Kamis, 07 Februari 2019

Kisah Leluhur Pandawa Lima : Palasara & Durgandini

Gambar : Begawan Palasara dari Pertapaan Saptaarga

Dahulu kala ada seorang pertapa dari Pertapaan Saptaarga, ia adalah Begawan Palasara.
Begawan Palasara adalah anak dari seorang pertapa bernama Begawan Sakri dengan seorang putri bernama Dewi Sati.
Suatu ketika Begawan Palasara sedang bertapa di bawah pohon beringin, karena sangat khusyuk tapa bratanya hingga suatu ketika keteguhannya diuji.
Datanglah sepasang burung kecil hinggap di atas kepala Begawan Palasara. Sepasang burung itu merupakan jelmaan dewa yang sedang mencoba mengganggu jalannya tapa brata.
Sangking sibuknya Begawan Palasara bertapa, sepasang burung kecil itu terbang kesana kemari mencari dedaunan untuk membuat sarang.
Setelah membuat sarang, kedua burung itu berhubungan badan hingga kedua burung tadi berhasil menghasilkan telur.

Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 3 butir, tak lama kemudian telur yang pertama menetas' dilanjut telur yang kedua pun menetas.
Seusai telur pertama dan telur kedua menetas, sepasang burung yang menghasilkan 2 telur tadi mengajak 2 ekor bayi burung yang menetas tadi pergi meninggalkan telur ketiga yang belum menetas.
Kini tinggal telur yang ketiga tertinggal diatas sarang, lalu menetaslah telur ketiga tersebut.
Kemudian terdengar suara bayi burung yang baru menetas tadi, akan tetapi beberapa ekor burung yang tadi diatas sarang itu sudah pergi entah kemana.

Bayi burung yang baru saja menetas memanggil-manggil dengan suara yang keras dan berisik, suara bayi burung itu membuat telinga Begawan Palasara terganggu sehingga kedua matanya pun terbuka.
Tapa brata Begawan Palasara akhirnya mampu di selesaikan oleh suara burung kecil yang meminta tolong karena ditinggal pergi induknya.
Sambil tersenyum Begawan Palasara mencoba menenangkan suara bayi burung yang sedang terlunta-lunta tersebut.
Karena merasa kasihan terhadap bayi burung itu, Begawan Palasara berdiri dari tempat dimana ia bertapa dan pergi mencari dimana induk burung kecil itu.
Dan ketika Begawan Palasara berada di tepi sungai, ia terkejut melihat sebuah perahu yang dikemudikan oleh seorang gadis.
Tanpa berfikir panjang Begawan Palasara menemui gadis itu dan bertanya kepadanya.

Sementara Gadis itu melihat dari jauh ada seorang pertapa yang sedang membawa sarang beserta burungnya mendekat,
Kemudian dari tepi sungai Begawan Palasara berjalan dan menghampiri gadis itu, lantas Begawan Palasara bertanya dimana induk anak burung yang ia bawa diatas tangannya.
Gadis itu hanya tersenyum sambil tertawa dengan suara pelan, kelihatannya gadis tersebut mengira pertapa tadi ingin minta di antar.
Begawan Palasara heran mengapa gadis tersebut menertawainya ?
Rupanya gara-gara menanyakan dimana induk anak burung itu, gadis tadi tertawa kepada Begawan Palasara.
Namun, Begawan Palasara tidak kesal karena memang sebab membawa sarang beserta anak burungnya memang agak lucu.
Senyum dan tawa gadis itu dibalas dengan senyum dan tawa pula oleh Begawan Palasara.
Lalu Begawan Palasara meminta pertolongan agar diantar ke tempat dimana induk anak burung terbangnya kemana, dengan senang hati gadis itu mengajak Begawan Palasara menumpangi perahu getek yang berada di samping gadis itu berada.


Gadis itu segera mengemudikan perahu geteknya dan menarik gayung yang terbuat dari batang bambu, kemudian Begawan Palasara menaiki perahu getek tadi dan berdiri disamping gadis pengendali perahu itu.
Ketika perahu berada ditengah sungai, tercium bau amis dari kulit gadis itu.
Begawan Palasara yang berada di sampingnya jadi heran, dalam hatinya ia bertanya mengapa gadis secantik bidadari ini berbau amis kulitnya ?
Gadis itu tahu bahwa bau amis tadi keluar dari kulitnya lewat keringat yang membasahi tubuhnya, sambil melirik gadis itu menahan malu karena ketahuan bau badannya amis seperti ikan.
Begawan Palasara melihat dari belakang merasa curiga dan ingin tahu apa yang sedang dialami gadis itu.
Dengan terpaksa Begawan Palasara meminta gadis itu berhenti mengayuh batang bambu yang dijadikan kemudi perahu, gadis itu bergetar hatinya setelah mendengar pinta sang wiku.
Dengan raut wajah yang agak malu' gadis itu bertanya mengapa minta pertapa itu minta berhenti di tengah sungai ?


Begawan Palasara lalu bertanya dari manakah bau amis itu keluar ?
Alangkah malunya gadis itu ketika ditanya soal bau amis yang keluar dari kulitnya, akhirnya gadis itu mengaku bahwa bau amis tersebut keluar dari tubuhnya.
Gadis itu berkata terus terang bahwa bau amis itu adalah penyakit yang dideritanya sejak dilahirkan.
Begawan Palasara merasa kasihan setelah mendengar apa yang diungkapkan gadis pengemudi perahu getek, lalu gadis tersebut menceritakan asal usulnya secara lengkap di hadapan Begawan Palasara.
Dan ketika gadis itu mengungkapkan rahasia yang menyebutkan bahwa dirinya terlahir sebagai manusia yang ber-ibukan seekor ikan, Begawan Palasara menarik nafasnya dalam-dalam sambil menyebut nama dewata.
Rupanya cerita yang disampaikan gadis itu membuat hati kecil Begawan Palasara prihatin dan tersentuh.

Lalu dengan inisiatifnya, Begawan Palasara ingin menolong gadis itu dengan menyembuhkan penyakit yang dideritanya.
Mendengar hal itu, gadis tersebut merasa berterima kasih dan bersyukur karena pertolongan yang telah lama dinanti sudah datang.
Kemudian Begawan Palasara segera mengheningkan cipta sambil mengucapkan mantra suci, seketika itu muncul aura ajaib keluar dari tubuhnya.
Gadis itu hanya bisa terdiam melihat sang wiku mengheningkan cipta, lalu setelah mengheningkan cipta' Begawan Palasara menyuruh gadis itu membuka kedua telapak tangannya.
Dengan khidmat proses pengobatan dilakukan, hanya dalam waktu beberapa saat saja bau amis tersebut hilang dan dalam sekejap bau amis itu berganti menjadi bau harum yang semerbak.
Lantas setelah bau amis itu hilang, gadis itu merasa seperti terlahir kembali dan mengucapkan terima kasih kepada Begawan Palasara.
Setelah mengucapkan terima kasih, gadis itu ingin mengantar Begawan Palasara kepada orang tua gadis tersebut untuk diperkenalkan.
Namun, Begawan Palasara menolak ajakan itu' karena saat itu juga ia harus mencari induk dari bayi burung yang ditinggal pergi.
Tetapi, karena hari sudah menjelang malam' kebetulan juga Begawan Palasara ingin beristirahat setelah beberapa hari melakukan tapa brata.
Akhirnya gadis itu mengajak Begawan Palasara kerumahnya untuk menginap sambil diperkenalkan kepada orangtua si gadis.

Sesampainya disana, Begawan Palasara hendak diajak masuk oleh gadis itu masuk kerumahnya' tetapi sang wiku tidak mau karena agak malu dan grogi.
Tetapi karena dipaksa akhirnya Begawan Palasara disuruh masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian gadis tersebut memanggil orangtuanya untuk menemui tamu.
Ketika orangtua si gadis muncul untuk menemui Begawan Palasara, gadis itu memberitahu kabar yang menggembirakan bahwa penyakit bau amis yang diderita sejak dulu akhirnya bisa disembuhkan.
Mendengar berita itu orangtua si gadis mengucapkan rasa syukur atas kemurahan hati dewata yang telah melepas penderitaan anaknya.
Kemudian orangtua si gadis menemui Begawan Palasara dan berterima kasih atas pengobatan yang berhasil menyembuhkan penyakit bau amis tersebut.
Lalu, ketika sedang bertatap muka dengan Begawan Palasara' orang tua si gadis memperkenalkan dirinya.
Pria tua yang menjadi orangtua gadis itu bernama Ki Dasabala, sedangkan gadis yang merupakan anak satu-satunya itu bernama Durgandini.

Durgandini adalah putri dari pasangan Prabu Basuparicara dengan Dewi Andrika.
Ia memiliki saudara kembar lain jenis kelamin yang namanya Durgandana, Durgandini sebenarnya ingin kembali ke Wirata andaikata penyakit bau amis yang dideritanya sembuh.
Namun gara-gara terpesona dengan ketampanan dan kharisma Begawan Palasara, ia mulai lupa akan rencana kembali ke Wirata.
Maka dengan tekad yang mantap, Durgandini bersedia menjadi istri Begawan Palasara.
Ki Dasabala terkejut setelah mengetahui apa yang dikatakan Durgandini, akhirnya tidak lama kemudian Ki Dasabala menikahkan Durgandini dengan Begawan Palasara.

(Selesai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar