Kamis, 07 Februari 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Palasara Membangun Negara

Gambar : Dewi Durgandini, Istri Begawan Palasara

Cerita berlanjut, Begawan Palasara dan Durgandini berniat melakukan bulan madu setelah beberapa minggu yang lalu telah dikukuhkan sebagai suami istri. 
Begawan Palasara dan Durgandini berpamitan kepada Ki Dasabala, mereka akan pergi menikmati saat-saat bersama dengan aura asmara yang menggelora.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah dan berjalan menelusuri hutan lebat dan jurang yang terjal, hingga pada akhirnya mereka sampai di tepi sungai yang dahulu merupakan tempat pertama kali mereka bertemu'

Sungai itu merupakan sungai suci yang tidak sembarangan orang bisa menyeberanginya' ketika Begawan Palasara hendak menyeberang' dari dasar sungai muncul seekor naga besar yang bermahkotakan raja dan seekor kera berbulu biru.
Naga besar itu turut muncul bersama beberapa orang manusia yang masih telanjang bulat' keadaan ini membuat Durgandini terkejut dan bertanya kepada semua yang muncul dari dasar sungai.

Rupanya mereka adalah jelmaan dari penyakit yang disembuhkan Begawan Palasara tempo hari, tak disangka mereka berubah wujud menjadi manusia seutuhnya.
Akhirnya Begawan Palasara mengangkat mereka sebagai anak, satu-satunya wanita di antara mereka diberi nama Sudesna.
Sepasang laki-laki kembar disamping Sudesna diberi nama Kencakarupa dan Rupakenca, lalu sepasang laki-laki yang berwujud seram seperti raksasa diberi nama Rajamala dan Gandawana'
Sedangkan Seekor Naga bermahkotakan raja itu diberi nama Watangaputung dan seekor kera berbulu biru diberi nama Tunggulwulung.

Sudesna, Rupakenca, Kencakarupa, Rajamala, Gandawana, Setatama, Tunggul Wulung dan Watangaputung adalah anak-anak Begawan Palasara yang merupakan jelmaan Penyakit Bau Amis yang tercipta atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Walaupun begitu, mereka di takdirkan menjadi manusia seutuhnya. Kecuali Tunggul Wulung yang berwujud Kera dan Watangaputung yang berwujud Naga.
Perjalanan Begawan Palasara dan Durgandini berlanjut ke sebuah tempat yang diyakini sebagai Hutan Gajahoya.
Konon kabarnya, hutan tersebut merupakan bekas istana.

Hutan lebat itu kelihatannya memiliki daya magis yang sangat kuat, ketika Begawan Palasara hendak masuk ke dalam sana' aura gaibnya menimbulkan tembok tanpa wujud yang membuat siapapun tak bisa masuk.
Durgandini bingung, mengapa baru kali ini ada hutan yang tak bisa dimasuki.
Menyadari hal ini' maka agar bisa masuk ke sana, Begawan Palasara melakukan semedi pada saat itu juga.
Pengaruh semedi yang dilakukan Begawan Palasara membuat seisi hutan itu muncul dari sarangnya.
Rupanya yang muncul tidak hanya para binatang penghuni hutan, namun ada para denawa dan para jin atau mahluk halus sejenisnya ikut keluar akibat pengaruh semedi sang Begawan.

Sayangnya kehadiran mereka sangat tidak bersahabat, rupanya mereka terganggu karena ada yang mencoba masuk ke dalam hutan itu.
Akhirnya Begawan Palasara terpaksa bertarung melawan para penghuni hutan yang kebanyakan bangsa hewan dan bangsa denawa haus darah.
Pertarungan pun tak terelakkan antara mereka semua, banyak yang menyerang secara bersama-sama dan ada yang menyerang sendiri-sendiri tergantung jenis mereka.
Begawan Palasara berhadapan dengan para denawa yang jumlahnya puluhan, Mereka mengepungnya dan menyerang secara membabi buta.
Namun, berkat kesigapan sang begawan' semua denawa yang akan menyerangnya berhasil dikalahkan dengan mudah.
Kemudian, Begawan Palasara mengeluarkan gandewa saktinya dan segera melepas anak panah sakti yang mampu berubah menjadi ribuan anak panah.
Hasilnya mereka semua tewas terkena panah.
Sementara sisanya lari tunggang-langgang ketakutan setelah melihat rekan sesama denawa mati terbunuh.
Setelah semua kaum denawa pergi dari tempat kejadian, Begawan Palasara akhirnya berhasil masuk ke dalam hutan itu bersama Durgandini yang diiringi anak-anaknya.
Ketika sampai di depan pohon besar, mereka beristirahat sambil mengisi tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Lantas Begawan Palasara melakukan semedi.

Semedi yang dilakukan Begawan Palasara membuat kawah candradimuka mendidih dan hampir luber kemana-mana.
Para Dewa takut akan kejadian mengkhawatirkan tersebut, mereka mulai melakukan pertemuan di Kahyangan Jonggirisaloka.
Mereka sedang membicarakan semedi yang dilakukan Begawan Palasara, dipimpin langsung oleh Bathara Guru sidang diadakan untuk menentukan keputusan mengenai apa yang dilakukan Begawan Palasara.

Bathara Guru dengan keputusan bulat akan mengabulkan keinginan Begawan Palasara dengan suatu keajaiban.
Keajaiban itu pun akhirnya terjadi, hutan dimana sang Begawan berpijak untuk bertapa berubah menjadi sebuah kerajaan yang keratonnya sangat megah.
Dilihat bentuk arca penjaga keratonnya terlihat seperti bentuk kepala gajah yang besar. Keraton itu bernama Keraton Gajahoya yang dulu didiami oleh Prabu Gajendramuka.
Keraton Gajahoya didirikan sejak zaman sebelum era Lokapala dan Mahespati.
Prabu Gajendramuka berkuasa selama 1000 Tahun lamanya, suatu hari Prabu Gajendramuka berniat ingin melamar Dewi Indrandi untuk dijadikan permaisuri.
Sang Prabu datang membawa syarat untuk melamar ke Kahyangan, yaitu berupa gading gajah emas yang merupakan gading gajah milik gajah penghuni hutan pegunungan himalaya.
Sayang, lamaran Prabu Gajendramuka ditolak Para Dewa.

Prabu Gajendramuka marah besar karena lamarannya ditolak, ia beserta wadyabala mengobrak-abrik Kahyangan Jonggirisaloka,
Para Dewa kewalahan menghadapi mereka, ketika Kahyangan Jonggirisaloka diduduki Prabu Gajendramuka beserta Wadyabala, Para Dewa mengungsi ke Bumi untuk mencari perlindungan dan bantuan.
Ketika Para Dewa sedang mencari tempat berlindung, mereka bertemu dengan seorang Ksatria yang sedang bertapa.

Ksatria itu adalah Raden Gotama putra Prabu Heriya raja negara Mahespati.
Raden Gotama diminta oleh Para Dewa untuk mengusir Prabu Gajendramuka yang sedang menduduki Kahyangan.
Raden Gotama menyanggupi permintaan Para Dewa, saat berada di Kahyangan Resi Gotama bertatap muka dengan Prabu Gajendramuka dan terjadilah pertarungan sengit yang memakan waktu hingga 7 Hari 7 Malam.

Raden Gotama yang tidak tahu cara mengalahkan Prabu Gajendramuka segera berfikir mencari kelemahan lawan tandingnya itu.
Rupanya Raden Gotama tahu dimana letak kelemahan Prabu Gajendramuka, ternyata ada pada gadingnya.
Lalu dengan menggunakan Panah Berantai, Raden Gotama berhasil melumpuhkan Prabu Gajendramuka.
Setelah terlilit rantai, gading Prabu Gajendramuka dipatahkan dan tewaslah raja berkepala gajah itu.

Tewasnya Prabu Gajendramuka menyebabkan perubahan pada negeri yang dipimpinnya.
Rupanya takdir telah menggariskan bahwa sampai disinilah keangkaramurkaan raja berkepala gajah tersebut.
Seluruh negeri dan keratonnya berubah menjadi hutan belantara sehingga hutan itu nantinya akan kembali dibuka setelah sekian lama tak terjamah.

Hutan itu nantinya akan kembali menjadi sebuah kerajaan, jika ada yang berani memasukinya dan melakukan semedi disana.
Dan ternyata hutan itu telah kembali menjadi kerajaan setelah ratusan tahun ditutupi pepohonan dan semak belukar.
Kerajaan yang dulunya hutan itu berubah menjadi sebuah kerajaan besar yang bernama Hastinapura, dengan raja barunya yang bernama Prabu Dipakeswara.

Hutan yang lebat dan menyeramkan itu berubah menjadi sebuah kerajaan yang besar dan megah.
Kerajaan itu bernama Hastina, setelah kembali menjadi sebuah kota seusai kutukan selama ribuan tahun' negeri peninggalan zaman kuno itu dipimpin oleh Resi Palasara dengan gelar Prabu Dipakeswara.

Durgandini menjadi permaisuri sekaligus ratu yang menempati Taman Kadilengleng.
Sudesna menjadi putri mahkota pewaris tahta, Rupakenca dan Kencakarupa menjadi sepasang patih, sedangkan Rajamala dan Gandawana beserta Setatama menjadi senopati.
Sisanya Tunggulwulung dan Watangaputung menjadi punggawa kerajaan.

(Selesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar