Kamis, 07 Februari 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Durgandana Menemukan Istana

Gambar : Raden Durgandana, Adik Dewi Durgandini

Negeri Hastina yang telah lama hilang kini kembali menemukan kejayaan seperti dahulu. Bahkan sangking moncernya negeri baru tersebut' membuat negeri seberang hendak menilik informasi yang ada mengenai negeri Hastina.
Kehadiran negeri Hastina sebagai kerajaan baru namun makmur membuat telinga Prabu Basuparicara ingin mengunjungi negeri itu.
Sang Prabu segera memerintahkan Durgandana untuk memimpin rombongan menuju Hastina.

Durgandana beserta para prajurit Wirata segera berangkat mencari negeri yang katanya masih baru itu.
Melewati hutan, bukit, sungai dan perkampungan penduduk' Durgandana menanyakan keberadaan kerajaan yang konon merupakan kerajaan yang hilang setelah puluhan ribu tahun.
Namun, para penduduk tidak tahu dimana letak kerajaan yang hilang itu.
Sampai suatu hari Durgandana sampai di perbatasan wilayah Wirata, karena hari sudah agak gelap maka ia beserta para prajurit beristirahat disana.

Ketika sedang istirahat, dari jauh ada cahaya berkilauan terlihat bagaikan aurora di atas langit.
Kontan, Durgandana yang baru saja tertidur seperti merasa silau kedua matanya.
Ia heran, mengapa ada aurora di atas langit malam-malam begini ?
Padahal menurutnya, aurora biasanya hanya muncul setiap musim dingin saja' tapi baru kali ini ia melihat aurora muncul pada malam hari di musim panas.

Namun, karena sudah mengantuk akibat kelelahan' Durgandana beserta prajurit-prajuritnya memutuskan untuk beristirahat sembari melihat indahnya cahaya aurora itu.
Malam semakin pekat, Durgandana terhanyut dalam tidurnya.
Ketika sedang nyenyak tidurnya, ia malah bermimpi bertemu dengan sesosok mahluk suci yang bernama Bhatara Wisnu.
Rupanya dalam mimpi itu Bhatara Wisnu memberitahukan arti dari cahaya aurora yang dilihat Durgandana.
Ternyata cahaya aurora itu merupakan negeri yang baru dibangun tersebut.

Dan ketika mimpi itu berakhir, hari sudah mulai pagi dan udara dingin makin menipis karena terkena sinar matahari.
Durgandana beserta semua prajurit melanjutkan perjalanan mencari dimana kerajaan itu.
Dan ketika memasuki daerah yang agak ramai, Durgandana dikejutkan dengan megahnya sebuah istana didepan matanya.
Ia terkagum-kagum dengan istana itu, rupanya ia baru tahu bahwa aurora yang dilihatnya semalam merupakan pancaran cahaya dari istana tersebut.

Kemegahan istana yang dilihat Durgandana semakin meyakinkannya bahwa ia telah berhasil mencari sesuatu yang diinginkannya.
Lantas ia segera masuk ke dalam sana dan melihat-lihat seisi istana yang terlihat tidak biasa.
Temboknya tinggi dan tebal berlapiskan emas, Guci dan perabotannya mengkilap bagai diasah, langit-langitnya terlihat sangat bagus dari bawah dan arca-arca nya terukir dengan sangat bernilai seni tinggi.
Durgandana mengira ini bukan istana yang ditinggali seorang raja, melainkan seorang dewa yang sengaja membangun istana megah bagaikan kahyangan di bumi.

Durgandana yang sedang memandang keindahan istana tersebut tidak waspada sama sekali.
Tiba-tiba dari belakang ia diteriaki oleh putra-putra Begawan Palasara yang kebetulan sedang memasuki ruangan.
Rupanya yang mempergoki Durgandana adalah Rupakenca, Kencakarupa dan Rajamala.
Mereka bertiga mengira bahwa Durgandana adalah seorang pencuri yang ingin menggondol barang-barang berharga di istana.

Durgandana menyangkal dia hendak mencuri, dia menjelaskan bahwa dirinya tak sengaja menemukan istana yang megah dan berkilauan cahayanya bagaikan aurora di musim dingin.
Namun, karena tak percaya begitu saja dengan alasan yang diucapkan Durgandana' maka terjadilah pertarungan sengit antara dirinya dengan Rupakenca, Kencakarupa dan Rajamala.
Pertarungan tersebut mengundang keributan yang menyebabkan Begawan Palasara segera menuju sumber keributan itu.

Ketika Begawan Palasara sudah di sumber keributan itu, Durgandana kaget melihat satu orang lagi yang datang menghampirinya.
Begawan Palasara segera melerai mereka semua dan meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Rupakenca berkata bahwa orang itu masuk tanpa izin dan diduga hendak mencuri di istana.
Kencakarupa dan Rajamala berkata dengan nada serupa, dan Begawan Palasara pun menanyakan apa maksud dan tujuan orang asing itu masuk ke dalam istana.

Lalu, tiba-tiba Durgandini yang turut di belakang Begawan Palasara begitu kaget melihat sesosok lelaki yang tidak asing baginya.
Lalu Durgandini menjelaskan siapa lelaki tersebut kepada putra-putranya bahwa sejatinya orang itu adalah paman mereka sendiri.
Dan Rupakenca, Kencakarupa juga Rajamala tanpa pikir panjang segera meminta maaf atas ketidaktahuan mereka terhadap Durgandana.

Durgandana menjelaskan bahwa ia beserta prajurit pendampingnya tersesat setelah melakoni perjalanan cukup lama dari Wirata.
Durgandini pun tahu apa tujuan adiknya itu, ia menjelaskan kepada suami dan anak-anaknya bahwa Durgandana ingin mencari dimana sang Durgandini berada.
Akhirnya semua permasalahan bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Perbincangan hangat berlanjut saat Durgandana dipersilahkan masuk ke dalam istana sambil dijamu hidangan lezat yang disajikan oleh para pelayan istana.

Seusai makan bersama, Durgandana dipersilahkan duduk di ruang perjamuan tamu untuk memberitahu tujuan sebenarnya.
Durgandana menjelaskan bahwa ia ingin mencari keberadaan Durgandini yang menghilang secara misterius.

Begawan Palasara menjelaskan bahwa dirinyalah yang menemukan Durgandini di tepi sungai.
Durgandana berterima kasih kepada Begawan Palasara yang berhasil menemukan Durgandini.
Durgandana meminta Begawan Palasara dan Durgandini untuk menemui raja Wirata.
Tetapi sang Begawan menolak karena menurut ramalannya, sang raja akan meninggal dunia dalam waktu dekat.

Durgandana kaget, mengapa Begawan Palasara berkata demikian ?
Hal dikarenakan Durgandana telah mendapat suksesi untuk menjadi raja Wirata selanjutnya.
Dan sebagai hadiah untuk Durgandana, Begawan Palasara memberinya sebuah keris pusaka untuk dipakai saat dilantik menjadi raja.

Durgandana berterima kasih atas keris pusaka pemberian Begawan Palasara, kemudian Durgandana diminta untuk istirahat di Hastina selama beberapa hari.
Durgandana pun beristirahat disana, selama beristirahat di sana ia menikmati pemandangan indah yang luar biasa.

Sampai-sampai ia merasakan sebuah hasrat untuk pulang ke Wirata, dari jauh Sudesna melihat Durgandana yang sedang merasakan galau.
Sudesna segera mendekati Durgandana untuk menghibur rasa galaunya, rupanya Durgandana mulai terpikat dengan kecantikan Sudesna.

Tapi, ia tahu bahwa Sudesna adalah keponakannya sendiri.
Lalu Sudesna berkata ia sebenarnya bukan anak kandung Begawan Palasara, namun hanya sebagai anak angkat yang dipungut dari dalam sungai.
Alangkah leganya hati Durgandana, bahwasanya Sudesna bukan anak kandung Begawan Palasara.

Cerita pun berganti di malam hari, Durgandana mulai sulit tidur sejak bertemu dengan Sudesna.
Ia merasa ada sebuah keinginan untuk memboyong Sudesna untuk dijadikan istri. Namun, menurut Durgandana sendiri apakah bisa seorang paman menikahi keponakannya sendiri.

(Selesai)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar