Gambar : Raden Durgandana, Dari Wirata
Keesokan harinya, Durgandana menemui Begawan Palasara untuk membahas permasalahannya .
Durgandana mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik dengan Sudesna, Namun ia tahu bahwa Sudesna terhitung masih keponakannya sendiri. Durgandana juga membeberkan bahwa Sudesna sejatinya bukan anak kandung Begawan Palasara dan hanya sebagai anak angkat yang dipungut setelah lahir didalam sungai.
Begawan Palasara menanyakan maksud Durgandana tentang apa yang dibicarakannya tadi.
Dengan agak kikuk, Durgandana mengakui ketertarikannya dengan Sudesna, Begawan Palasara pun menjawab dengan santai bahwa Sudesna adalah calon istri Durgandana.
Durgandana kaget, mengapa Sudesna akan menjadi calon istrinya ?
Sedangkan Sudesna terhitung keponakan Durgandana, walaupun Sudesna hanya anak angkat Begawan Palasara.
Begawan Palasara meramalkan bahwa jika Durgandana menikahi Sudesna, maka umurnya akan panjang sekali. Dan Begawan Palasara meramalkan bahwa kelak anak-anaknya yang terlahir dari rahim Sudesna akan menjadi saksi sekaligus pelaku dalam pertempuran Bharatayudha di Kurukasetra.
Setelah terungkap jawaban itu, Durgandana bertekad menikahi Sudesna.
Akhirnya Sudesna pun dinikahi oleh Durgandana yang upacaranya berlangsung di Hastina.
Selama beberapa minggu Durgandana di Hastina, akhirnya Durgandana mulai rindu dengan negeri asalnya yakni Kerajaan Wirata. Durgandana pun mohon pamit kepada seluruh keluarga di Hastina untuk memboyong Sudesna ke Wirata. Begawan Palasara pun mengizinkan Durgandana memboyong Sudesna ke Wirata setelah dinikahkan.
Dinikahkannya Durgandana dengan Sudesna membuat Begawan Palasara harus merelakan salah satu anaknya untuk menjadi anggota keluarga lain.
Durgandana mengungkapkan bahwa ia sangat tertarik dengan Sudesna, Namun ia tahu bahwa Sudesna terhitung masih keponakannya sendiri. Durgandana juga membeberkan bahwa Sudesna sejatinya bukan anak kandung Begawan Palasara dan hanya sebagai anak angkat yang dipungut setelah lahir didalam sungai.
Begawan Palasara menanyakan maksud Durgandana tentang apa yang dibicarakannya tadi.
Dengan agak kikuk, Durgandana mengakui ketertarikannya
Durgandana kaget, mengapa Sudesna akan menjadi calon istrinya ?
Sedangkan Sudesna terhitung keponakan Durgandana, walaupun Sudesna hanya anak angkat Begawan Palasara.
Begawan Palasara meramalkan bahwa jika Durgandana menikahi Sudesna, maka umurnya akan panjang sekali. Dan Begawan Palasara meramalkan bahwa kelak anak-anaknya yang terlahir dari rahim Sudesna akan menjadi saksi sekaligus pelaku dalam pertempuran Bharatayudha di Kurukasetra.
Setelah terungkap jawaban itu, Durgandana bertekad menikahi Sudesna.
Akhirnya Sudesna pun dinikahi oleh Durgandana yang upacaranya berlangsung di Hastina.
Selama beberapa minggu Durgandana di Hastina, akhirnya Durgandana mulai rindu dengan negeri asalnya yakni Kerajaan Wirata. Durgandana pun mohon pamit kepada seluruh keluarga di Hastina untuk memboyong Sudesna ke Wirata. Begawan Palasara pun mengizinkan Durgandana memboyong Sudesna ke Wirata setelah dinikahkan.
Dinikahkannya Durgandana dengan Sudesna membuat Begawan Palasara harus merelakan salah satu anaknya untuk menjadi anggota keluarga lain.
Namun,
kepergian Sudesna tidak sendiri' ia didampingi oleh Rupakenca,
Kencakarupa, Rajamala, Gandawana dan Setatama. Mereka tetap setia
mendampingi Sudesna yang merupakan kakak tertua dari anak-anak Begawan
Palasara.
Beberapa tahun kemudian, Begawan Palasara mulai rindu dengan anak-anaknya yang kini tinggal di Wirata setelah Durgandana mewarisi tahta.
Dan rasa ingin memiliki momongan mulai terlihat saat hampir setiap hari Begawan Palasara sering menulis prosa dan puisi yang menceritakan rasa rindu mendalam seorang ayah pada anaknya.
Dewi Durgandini begitu mengerti apa yang dirasakan Begawan Palasara. Lalu, Dewi Durgandini menghampiri sang Begawan dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
Suasana yang penuh hening berubah menjadi romantis saat Dewi Durgandini mengajak sang Begawan untuk menikmati alam asmara.
Namun, Begawan Palasara tak mau melakukan hal itu di keraton karena kondisi saat ini Hastina masih merupakan negara baru yang belum ada rajanya.
Akhirnya Dewi Durgandini meminta agar apa yang dilakukannya nanti bisa terwujud, yakni memiliki anak yang lahir dari rahim dan bukan hasil kejadian ajaib seperti yang dulu.
Lalu, Begawan Palasara bergegas menyiapkan kereta kencana untuk melakukan perjalanan jauh.
Dewi Durgandini pun mulai mengerti rencana tersebut. Lalu, Begawan Palasara menitipkan Kerajaan Hastina untuk sementara waktu kepada beberapa pejabat kerajaan.
Kereta kencana pun berangkat dan melaju melintasi kotaraja. Begawan Palasara menjadi kusirnya, Dewi Durgandini menjadi penumpangnya.
Mereka mencari suasana sepi dan jauh dari keramaian demi mewujudkan keinginannya itu.
Beberapa tahun kemudian, Begawan Palasara mulai rindu dengan anak-anaknya yang kini tinggal di Wirata setelah Durgandana mewarisi tahta.
Dan rasa ingin memiliki momongan mulai terlihat saat hampir setiap hari Begawan Palasara sering menulis prosa dan puisi yang menceritakan rasa rindu mendalam seorang ayah pada anaknya.
Dewi Durgandini begitu mengerti apa yang dirasakan Begawan Palasara. Lalu, Dewi Durgandini menghampiri sang Begawan dengan memeluk tubuhnya dari belakang.
Suasana yang penuh hening berubah menjadi romantis saat Dewi Durgandini mengajak sang Begawan untuk menikmati alam asmara.
Namun, Begawan Palasara tak mau melakukan hal itu di keraton karena kondisi saat ini Hastina masih merupakan negara baru yang belum ada rajanya.
Akhirnya Dewi Durgandini meminta agar apa yang dilakukannya nanti bisa terwujud, yakni memiliki anak yang lahir dari rahim dan bukan hasil kejadian ajaib seperti yang dulu.
Lalu, Begawan Palasara bergegas menyiapkan kereta kencana untuk melakukan perjalanan jauh.
Dewi Durgandini pun mulai mengerti rencana tersebut. Lalu, Begawan Palasara menitipkan Kerajaan Hastina untuk sementara waktu kepada beberapa pejabat kerajaan.
Kereta kencana pun berangkat dan melaju melintasi kotaraja. Begawan Palasara menjadi kusirnya, Dewi Durgandini menjadi penumpangnya.
Mereka mencari suasana sepi dan jauh dari keramaian demi mewujudkan keinginannya itu.
(Selesai)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar