura. Dewi Ambalika semakin sedih melihat suaminya terpuruk dalam penyakit yang makin bermunculan seiring meningkatnya stres.
 
Tidak tinggal diam, Dewi Ambalika memanggil para tabib untuk mengobati sakit sang prabu. Namun, tidak menunjukkan hasil sama sekali. Semakin lama kabar sakitnya Prabu Wicitrawirya menyeruak ke luar istana. Bhisma Dewabrata dan Wasi Dipayana menjenguk Prabu Wicitrawirya yang tergolek lemah.
 
Sakitnya Prabu Wicitrawirya nampaknya mempengaruhi pemerintahan negara, banyak pertemuan penting yang dibatalkan seiring parahnya sakit sang Prabu.
Tidak ada cara yang ampuh mengobati sakitnya raja Hastina, akhirnya Wasi Dipayana dan 
Bhisma Dewabrata turun tangan ikut mengobati Prabu Wicitrawirya.
 
Sudah banyak tenaga yang dikeluarkan namun tidak sebanding hasilnya. Keprihatinan makin mempertebal suasana, bahkan Begawan Sentanu yang pernah menjadi raja pun ikut mengobati sakitnya putra kandungnya itu.
Namun apalah daya, sia-sia usaha dan upaya mereka dalam menyembuhkan sakitnya sang Prabu tidak membuahkan hasil.
 
Tiba waktunya, Prabu Wicitrawirya mengucapkan sesuatu yang merupakan pertanda bahwa ajalnya sudah menjemput. Prabu Wicitrawirya akhirnya meminta kepada Bhisma Dewabrata untuk segera melantik Destarastra sebagai putra mahkota.
 
Namun, pemerintahannya harus diwakili oleh seseorang yang berhak menjadi raja. Mengingat banyak sekali tugas kenegaraan yang tertunda dan belum dituntaskan.
Begawan Sentanu lantas menanyakan siapa yang akan mewakili Prabu Wicitrawirya ?
 
Prabu Wicitrawirya secara lugas menjawab bahwa Wasi Dipayana lah yang berhak menjadi raja sembari menunggu dewasanya Destarastra. Keputusan yang berat namun tepat, mengingat tidak ada orang lain yang hebat selain Wasi Dipayana.
 
Begawan Sentanu sendiri sudah lanjut usia meski masih sanggup menyatakan diri kembali ke singgasana. Tetapi, Begawan Sentanu memang bukan raja yang de facto namun hanya pengganti saat Prabu Dipakeswara' ayah Wasi Dipayana mengundurkan diri.
Itu artinya tahta kerajaan harus kembali ke tangan putra Prabu Dipakeswara yang selama ini dipinjamkan.
 
(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar