Sabtu, 19 Desember 2020

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Lahirnya Pandu

 
 
Destarastra akhirnya kembali ke Hastina setelah menjalani pembinaan sebagai siswa dari Wasi Dipayana. Maka hari penobatan putra mahkota pun dimulai, maka secara resmi Destarastra menjadi pewaris tahta. 
 
Prabu Wicitrawirya merasa diangkatnya Destarastra sebagai putra mahkota merupakan sebuah keharusan. Sebab, Prabu Wicitrawirya hanya selaku pejabat sementara cuma bisa menggantikan tanpa mewariskan tahta kepada keturunannya.
 
Meski keadaan Destarastra memprihatinkan, keharusan sebagai putra mahkota adalah selalu mendampingi raja dalam setiap pertemuan walau pun yang menjadi raja adalah pamannya sendiri.
 
Tidak lama setelah penobatan Destarastra sebagai putra mahkota, Dewi Ambika dikabarkan mengandung anak dari perkawinannya dengan Wasi Dipayana.
 
Destarastra merasa dirinya kelak akan menjadi seorang kakak, karena ini merupakan suatu keuntungan karena jika putra mahkota memiliki seorang adik maka sang adik harus menemani kakaknya yang menjadi raja kelak.
 
Kehamilan Dewi Ambika santer terdengar hingga ke pertapaan Talkanda, Begawan Sentanu dan Bhisma Dewabrata ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi.
 
Begawan Sentanu mengatakan bahwa kelak putra Wasi Dipayana itu akan menjadi ksatria yang kuat dan gagah berani. 
 
Ditambah nantinya ia akan menjadi panglima perang lantaran kakak sulungnya adalah putra mahkota. Itu artinya semakin lengkap anggota keluarga kerajaan Hastina dengan kehamilan Dewi Ambika.
 
Saat yang dinantikan pun tiba, Dewi Ambika kini mulai merasakan kontraksi dan siap menjalani persalinan. Akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki yang berwajah cerah namun agak pucat pasi, bayi itu merupakan putra kandung Wasi Dipayana sekaligus adik tiri Destarastra.
 
Wasi Dipayana menamai anaknya itu Pandu Dewanata. Rupanya kelahiran Pandu Dewanata menjadi pertanda yang baik karena ditakdirkan menjadi ksatria hebat pilih tanding.
Acara perayaan pun digelar, hadir pula Begawan Sentanu dan Bhisma Dewabrata yang memimpin prosesi perayaan.
 
Perayaan kelahiran Pandu Dewanata merupakan bagian dari tradisi yang mengharuskan orang tua memperkenalkan dunia kepada buah hatinya.
Begawan Sentanu yang bukan kakek kandung Pandu Dewanata ikut mendoakan putra Wasi Dipayana itu.
 
Bhisma Dewabrata sendiri juga ikut berdoa karena kelak nantinya Pandu akan jadi siswa yang notabene keponakannya sendiri. Kisah berlanjut beberapa tahun kemudian saat Destarastra dan Pandu Dewanata beranjak remaja, kemana pun Destarastra pergi Pandu selalu menuntunnya berjalan.
 
Sudah bukan rahasia lagi bahwa adik harus berbakti pada kakaknya yang tunanetra.
Waktu itu Pandu dan Destarastra sedang menjalani masa pendidikan, ini bukan pertama kalinya Destarastra menjalani hal ini.
 
Karena pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan mental dengan bertahan hidup di tengah hutan. Sudah jelas karena jauh dari istana yang mewah, kedua pangeran ini beradaptasi dengan suasana hutan yang rimba.
 
Destarastra juga saat itu sedang menyempurnakan Aji Lebur Sakethi/Aji Grayang pemberian kakeknya, Begawan Sentanu. Begawan Sentanu memerintahkan Pandu untuk mengawasi Destarastra agar tidak sampai menggunakan jurus berbahaya itu lantaran belum mahir mengendalikan daya serap kekuatannya yang menguras tenaga.
 
Pandu meski sebagai adik, ilmu kanuragannya cukup tinggi dan mumpuni. Ia adalah orang yang mampu menjadi mentor bagi Destarastra. Suatu hari Pandu dan Destarastra kedatangan sosok berwujud dewa, ialah Bathara Narada.
 
Bathara Narada datang menemui keduanya untuk dimintai bantuan karena kahyangan sedang diserbu Prabu Nagapaya. Bathara Narada menjelaskan maksud Prabu Nagapaya ke kahyangan adalah melamar bidadari namun ditolak, maka terjadilah huru-hara di kahyangan. Digambarkan, Prabu Nagapaya sangat sakti dan pilih tanding karena dulunya merupakan siluman ular naga.
 
Bathara Narada mengajak Pandu dan Destarastra untuk mengalahkan Prabu Nagapaya yang lamarannya ditolak. Akhirnya mereka berdua berangkat ke Kahyangan Suralaya untuk menghadapi Prabu Nagapaya.
 
Saat itu Kahyangan sudah dikuasai oleh pasukan ular naga yang jumlahnya tidak sedikit.
Prabu Nagapaya mengalahkan para dewa dan semua prajurit kahyangan hanya dengan semburan apinya.
 
Kesaktian Prabu Nagapaya tidak bisa ditandingi, saat itu Pandu muncul sebagai jagoan para dewa lantas menantang raja berwujud raksasa namun bersisik seperti ular itu.
Prabu Nagapaya luar biasa saktinya, Pandu berkali-kali melepaskan anak panah dengan busurnya tetap saja gagal melukai lawannya.
 
Bahkan Prabu Nagapaya berhasil menghardik Pandu hingga terjungkal jauh. Pandu tidak berdaya menghadapi Prabu Nagapaya yang kebal senjata.
Bathara Narada hanya bisa menyaksikan betapa lelahnya Pandu bertarung melawan Prabu Nagapaya.
 
Sampai akhirnya Bathara Narada meminta Destarastra maju bertarung melawan Prabu Nagapaya. Ternyata dengan mudahnya raja berwujud kepala ular naga itu melilit Destarastra sampai tidak berdaya.
 
Pandu tidak habis pikir kakaknya maju bertarung meski ia seorang tunanetra. Pandu mencoba membantu, tetapi ia sudah kelelahan dan kehabisan akal untuk mencari titik lemah Prabu Nagapaya.
 
Destarastra yang sendari tadi berada dalam cengkraman Prabu Nagapaya segera mengeluarkan Aji Lebur Sakethi untuk meloloskan diri.
Begitu jurus itu dikeluarkan, Destarastra mampu membuat sisik Prabu Nagapaya melepuh akibat daya Aji Lebur Sakethi.
 
Prabu Nagapaya kepanasan karena sisiknya melepuh tiba-tiba saat Destarastra memamerkan jurus itu. Destarastra bebas dari cengkeraman Prabu Nagapaya dan mendekati Pandu. Setelah raja berkepala ular naga itu merasa kepanasan akibat daya Aji Lebur Sakethi.
Seketika Pandu melepas Ardhadedali dan berhasil memenggal kepala Prabu Nagapaya. Raja raksasa berkepala ular naga itu tewas terbelah antara tubuh dan kepalanya.
 
Pandu berhasil membunuh Prabu Nagapaya setelah tubuh raja ular naga itu terbelah jadi dua. Kahyangan Suralaya berhasil diselamatkan, para dewa bahagia turut merayakan kemenangan Pandu dalam pertempuran.
 
Sedangkan sisa-sisa pasukan musuh yang semula mengepung kahyangan segera tinggal gelanggang colong keplayu. Bathara Guru dan Bathara Narada berterima kasih atas keberhasilan Pandu yang sudah membereskan kelilip para dewa.
 
Sebagai hadiah atas keberhasilannya, Pandu diberi pusaka kadewatan berupa minyak oles yang bernama Minyak Tala. Pusaka kadewatan berwujud Minyak Tala berkhasiat menyembuhkan luka dari yang biasa sampai yang parah.
 
Bahkan barang siapa yang mengoles minyak bertuah itu akan kebal terhadap senjata apa pun. Pandu berterima kasih atas pemberian Bathara Guru dan Bathara Narada.
Kemudian Pandu dan Destarastra kembali ke bumi melanjutkan kewajibannya sebagai ksatria. 

(Bersambung)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar